Jembatan Kretek Dua Bakal Diimbangi Pengembangan Wisata
Produsen tahu di sentra produksi tahu Dusun Wonobroto, Tuksono, Sentolo, Senin (5/9/2016). (Harian Jogja/Sekar Langit Nariswari)
Industri tahu Kulonprogo membutuhkan kedelai impor
Harianjogja.com, KULONPROGO- Sejumlah produsen tahu di Sentra Tahu Sentolo, Kulonprogo mengaku terpaksa menggunakan kedelai impor sebagai bahan baku produksinya. Pasalnya, meski bersaing secara kualitas, jumlah kedelai lokal tidak mampu mencukupi kebutuhan setiap harinya.
Ponimin, Ketua Kelompok Tahu Murni Dusun Wonobroto Desa Tuksono, Sentolo mengatakan bahwa selama ini anggota kelompoknya menggunakan kedelai impor dalam sebagian besar produksinya.
“Pengennya pakai kedelai lokal tapi barangnya tidak ada,” jelasnya ketika ditemui di rumah produksinya, Senin (5/9/2016).
Menurutnya, kualitas kedelai impor dan lokal sebenarnya tidak jauh berbeda. Hanya saja, seringkali dalam kedelai impor terdapat campuran jagung. Sedangkan kedelai lokal biasanya masih terdapat campuran sedikit tanah. Selain itu, kedelai impor juga berukuran lebih besar sedangkan kedelai lokal lebih kecil karena biasanya cenderung dipanen lebih cepat.
Ia menguraikan bahwa kedelai impor sebenarnya lebih mahal sekitar Rp100 per kilogramnya dibandingkan harga kedelai lokal. Hanya saja bahan baku kedelai impor jauh lebih mudah ditemukan dan sudah memiliki pemasok tetap. Ponimin mengatakan bahwa harga kedelai lokal berkisar Rp6.800 per kilogram dan harganya bisa jauh lebih murah jika memasuki masa panen.
Karena kebutuhan akan kedelai yang cukup tinggi maka para produsen tahu ini benar-benar bergantung pada fluktuasi harga dollar. Namun, Ponimin mengatakan bahwa selama ini produsen tahu di daerahnya belum pernah benar-benar kesulitan kedelai meski dollar melejit naik.
Bersambung halaman 2
Setiap harinya, seorang produsen tahu di dusun ini membutuhkan kedelai sebanyak 500 kilogram sampai satu kuintal. Jumlah ini semakin meningkat di hari-hari tertentu ketika pesanan semakin banyak.
Padahal selama ini kebanyakan anggota kelompoknya hanya memproduksi tahu putih saja dan beberapa memproduksi tahu goreng. Sebagai sentra tahu, diperkirakan kebutuhan kedelai akan meningkat jika tahu tersebut diproduksi menjadi beragama kuliner.
Panut Hadi Santoso, Kepala Desa Tuksono mengatakan bahwa terdapat sekitar 120 industri rumah tangga produsen tahu yang berlokasi di Dusun Wonobroto. Jumlah ini belum termasuk jumlah pekerja yang ikut memproduksi di masing-masing rumah. Selama ini kebutuhan kedelai produsen tahu sudah tercukupi oleh pemasok dari Sentolo.
Sejauh ini, tahu produksi Dusun Wonobroto sudah dipasarkan ke sejumlah pasar-pasar besar di DIY. Meski demikian, ia mengakui bahwa popularitas tahu asal Sentolo masih belum bisa bersaing dengan tahu sumedang.
Pasalnya, produsen masih kesulitan memasarkan tahunya karena terbentur jangka waktu keawetan tahu. Selain itu, tahu-tahu ini juga belum ada yang merambah ke pasar-pasar modern karena sistem penjualannya yang dirasa masih belum sesuai dengan kemampuan produsen tahu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
IHSG hari ini ditutup amblas 3,54% ke level 6.094,94. Investor panik merespons rencana aturan eksportir tunggal BUMN di bawah PT Danantara.
Kurs rupiah hari ini ditutup melemah ke Rp17.667 per dolar AS imbas sinyal kenaikan suku bunga The Fed dan penutupan Selat Hormuz akibat perang.
Polres Temanggung tangkap penimbun Pertalite berinisial SS di Parakan. Pelaku modifikasi tangki Hyundai Atos dan gunakan banyak barcode palsu.
Penjualan hewan kurban di Bantul jelang Iduladha tidak merata, sebagian naik tajam, sebagian turun meski harga meningkat.
Nilai Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) di Jawa Tengah pada 2025 mencapai 86,72 atau mengalami peningakatan 0,88 dibandingkan tahun sebelumnya.