Celengan Bambu Ini Terinspirasi dari Tiang Rumah Jawa

Ameng Suprapto menunjukkan beberapa celengan bambu yang dilebeli dengan merek AAA Collection saat dipamerkan dalam sebuah acara di Alun-alun Pakualaman. (Holy Kartika N.S/JIBI - Harian Jogja)
17 Mei 2017 19:55 WIB Holy Kartika Nurwigati Jogja Share :

Cerita masa kecil menginspirasi Ameng Suprapto untuk membuat celengan bambu.

 
Harianjogja.com, JOGJA- Rumah Joglo di pedesaan, umumnya menggunakan bambu sebagai tiang penyangga bangunan rumah. Tak hanya difungsikan sebagai penyangga, orang desa bahkan sering memanfaatkan tiang tersebut sebagai tempat menyimpan uang. Cerita masa kecil inilah yang kemudian menginspirasi Ameng Suprapto untuk membuat celengan bambu.

Ameng, demikian biasa laki-laki paruh baya ini disapa, mencoba mengulik lagi kenangan masa lalunya saat tiang penyangga rumahnya dulu biasa digunakan kedua orang tuanya untuk menyimpan uang.

"Tiang bambu itu lalu dicongkel [dilubangi] sedikit dan orang tua saya memasukkan beberapa uang untuk disimpan di tiang tersebut," ujar Ameng kepada Harianjogja.com, baru-baru ini.

Bagi masyarakat desa, tiang bambu menjadi tempat yang aman untuk menyimpan uangnya. Kini, melalui inspirasi tersebut, Ameng membuat celengan bambu yang sudah merambah pasar mancanegara.

Kendati merupakan produk sederhana, namun celengan yang dilabeli dengan nama AAA Collection ini justru diminati kalangan kelas atas. Tampilan unik dan klasik, membuat konsumen menengah atas tertarik, bukan untuk difungsikan sebagai tempat menabung.

"Awalnya mereka kebanyakan tertarik karena unik dan untuk dijadikan suvenir. Berbeda dengan konsumen anak sekolah yang lebih memanfaatkan sebagai celengan," ungkap Ameng.

Celengan bambu dengan ukuran wayang, batik hingga hiasan unik lainnya bukan bisnis pertama yang dijalankan Ameng. Sebelumnya, Ameng juga memulai beberapa bisnis lainnya. Namun, keunikan bambu menarik dia untuk lebih mengembangkan bisnis ini.

Dalam satu bulan, Ameng mengaku dapat memproduksi sekitar 1.000 buah celengan dengan berbagai ukuran. Bermodalkan sisa usaha sebelumnya yakni sebesar Rp7,5 juta Ameng memulai bisnisnya sejak tiga tahun lalu.

Kini, usaha ini tak lagi dikerjakannya sendiri, tetapi bersama beberapa karyawan yang khusus memotong bambu, mengukir dan finishing.

Celengan bambu produksi Ameng tak hanya dipasarkannya sendiri, baik melalui pameran yang diselenggarakan pemerintah maupun dijual secara mandiri. Sejumlah pedagang juga memesan celengan bambu miliknya, untuk dijual kembali.

"Satu batang bambu biasanya bisa jadi 15 jenis celengan. Saya menjualnya sebagai suvenir mulai dari Rp5.000 sampai Rp30.000," imbuh Ameng.