RAMADAN 2017 : Tari Rodat, Perpaduan Musik, Syair dan Dzikir

29 Mei 2017 13:30 WIB Sekar Langit Nariswari Sleman Share :

Keindahan ibadah puasa Ramadan menukilkan pesona Tari Rodat di Masjid Pathok Negoro Plosokuning

 
Harianjogja.com, SLEMAN- Keindahan ibadah puasa Ramadan menukilkan pesona Tari Rodat di Masjid Pathok Negoro Plosokuning di Minomartani, Ngaglik, Sleman. Tarian dengan ragam gerakan hingga 19 jenis ini merupakan kesenian pengantar syiar yang tak lekang dimakan zaman.

Tarian dimulai ketika sekelompok pria ini mulai membungkukkan badan dan terucapkan salam. Berbekal kipas di tangan, 18 pria duduk bersimpuh dan kemudian mulai memperagakan sejumlah gerakan.

Gerakan ini disambut dengan lantunan syair sarat makna islami ini. Mengenakan peci hitam di kepala yang selaras dengan sarungnya, para pria berkemeja koko putih ini tampak khusyuk, beberapa bahkan memejamkan matanya pertanda menjiwai gerak dan nada.

Di sisi kanan dan kirinya, ada 3 pemain rebana, 1 beduk, dan 2 pria yang melantunkan syair-syair pujian pada Tuhan Maha Pencipta. Setiap gerakan tarian ini diketahui dinamakan ssuai syair yang disenandungkan seperti Wasilah, Likhumsatun, dan Assolah. Gerakannya halus, tertata sesuai irama syair yang dikumandangkan.

Jeda beberapa saat, penari pria yang didominasi berusia paruh baya ini menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri sembari melambaikan kipasnya.

“Gerakan kipas itu pertanda membersihkan diri dan menghalau hal negatif dari diri,”ujar Kamaludin Purnomo, takmir masjid tersebut pada wartawan, Minggu(28/5/2017).

Rodat, demikian tarian ini dinamakan, merupakan kekayanaan budaya Islami yang memadukan kesenian burdah dan tari Saman khas Aceh.

Kamaludin menguraikan tak ada ikhwal pasti nama tarian ini namun kemungkinan judulnya diambil dari kata Irodah yang bermakna kehendak Allah. Bisa pula dari kata Raudhah, ruangan di Masjid Nabawi yang konon kerap menjadi lokasi Nabi Muhammad SAW berdoa, memimpin shalat bahkan menerima wahyu.

Untuk gerak dan syairnya, Rodat memadukan Saman dengan dzikir dan gerakannya beserta Burdah dengan dzikir, musik, dan syairnya.

Kreasi ini, ujar Kamaludin, merupakan peninggalan leluhur sejak Hamengku Buwono I sebagai bekal syiar agama Islam selain dari Masjid Plosokuning ini. Tarian ini, kala itu, kerap ditampilkan di hari-hari besar Islam dan berlanjut sampai saat ini.

Selain syiar, dipercaya pula jika tarian yang harus ditarikan oleh laki-laki dewasa ini juga bermanfaat sebagai tolak bala dan mengandung nilai perjuangan melawan penjajah Belanda.

Ketua Kelompok Rodat Masjid Plosokuning, Asngari mengatakan jika tak ada batasan jumlah penari yang bisa ikut serta dalam penampilannya. “Semakin banyak semakin baik, sifatnya kolosal,” katanya.

Para penari tersebut merupakan jamaah dari masjid ini yang berasal dari kampung sekitar. Rombongan ini rutin berlatih setiap malam Selasa meski dengan jumlah personil yang berbeda-beda.

Ia menjelaskan jika tarian ini sebenarnya banyak ditampilkan oleh jamaah masjid lainnya di daerah yang berbeda. Hanya saja, tak ada gerakan yang sama persis karena semuanya mengambil ilham dari kebudayaan lokal daerahnya masing-masing.

Sampai saat ini, kelompok ini sudah kerap menerima undangan tampil dari berbagai pondok pesantren dan kampus di seputar Jogja. Undangan ini biasanya meningkat memasuki Bulan Ramadan meski kelompok ini berjanji akan semakin sering menampilkan tarian ini di Masjid Plosokuning ini setiap kali senggang dan menyambut waktu berbuka puasa.