Kasus Kekerasan Anak di Gunungkidul Capai 50 hingga Juli
Kasus kekerasan anak di Gunungkidul mencapai 50 kasus hingga Juli 2026. Dinas Sosial P3A memperkuat upaya pencegahan di masyarakat dan sekolah.
Sejumlah siswa SD Seropan saat mengerjakan soal USBN di ruangan yang telah lama tidak dipakai, Kamis (3/5/2018)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, BANTUL -- Sedikitnya 17 murid SD Seropan di Desa Muntuk, Dlingo, terpaksa melaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) 2018 di tempat seadanya. Hal ini terjadi karena gedung utama sekolah rawan longsor sehingga lokasi dipindah ke ruangan kelas yang lama tidak dipakai.
Kondisi yang digunakan untuk ujian jauh dari kelas standar. Hal ini lantaran, kondisi pintu yang sudah mengelupas dan bagian atap tidak ada plafon yang menaungi para siswa. Keadaan darurat yang dialamai para siswa tidak hanya pada saat ujian berlangsung, tetapi kondisi ini sudah terjadi sejak empat bulan yang lalu dan mereka harus melaksanakan proses pembelajaran di tempat darurat.
Kepala Sekolah SD Seropan Wagiran mengatakan pelaksanaan ujian di tempat darurat karena sekolah masuk zona rawan longsor karena terdampak cuaca ekstrem yang terjadi di akhir tahun lalu. Saat itu, kata dia, gedung utama sekolah ambles dan rawan longsor. “Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, kegiatan belajar mengajar di pindah ke kelas darurat di halaman sekolah,” kata Wagiran kepada wartawan, Kamis (3/5/2018).
Menurut dia, sesuai rencana gedung sekolah akan dipindah ke tempat lebih aman. Kendati demikian, proses perpindahan belum bisa dilakukan karena pembangunan yang masih berlangsung. “Kemungkinan September baru bisa pindah. Jadi untuk sementara harus belajar di kelas darurat,” katanya.
Disinggung mengenai pelaksanaan ujian yang menggunakan ruang kelas yang lama tidak dipakai, Wagiran mengakui hal tersebut terpaksa dilakukan. Ini lantaran jika memaksa menggunakan kelas untuk pembelajaran bisa menyalahi aturan. “Memang lokasi yang digunakan untuk ujian kurang layak, tetapi dari sisi keamanan lebih baik ketimbang di gedung utama milik sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang peserta ujian, Selly Listya mengatakan tetap semangat menempuh ujian di tempat yang seadanya. Ia berharap pelaksanaan ujian dapat berjalan dengan lancar sehingga dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. “Semoga nilai yang saya peroleh bagus,” katanya.
Selly menambahkan sebelum ujian dilaksankaan sekolah juga menyediakan sarapan berupa nasi kotak sebagai bekal untuk mengerjakan soal-soal. “Kami sarapan dulu, setelah selesai masuk ke ruangan untuk mengerjakan soal-soal,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus kekerasan anak di Gunungkidul mencapai 50 kasus hingga Juli 2026. Dinas Sosial P3A memperkuat upaya pencegahan di masyarakat dan sekolah.
Harga ayam dan telur mulai naik seiring program MBG kembali berjalan. Dapur SPPG diminta membeli bahan baku langsung dari peternak.
Kemenkeu menyiapkan pertemuan dengan pimpinan BI usai Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Pemkab Kulonprogo mengeluhkan minimnya keterlibatan dalam program MBG dan menyoroti sebaran SPPG yang belum merata di wilayahnya.
Kabupaten Bantul akan memasok 250 ton sampah per hari untuk mendukung operasional PSEL Piyungan yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2028.
Xpeng melakukan recall 33.473 unit X9 di China akibat potensi kebocoran pada suspensi udara depan. Perbaikan gratis akan dimulai pada 28 Agustus 2026.