EKONOMI KREATIF : Pertahankan Pembuatan Topeng Kayu Turun-Temurun

Ramaditya Nugrahanto (kiri) dan Adrianto Priyo Sembodo (kanan) (Holy Kartina N.S./JIBI - Harian Jogja)
09 April 2017 12:22 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Ekonomi kreatif berikut mengenai sentra topeng kayu

Harianjogja.com, JOGJA-Salah satu daerah yang terkenal sebagai sentra pembuatan topeng kayu adalah Dusun Bobung, Putat, Patuk, Gunungkidul. Beragam topeng diproduksi, mulai dari topeng tari, topeng cat, sampai topeng klasik.

Pekerjaan sebagai pengrajin topeng hampir dilakoni oleh semua keluarga di Bobung ini. Ada sekitar 130 pengrajin yang masih aktif sampai saat ini. Antara suami, istri, dan bahkan anak-anak, saling berkolaborasi menciptakan karya indah yang tertuang dalam topeng kayu.

Suami sebagai kepala keluarga bertugas membuat pola dan mengukir kayu. Sementara para istri bertugas membatik dan mengecat kayu. "Kalau anak-anak setiap pulang sekolah bantu produksi juga. Sejak kecil mereka kita ajarkan [membuat topeng] agar bagaimana caranya kerajinan topeng ini tetap dilestarikan," kata Supriyadi, pemilik kerajinan topeng kayu Indah Karya, saat ditemui Harian Jogja dalam pameran produk binaan PT Angkasa Pura 1 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, belum lama ini.

Ia bersama istrinya, Harmini, bertekad mempertahankan kemampuan mereka dalam seni membuat topeng kayu. Keduanya sudah menjalani pekerjaan itu sejak 1995 dan mengawali produksi dengan pembuatan topeng untuk penari.

Ada beberapa tokoh topeng yang mereka ciptakan, di antaranya Galuh Condrokirono, Panji Asmorobangun, dan masih banyak lagi. Kebutuhan topeng tari muncul seiring kemunculan beberapa seniman tari di desa itu.

Karena kebutuhan topeng tari tidak banyak, akhirnya ia mengembangkan pada topeng batik untuk hiasan, suvenir, dan cinderamata. "Kita selalu berinovasi. Kita buat topeng batik kelas baik atau kelas A, kelas menengah dan biasa yang dibedakan dari tingkat kehalusan. Kalau kelas yang paling tinggi, detailnya banyak," katanya.

Topeng kelas A dijual Rp200.000, kelas menengah Rp125.000, dan biasa Rp75.000. Selain itu, pasutri dua anak ini juga memproduksi rekal atau tempat baca buku dan alquran seharga Rp75.000, box tishu, tempat air mineral kemasan gelas, mainan dakon, dan masih banyak lagi.

Topeng kayu produksinya dikirim ke berbagai kota di Indonesia dan paling banyak dipasarkan ke Jakarta. Kayu yang dibutuhkan adalah sengon, kayu pule, dan terbelopuso. Supriyadi mengatakan, ia mengalami kendala dalam hal bahan baku yang semakin langka. Ia pun beruntung karena dengan menjadi desa binaan PT Angkasa Pura 1, ia mendapat bantuan bibit kayu sengon. "Bagi kami, tebang satu, tanam 10," kata pria 44 tahun ini.

Dengan perhatian pemerintah dan beberapa perusahaan, ia berharap kerajinan topeng kayu dapat bertahan lama.