Mesin Pemanen dari Korea Diperkenalkan ke Petani Bantul

Tim penguji dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM menunjukkan cara kerja mesin Combine Harveater Kioti kepada para petani di Bulak Nglaren, Desa Potorono, Bantul, Rabu (28/11/2018). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
28 November 2018 19:20 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengenalkan traktor dan mesin pemanen berkapasitas besar kepada para petani di Bulak Nglaren, Desa Potorono, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Rabu (28/11/2018).

Mesin pemanen bertipe Combine Harvester Kioti DSF75 dan berbahan bakar solar itu diklaim mampu memanen padi seluas 2-3 hektare dalam sehari atau selama kurang dari delapan jam tanpa penyusutan. Padahal biasanya jika panen dikerjakan secara manual, petani memerlukan waktu hingga sepekan untuk lahan setengah hektare.

Dalam proses uji coba, mesin pemanen dengan kapasitas isi tabung empat kuintal gabah itu bisa mengantikan empat pekerjaan petani sekaligus saat masa panen, mulai dari memotong padi, menangkut, memisahkan padi dengan jerami, sampai memasukkan gabah yang sudah terpisah dengan jerami ke dalam karung. "Padi yang terbuang pun sedikit hampir tidak ada. Jadi susut panen sangat kecil," kata Kepala DTPB Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Bambang Purwantana.

Bambang mengatakan tak bisa dipungkiri masa depan pertanian adalah mekanisasi atau semuanya sudah harus beralih ke mesin. Kemajuan teknologi itu merupakan sebuah keniscayaan sehingga petani mau tidak mau harus menugasai teknologi pertanian.

Proses pengolahan tanah dilakukan dengan mesin traktor. Mesin traktor yang dikendlikan dengan tangan dan didorong saat ini sudah banyak yang beralih dengan mesin roda empat yang dikendalikan dengan tombol-tombol otomatis.

Menurut dia sebenarnya sudah banyak mesin pemanen padi maupun traktor yang sudah digunakan petani, terutama mesin dengan kapasitas kecil. Namun untuk mesin kapasitas besar dengan roda empat masih jarang kecuali di daerah-daerah yang lahan pertaniannya masih luas. "Mesin panen kapasitas kecil buatan lokal saya kira sudah banyak," kata dia.

Mesin panen berkapasitas besar belum banyak lantaran harganya yang memang cukup mahal mencapai Rp500-600 juta. Mesin berkapasitas sedang harganya di kisaran Rp300-400 juta, sedangkan mesin dengan kapasitas kecil harganya berkisar Rp70-100 jutaan. “Termasuk mesin ini [Combine Harvester Kioti] yang dibanderol mencapai Rp500 jutaan.”

Combine Harvester Kioti DSF75 merupakan mesin pemanen padi buatan Daedong, perusahaan asal Korea. Mesin tersebut masih diujicobakan dengan menggandeng Seoul National University dan UGM untuk pengujian di Indonesia. Pihak perusahaan masih membutuhkan banyak masukan dalam proses pembuatan mesin pemanen tersebut.

Namun untuk produk traktor dari perusahaan yang sama sudah banyak dijual. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia sudah banyak digunakan”. Khusus untuk Combine Harvester, sejauh ini memang belum didistribusikan di Indonesia sehingga belum ada suku cadangnya. Sekarang masih ujicoba masih disempurnakan," kata Yeo In-Cheol, salah satu dari tim penguji dari Daedong.

Salah satu petani Edi Susanto mengaku di kelompok taninya di Potorono sudah memiliki satu mesin pemanen kecil yang berukuran 1,2 meter sejak setahun lalu. Dia mengaku petani sangat terbantu dengan adanya mesin pemanen karena bisa menghemat biaya pengeluaran sampai 50%

“Tenaga atau operator mesinnya yang masih minim. Dari sembilan kelompok tani di Desa Potorono, yang bisa mengoperasionalkan mesin pemanen kurang dari enam orang," ucap Edi.