Ruang Baca Tunanetra di Perpustakaan Kota Jogja Sepi Pengunjung

09 Maret 2018 06:20 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Ruang layanan Blind Corner Untuk Anda (Belinda) merupakan tempat khusus bagi penyandang tunanetra

Harianjogja.com, JOGJA--Ruang layanan Blind Corner Untuk Anda (Belinda) merupakan tempat khusus bagi penyandang tunanetra dan low vision yang ada perpustakaan Kota Jogja. Meski tampak sepi, tapi hal itu tidak menjadi dasar minat baca penyandang tuna netra dan low vision rendah.

Saat Harianjogja.com pada Rabu (7/3/2018) memantau ruangan Belinda yang lokasinya berada di lantai satu bagian utama ruang baca Perpustakaan Kota Jogja, tampak hanya dua pemustaka yang sedang membaca. Namun keduanya bukan penyandang disabilitas netra maupun low vision.

Kepala Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Perpustakaan Kota Jogja Nunun Zulaikha mengaku tidak setiap hari penyandang disabilitas netra maupun low vision datang ke perpustakaan Kota Jogja. Menurutnya hal itu dikarenakan adanya keterbatasan fisik.

"Karena keterbatasan itu, kalau mereka [penyandang disabilitas netra dan low vision] ke sini jadi dibutuhkan pendamping," ujarnya saat ditemui di gedung Perpustakaan Kota Jogja, Rabu (7/3/2018).

Nunun mengatakan sepinya ruang layanan Belinda bukan patokan minat baca penyandang disabilitas netra dan low vision rendah. Ia mengungkapkan koleksi di ruang Belinda dimasukan dalam layanan perpustakaan keliling. Layanan itu yang kemudian mengantar koleksi buku Belinda ke sekolah-sekolah yang memiliki siswa tunanetra dan low vision.

"Layanan keliling ini menyasar ke sekolah-sekolah yang memang memiliki siswa tunanetra, seperti Hellen Keller dan Yayasan Yeketunis, dan permintaan buku dengan beragam koleksi di sana cukup tinggi," ujarnya.

Hal itu lanjutnya menunjukan minat baca penyandang disabilitas netra dan low vision tinggi.

Kepala Seksi Pelestarian Koleksi Pustaka Perpustakaan dan Naskah Kuno Kota Jogja Ismawati Retno mengungkapkan pelayanan Belinda lebih sering mendatangi penyandang tunanetra dan low vision.

Hal ini dikarenakan pihaknya memahami kondisi fisik penyandang tunanetra dan low vision yang terbatas. "Kami lakukan jemput bola," ujarnya.