HARI SANTRI NASIONAL : Saatnya Ekonomi Pesantren Mandiri

Suasana talkshow rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) 2016 di Stadion Maguwoharjo, Depok, Rabu (26/10/2016). (Abdul Hamid Razak/JIBI - Harian Jogja)
27 Oktober 2016 19:20 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Hari Santri Nasional menjadi momentum bagi pesantren untuk membangkitkan ekonomi mandiri

Harianjogja.com, SLEMAN- Di sektor ekonomi, keberadaan pesantren sering diperbincangkan dalam forum. Bahkan banyak penelitian yang dilakukan agar pesantren bisa mandiri secara ekonomi.

Meski begitu, kata Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama wilayah DIY Jateng Mandzhur Labib, baik diskusi hingga penelitian itu belum mampu memberikan solusi konkret menjadikan pesantren mandiri secara ekonomi.

"Penguatan dan kemandirian ekonomi pesantren ini perlu dilakukan agar pesantren benar-benar bisa menjadi agen perubahan bagi masyarakat," katanya di sela talkshow optimalisasi peran pesantren menuju kedaulatan pangan, Rabu (26/10/2016).

Kegiatan yang merupakan rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) tersebut digelar di Stadion Maguwoharjo. RMI sendiri merupakan badan yang mewadahi 23.000 pesantren di Indonesia.

Menurut Mandzhur, untuk menjawab kemandirian ekonomi pesantren, pihaknya membentuk koperasi serba sembako (KSO) sebagai organ inti sektor riil perdagangan. KSO tersebut menjadi penyalur dan penyerapan komoditas pangan murah dan berkualitas.

"KSO sembako murah itu tidak hanya diakses pesantren tetapi juga masyarakat. Masyarakat bisa menjadi anggota dengan beragam keuntungan seperti point reward dan pendampingan," katanya.

Bersambung halaman 2

Sementara itu, pengusaha jamu Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan semangat kaum Nahdiyin untuk membangun kemandirian ekonomi cukup besar. Sayangnya, kata dia, banyak pesantren yang belum menerapkan pengelolaan ekonomi pesantren dengan baik.

"Kondisi tersebut menyebabkan ekonomi pesantren belum sepenuhnya kuat," katanya.

Menurut Irwan, untuk menguatkan kemandirian ekonomi pesantren harus menerapkan pengelolaan usahanya secara bisnis. "Pesantren harus kreatif, inovatif, memperkuat jaringan usaha (network) dan tidak perlu terpaku pada bantuan modal," katanya.

Selama ini, banyak pelaku UKM yang tidak bisa berkembang karena menunggu bantuan modal. Padahal, lanjut dia, perusahaan yang saat ini besar berjakan berkat usahanya sendiri.

"Selain prinsip-prinsip bisnis tadi, membangun kepercayaan konsumen juga ikut membesarkan bisnis yang dibangun. Networking toko-toko pesantren harus diperkuat untuk mewujudkan perekonomian pesantren," usulnya.

Sementara itu, Panitia Pelaksana Kegiatan Abu Choir mengatakan, di wilayah DIY dan Jateng terdapat sekitar 3.000 pesantren, 2.400 tersebar di Jateng dan 600 lainnya di wilayah DIY.

"Dari sejumlah itu, hanya ada beberapa pesantren yang secara ekonomi cukup mandiri. Kegiatan ini lebih pada upaya bagaimana seluruh pesantren di DIY dan Jateng dapat mandiri secara ekonomi," kata Sekjen RMI DIY-Jateng itu.