Dari Jelantah, Warga Panggungharjo Hasilkan Rp70 Juta Per Bulan

Penanggung jawab pengolahan minyak di Panggungharjo, Sewon mengenalkan minyak olahan untuk bahan bakar. (Herlambang Jati Kusumo/JIBI - Harian Jogja)
28 Desember 2017 18:55 WIB Herlambang Jati Kusumo Bantul Share :

Minyak goreng bekas atau jelantah di Desa Panggungharjo diolah menjadi bahan bakar

Harianjogja.com, BANTUL- Minyak goreng bekas atau sering disebut jelantah sering dianggap banyak orang sebagai bahan yang tidak bisa lagi terpakai, atau beberapa oknum yang curang mengakali agar minyak goreng bekas yang seharusnya tidak layak untuk dipakai menggoreng lagi, tetap digunakan menggoreng.

Berbeda dengan desa Panggungharjo, Sewon di Badan Usaha Milik Desanya mereka kembali memanfaatkan minyak goreng bekas itu, tetapi tetap aman.

Berawal dari keprihatian Kepala desa, Panggungharjo, Sewon, Wahyudi Anggoro Hadi atas isu kemanusian menjadi pemicu ide pengolahan limbah minyak goreng itu.

"Terkait pemanfaatan minyak goreng bekas, tidak hanya isu lingkungan. Ada isu lain lagi lebih urgent, yaitu isu kemanusiaan," katanya.

Hal itu dikarenakan masih ada oknum-oknum nakal yang mengolah kembali minyak yang tidak layak untuk membuat bahan konsumsi tapi oleh para penjual atau pengolah minyak tersebut kembali dijual ke pasar-pasar tradisional sebagai minyak goreng yang pada dasarnya konsumennya masyarakat berpenghasilan rendah.

Bahan makanan yang diolah dengan minyak goreng bekas itu tentu saja tidak sehat untuk manusia. Anggoro menilai saat ini penyakit masyarakat kebanyakan bukan penyakit menular, namun penyakit yang tidak menular. Salah satu penyebabnya konsumsi mereka bercampur dengan sesuatu hal yang tidak sehat itu.

"Melihat hal tersebut kami mencoba mengurangi hal semacam itu dengan mengolahnya sebagai sesuatu nilai guna yang lebih bermanfaat atau berkontribusi. Dengan mengolahnya sebagai bahan bakar," ujarnya.

Sejak tahun 2015 usaha pengolahan limbah tersebut telah dipercaya perusahaan besar Danone sebagai pemasok bahan bakar, yang dtahun sebelumnya juga telah dilakukan test untuk menyesuaikan spesifikasi produk yang mereka inginkan.

Saat ini sendiri setidaknya Rp70 juta/bulan sebagai omzet desa tersebut. Permintaan minyak tersebut sayangnya baru bisa terpenuhi sekitar 10.000 liter/bulan dari yang dibutuhkan perusahaan itu sekitar 150.000 liter/bulan.

Kendala yang dihadapi yaitu pasokan bahan baku yang masih kurang. Menurut Anggoro pihaknya harus bersaing dengan para oknum pedagang yang curang, yang sering mengolah sebagai minyak goreng lagi. Dikatakan olehnya para pedagang itu berani membayar mahal untuk mendapatkan minyak bekas itu, untuk diolah dan dijual lagi.

Dirinya berharap para pemilik hotel, dan restoran dapat bekerjasama untuk tidak memberikan, membuang atau menjual minyak bekas pada para pengolah minyak yang digunakan ataupun dijual untuk menggoreng kembali. Menurutnya hotel dan restoran seharusnya memiliki kewajiban membantu melindungi para konsumen.