Muhammadiyah Harus Jadi Solusi Masalah Bangsa

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir. - Suara Muhammadiyah
09 Mei 2019 19:42 WIB Laila Rochmatin Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Menyikapi hasil pemilu, Muhammadiyah harus menerima hasil penghitungan suara dengan lapang dada dan siap bekerja sama dengan siapa pun yang terpilih secara konstitusional. Muhammadiyah harus menjadi kekuatan yang berjiwa besar untuk menjadi jembatan bagi semua golongan. Peran ini tidak mudah, tetapi harus diusahakan.

“Karena sekali konflik terjadi, susah untuk merekatkan kembali keutuhan. Muhammadiyah perlu menjadi contoh dalam merekat kebersamaan. Kami tidak bisa berdakwah, jika negeri ini terpecah belah,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat

Konsolidasi Nasional yang dihadiri seluruh perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dari 34 provinsi di seluruh Indonesia pada, Rabu (8/3/2019) di Aula Masjid K.H. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Pada pertemuan ini terdapat beberapa poin yang disampaikan tentang gerak keumatan dan kebangsaan modern. Haedar mengatakan selepas reformasi muncul berbagai pemikiran yang tumbuh dan menyebar. Ini menjadi arus baru yang tidak bisa dicegah dan sebagian masuk ke organisasi arus utama, termasuk Muhammadiyah.
 
“Di satu sisi, kami harus menjaga ukhuwah. Namun di sisi lain, bagaimana penguatan paham ke-Islaman dan nilai-nilai ideologis Muhammadiyah di tengah situasi ini perlu diperhatikan,” kata dia.

Menurut Haedar, Pimpinan Muhammadiyah harus ada di tengah arus besar saat ini untuk tetap melakukan gerakan tajdid dan Muhammadiyah harus tetap menghadirkan Islam Wasatiyah.

Dia juga membahas soal kualitas dan kuantitas jumlah anggota yang ada di berbagai tempat. Keberadaan anggota yang dimiliki Muhammadiyah harus selalu dijaga dan diberdayakan. Hal ini dibutuhkan ketika kader-kader Muhammadiyah hendak terlibat pada ranah kebangsaan.

Haedar juga melihat kualitas Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang masih menunjukkan disparitas tinggi. AUM yang berkualitas mulai banyak, namun AUM yang berada di level menengah dan bawah juga masih banyak. Kekuatan Muhammadiyah, tumbuh berdiaspora dari bawah, tetapi kualitasnya harus dibangun dengan jejaring yang kuat dari samping dengan saling memberdayakan antar AUM.

Haedar juga menyikapi maraknya penggunaan media sosial sebagai wadah baru untuk menyampaikan pendapat dengan terbuka dan bebas. Untuk itu, ia menyerukan kepada kader Muhammadiyah untuk masuk pada ranah itu untuk melakukan tabligh. “Perlu ada rancang bangun dalam bidang dakwah komunitas ini, terutama komunitas virtual,” imbuhnya.

Ketum PP Muhammadiyah ini membahas tentang persoalan keumatan yang sedang terjadi belakangan ini. Ia berkata Muhammadiyah perlu menjadi solusi dari tumbuhnya semangat beragama dan gairah untuk menunjukkan identitas masing-masing. Semangat ini harus tetap dibingkai oleh Muhammadiyah.