DIY-Prancis Bekerjasama Kembangkan Industri Kreatif

Gubernur DIY, Sultan Hamengkubuwono X saat memberikan kuliah umum mahasiswa baru STIPRAM di Hotel Sahid Raya, Babarsari, Sleman, pada Senin (8/8/2016). (Irwan A. Syambudi/JIBI - Harian Jogja)
03 Mei 2017 19:20 WIB Sunartono Jogja Share :

Duta Besar Prancis untuk Indonesia Jean Charles Berthonnet mengunjungi Gubernur DIY Sri Sultan HB X

Harianjogja.com, JOGJA - Duta Besar Prancis untuk Indonesia Jean Charles Berthonnet mengunjungi Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Gedung Wilis Kompleks Kepatihan, Rabu (3/5/2017) pagi.

Prancis sengaja melirik DIY karena memiliki banyak industri kreatif dan keduanya sepakat mengembangkan kerjasama di bidang tersebut.

Jean Charles menjelaskan, Indonesia dan Prancis telah menyepakati kerjasama di bidang industri kreatif dalam kunjungan presidennya ke Indonesia beberapa waktu lalu.

Dalam suatu kesempatan, ia pernah berdiskusi dengan HB X hingga mendapatkan informasi, bahwa Jogja memiliki banyak potensi industri kreatif di berbagai bidang. Karena itulah, ia perlu melakukan pembahasan lebih detail.

"Bahkan sudah ada perusahaan Prancis yang beroperasi di Jogja di bidang permainan digital yaitu Gameloft yang telah mempekerjakan ratusan pekerja dari Jogja," kata ungkapnya di Kepatihan seusai pertemuan, Rabu (3/5/2017).

Ia mengakui dalam pertemuannya dengan HB X ia membahas pengembangan kerjasama industri kreatif. Selain itu, membicarakan kerjasama lain khususnya bidang perfilman dan seni pertunjukan.

Bahkan DIY dan Prancis, dalam beberapa tahun ke depan berencana mengadakan festival yang memperkenalkan kebudayaan Indonesia khususnya Jogja di Prancis. "Benar sekali kami banyak membicarakan banyak hal di bidang kebudayaan," ujarnya.

Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan, di Gameloft Indonesia yang bergerak di bidang pembuatan permainan animasi saat ini mampu menyerap sekitar 800 tenaga kerja.

Ia berharap, ke depan perusahaan itu bisa menjadi kader untuk mengembangkan animasi di Jogja. Sebagai dukungan, lanjutnya, pihaknya memfasilitasi studio para pelaku industri kreatif animasi untuk membuat produk sendiri.

Sehingga mereka punya potensi memproduksi tidak sekedar menjadi sub program yang selama ini bekerjasama dengan Singapura dan Malaysia. "Tetapi sifatnya hanya sebagai sub contracting, kalau disediakan fasilitas itu akhirnya mereka bisa jadi produsen. Kalau hanya sub, nama dia tidak pernah akan ada," ucapnya.

Berkaitan dengan kebudayaan, HB X berharap, lembaga kebudayaan Prancis yang ada di Jogja dapat bekerjasama dengan Pemda DIY. Sehingga aspek kerjasama bisa diperluas, seperti potensi fashion yang juga bisa datang dari kreativitas.

"Kalau Prancis ahlinya mungkin banyak untuk memberikan training di sini, bidang fashion, lukis, kolaborasi seniman Prancis dengan Jogja, setiap tahun kita selenggarakan pameran, lukisan, setiap tahun datangkan dari negara tertentu," ungkapnya.