Kamu Lulusan SMA/SMK dan Ingin Kerja di Dunia Penerbangan? Ada Info Menarik nih!
Saat ini Super Air Jet sedang memberikan peluang menarik untukmu untuk bergabung menjadi Super Crew di dunia penerbangan.
Ilustrasi wisuda mahasiswa. (Reuters/Fabian Bimmer)
Harianjogja.com, JOGJA--Dari 7.500 dosen perguruan tinggi swasta (PTS) di DIY, masih ada 500 dosen yang belum berpendidikan S-2. Salah satu alasannya adalah ketiadaan program studi S-2 yang berkaitan dengan pendidikan sebelumnya.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V DIY Bambang Supriyadi mengatakan ada aturan pada akhir 2015 semua dosen harus memiliki ijazah S-2 agar bisa mengajar di perguruan tinggi. Setelah itu muncul Surat Edaran (SE) bagi yang saat itu sedang menempuh pendidikan S-2 masih dimungkinkan bisa mengajar.
Namun ia menyayangkan SE tersebut tidak disertakan klausul lama waktu kuliah sehingga membuat banyak dosen yang belum menyelesaikan studi S-2.
Bambang mengakui sejak adanya aturan dosen wajib S-2 tersebut, PTS di DIY langsung mendorong para dosennya untuk kuliah lagi. "Waktu itu rupanya banyak yang ambil kuliah. Terdata ada 1.000 [dosen yang kuliah S-2], tetapi sampai awal 2018 ini yang sudah lapor kalau lulus [S-2] baru 500 dosen," kata Bambang, Senin (12/11/2018).
Beruntung, karena ada perguruan tinggi yang mengeluarkan aturan akan men-drop out (DO) mahasiswa S-2 yang menjalani pendidikan lebih dari empat tahun. Bambang mendorong 500 dosen tersebut untuk segera menuntaskan pendidikannya.
Bambang mengatakan banyak hal yang melatarbelakangi para dosen tidak menempuh S-2. Selain faktor usia yang sudah lanjut, juga karena kesulitan mencari program studi S-2 yang sesuai dengan bidangnya. Di DIY, hal ini terjadi di Akademi Maritim Yogyakarta.
Untuk kasus seperti ini, solusinya ialah menggunakan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). "Misal seorang kapten kapal punya pengalaman banyak dan materi yang dimilikinya sangat bermanfaat atau sesuai kurikulum yang ada, nah pengalaman ini bisa diajukan sehingga bisa disetarakan dengan ijazah S-2," jelasnya.
Bambang mengatakan setiap program studi membutuhkan minimal enam dosen sementara di DIY memiliki 615 prodi. Kebutuhan minimal sebanyak 3.690 tersebut telah terpenuhi karena posisi jumlah dosen di DIY saat ini sudah mencapai 7.000 orang. Kendati demikian, ia tetap mendorong 500 dosen tersebut untuk segera menuntaskan pendidikannya mengingat ada program studi yang memiliki banyak mahasiswa sehingga membutuhkan banyak pengajar.
"Awal 2020, 500 dosen itu harus bisa lulus. Kalau tidak akan menjadi masalah," katanya.
Sementara itu peraturan bahwa dosen harus S-2 sudah dipenuhi Universitas Ahmad Dahlan (UAD). "Kalau di UAD kompetensi dosen minimal S-2 sehingga semua sudah S-2," kata Kepala Bidang Humas dan Protokol UAD, Ariadi Nugraha.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Saat ini Super Air Jet sedang memberikan peluang menarik untukmu untuk bergabung menjadi Super Crew di dunia penerbangan.
Tiket Timnas Indonesia vs Oman dan Mozambik resmi dijual mulai Rp300 ribu dengan kapasitas GBK terbatas.
OpenAI dikabarkan menyiapkan integrasi ChatGPT dan PowerPoint berbasis suara untuk membuat presentasi otomatis lebih cepat.
Rupiah melemah ke Rp17.698 per dolar AS di tengah sikap wait and see investor terhadap sentimen global dan data ekonomi RI.
Ponsel terasa lemot setelah dipakai lama? Ini penyebab utama smartphone melambat dan cara sederhana mengatasinya.
BYD Atto 3 generasi ketiga resmi meluncur dengan RWD, cas 5 menit hingga 70 persen, dan jarak tempuh sampai 630 km.