PENELITIAN WOLBACHIA : Direktur WHO/TDR Kunjungi Kandang Nyamuk EDP Jogja

Direktur the Special Programme for Research and Training in Tropical Diseases World Health Organization (WHO/TDR), John C Reeder mengunjungi insektarium Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta, Senin petang (3/4/2017). (IST - EDP Yogya)
03 April 2017 19:55 WIB Mediani Dyah Natalia Jogja Share :

Penelitian wolbachia mendapat apresiasi dari Direktur WHO/TDR

Harianjogja.com, JOGJA -- Direktur the Special Programme for Research and Training in Tropical Diseases World Health Organization (WHO/TDR), John C Reeder mengunjungi insektarium Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta, Senin petang (3/4/2017).

Bekti Andari, selaku Communication and Engagement Team Leader EDP Yogyakarta menyampaikan setelah melalui proses penelitian dan monitoring yang ketat, WHO menyatakan penelitian pengendalian demam berdarah dengue (DBD) menggunakan teknologi inovatif, merupakan teknologi pengendalian vektor yang potensial diterapkan di masa mendatang.

"Karena alasan ini, John yang fokus pada penelitian dan pelatihan terkait penyakit tropis mengunjungi EDP Yogya," terangnya seperti dikutip dari rilis yang Harianjogja.com terima pada Senin (3/4/2017).

Baca Juga : http://m.solopos.com/2017/03/22/penelitian-wolbachia-tahap-kedua-edp-jogja-lepas-7-300-ember-telur-aedes-aegipty-ber-wolbachia-803754">PENELITIAN WOLBACHIA : Tahap Kedua, EDP Jogja Lepas 7.300 Ember Telur Aedes Aegipty Ber-Wolbachia

Di insektarium yang menjadi dapur EDP Yogya, John menerima penjelasan tentang tata laksana penelitian. John juga meninjau langsung persiapan tim EDP Yogya menitipkan ember berisi telur nyamuk aedes aegypti. Proses yang dilakukan EDP Yogya paska-pelepasan wolbachia juga tak luput dari amatan John.

“Saya yakin bukan pekerjaan mudah untuk menjalankan penelitian ini di masyarakat,” ungkap John saat menerima pemaparan tentang strategi EDP Yogya dalam mengenalkan penelitian ke masyarakat.

Tahun lalu, Kelompok Penasehat Kontrol Vektor Organisasi Kesehatan Dunia (VCAG WHO) merekomendasikan metode pengendalian menggunakan bakteri Wolbachia sebagai alternatif pengendali demam berdarah dengue.

“Bahkan WHO telah merekomendasikan pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dalam skala besar di Brazil untuk menekan penularan virus Zika,” tutur Prof. Adi Utarini, peneliti utama EDP Yogya yang mendampingi John petang itu.

John berkunjung ke insektarium EDP Yogya pada rangkaian kunjungan seharinya di Fakultas Kedokteran UGM (FK UGM). Sejak tahun 2015 FK UGM telah ditunjuk oleh WHO/TDR sebagai salah satu dari tujuh universitas di dunia yang mengelola beasiswa paska-sarjana WHO/TDR dalam bidang riset implementasi.

Adapun sejak tahun 2010, Pusat Kedokteran Tropis FK UGM juga telah ditunjuk sebagai salah satu dari enam Regional Training Center (RTC) yang didukung oleh WHO/TDR untuk meningkatkan kapasitas penelitian kesehatan di wilayah Asia Tenggara.

“Sebagai RTC, kami tidak hanya menyelenggarakan pelatihan-pelatihan di tingkat Asia Tenggara namun juga pelatihan tingkat nasional dan lokal,” tutur dr. Riris Andono Ahmad, Direktur Pusat Kedokteran Tropis yang terlibat langsung dalam penelitian EDP Yogya.

Sekadar diketahui, EDP Yogya adalah kegiatan penelitian pengendalian demam berdarah dengue (DBD) yang dilaksanakan oleh Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran UGM dan didanai oleh Yayasan Tahija. Penelitian yang dimulai sejak 2011 ini berfokus pada bakteri alami Wolbachia yang dapat menghambat perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.