Hasil Riset Dosen Didorong Bisa Menjadi Produk yang Bermanfaat Bagi Masyarakat

Sejumlah mahasiswa mensimulasikan letusan gunung berapi di Research Expo Ahmad Dahlan (Read) 2019, Jumat (3/5/2019). - Ist/UAD.
04 Mei 2019 04:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja terus mendorong para dosen untuk mampu menghasilkan penelitian yang dapat diproduksi secara massal dan bermanfaat bagi masyarakat.  Research Expo Ahmad Dahlan (Read) 2019 yang dihelat di Kampus Utama UAD, Jumat (3/5/2019) menjadi salah satu media pendorong memotivasi dosen menghasilkan karya.

Wakil Rektor I UAD Muchlas menjelaskan pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas riset dosen sesuai dengan tingkatan technology readiness level (TRL) 1 hingga TRL 9 atau sampai menjadi produk dan siap edar.  “Riset terus ditingkatkan lagi, agar bisa masuk di level 4, 5,6, 7 masuk dalam product development. Sebelum itu ada level prototype,” terang dia dalam keterangan persnya, Jumat (3/5/2019).

Ia mengakui banyak hasil riset yang belum sampai dikomersialisasi, sehingga karya dosen hanya berakhir di lembah kematian karena tidak memberikan manfaat signifikan kepada masyarakat. “Sebuah karya para dosen sudah dipublikasikan sekalipun di jurnal internasional bereputasi tetapi tidak bisa dinikmati masyarakat, tidak bisa dikomersialisasikan maka karya itu hanya akan masuk di lembah kematian,” ucapnya.

Pihaknya terus berusaha mendorong dosen akan hasil penelitian tidak terhenti pada publikasi internasional, tetapi sampai bisa menjadi produk yang dapat dikembangkan secara massal dan diterima masyarakat. Kegiatan pameran penelitian yang digelar pertama kalinya oleh UAD tersebut diharapkan dapat memotivasi dosen agar lebih kreatif dalam menghasilkan karya yang bisa diproduksi.

“Semoga masyarakat memperoleh manfaat dari penelitian dosen kami, mengingat perguruan tinggi di sebagian orang dipersepsikan sebagai menara gading, karena hasil penelitiannya tidak bisa pernah menyentuh hajat kehidupan masyarakat. Seolah penelitian yang dilakukan hanya bermanfat untuk pengembangan keilmuan saja, untuk diri sendiri. Sehingga wajar mempersepsikan perguruan tinggi ibarat menara gading, gadingnya saja jarang ditaklukkan apalagi menara,” katanya.

Ketua Panitia Read 2019 Tri Wahyuni Sukesi menambahkan, kegiatan itu diikuti seluruh pusat studi di lingkungan UAD yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). Melalui kegiatan itu pihaknya sekaligus memperkenalkan sejumlah penelitian yang sudah menjadi produk dan berpotensi bisa bermanfaat bagi masyarakat.

“Ada juga produk dosen berupa sebuah alat yang bisa mendaur ulang sampah, semua pusat studi memiliki keunikan tersendiri dalam penelitian dan produk yang dihasilkan,” ujarnya.

Kegiatan itu menghadirkan seluruh instansi pemerintahan di lingkungan DIY seperti Bappeda dan lain-lain. Harapannya, kata dia, produk itu menjadi perhatian pemerintah untuk kemudian menggunakannya. “Harapannya instansi ini bisa memahami sekaligus memperluas jaringan,” katanya.

Ketua Pusat Studi Mitigasi dan Penanggulangan Bencana (PPMPB) UAD Dholina Inang Pambudi mengatakan, salah satu produk yang ia pamerkan antara lain perangkat edukasi untuk mengetahui dampak erupsi gunung berapi, tsunami dan banjir. Untuk gunung berapi, pihaknya membuat maket gunung yang di sekitarnya terdapat pemukiman pendudukan. Lava yang dihasilkan dari kawah juga dimodifikasi sedemikian rupa sehingga seolah-olah bisa meluncur kemudian mengenai rumah penduduk.

“Melalui objek ini diharapkan masyarakat atau anak bisa memahami dampak yang ditimbulkan ketika ada gunung meletus, sehingga harus ada mitigasi,” katanya.