Angka Golput di Pilpres 2019 Diprediksi Bakal Tinggi, Ini Alasannya

Jumpa pers Hicon Law & Policy Strategic - Ist
19 Desember 2018 17:50 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Lembaga Hicon Law & Policy Strategic memprediksi ada tiga kelompok yang berpotensi tidak memilih atau golongan putih (golput) pada Pilpres 2019 mendatang.

Kepala Departemen Politik Hicon, Puguh Windrawan menjelaskan ketiga kelompok tersebut adalah Kelompok pro Ahok yang kecewa terhadap pilihan cawapres Jokowi, yaitu Maruf Amin, penggiat Hak Asasi Manusia (HAM) yang kecewa terhadap pemerintahan Jokowi, dan tidak mungkin memilih Prabowo karena masa lalunya.

"Yang ketiga adalah penggiat gender, yang merasa bahwa visi misi kedua paslon belum terlalu memihak kesejahteraan perempuan," ujarnya dalam diskusi media di salah satu Cafe di wilayah Sleman, Selasa (18/12/2018).

Lebih lanjut, ia mengatakan, angka golput akan semakin tinggi jika strategi kampanye yang diusung oleh kedua pasang capres-cawapres, belum mengarahkan kampanye ke tiga agenda, yaitu penegakan hukum, penegakan hak asasi manusia, dan isu gender.

"Kalau bicara angka, kami memprediksi angka golput tak akan jauh dari 29-30%," ungkapnya

Ia menambahkan, pihaknya memprediksi pada Januari hingga April, pemilu akan dinamis, sebab kedua pasang pendukung paslon capres-cawapres akan cenderung agresif.

"Konsentrasi massa akan digunakan untuk kampanye karena terbukti menaikkan elektabilitas pasangan calon no 2 sehingga akan rentan konflik di akar rumput," ujarnya.

Sementara itu, Allan FG Wardhana, Kepala Departemen Hukum HICON Law and Policy Strategic, mengatakan dari hasil mapping, pihaknya menemukan dua isu politik yang masih kuat pada pilpres 2019 mendatang, yaitu politik uang dan politik SARA.

"Bawaslu dan KPU sangat kerepotan mengatasi dua isu ini. Padahal dua isu ini sentral, namun tidak pernah selesai. Instrumen hukumnya juga lemah," katanya.

Menurutnya, golput bisa dipengaruhi oleh dua isu tersebut. Karena kampanye menggunanan isu SARA akan membuat orang tidak percaya dengan visi-misi paslon yang diusung karena terus digempur, dan politik uang juga jadi pemicunya.

"Padahal kedua paslon memiliki visi-misi yang bagus," ujarnya.