Tokoh Lintas Agama DIY Berdoa untuk Kedamaian Papua

Doa bersama dan pemberian bantuan bagi anak yatim dari berbagai suku dan agama di Wana Bhaktiyasa Jogja, Minggu (1/9/2019). - Harian Jogja/Abdul Hamied Razak
01 September 2019 19:07 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah tokoh lintas agama dan 1.000 anak yatim di DIY menggelar doa bersama untuk kedamaian Papua dan Indonesia. Doa bersama dilakukan sebagai upaya menjaga pluralisme bangsa dan menghalau isu radikalisme yang terjadi saat ini.

Tokoh nasional antiradikalisme dan intoleransi Haidar Alwi mengatakan DIY selama ini menjadi tonggak pluralisme di Indonesia. Di wilayah ini banyak berkumpul berbagai suku, ras dan agama.

"Karena itu, doa lintas agama dan kebersamaan yang dilalukan dari Jogja sangat penting. Tidak hanya bagi Papua tetapi bangsa Indonesia," kata Alwi di sela-sela kegiatan doa bersama dan bantuan anak yatim dari berbagai suku dan agama di Wana Bhaktiyasa Jogja, Minggu (1/9).

Alwi mengatakan saat ini ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang ingin mengadu domba bangsa Indonesia. Dia berharap agar masyarakat tidak terjebak dalam politik adu domba yang dilakukan pihak-pihak tertentu dan ingin memecah belah bangsa. "Lebih baik masyarakat memperkokoh persatuan, kembali membangun kesatuan bangsa," kata dia.

Apalagi, menurut Alwi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah secara tegas meminta penegak hukum untuk menindak pelaku persekusi dan provokator kerusuhan Papua. Bahkan dia menyebut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sudah meminta maaf atas apa yang dialami warga Papua di Surabaya.

"Kami mengajak seluruh rakyat Papua agar jangan mau diprovokasi. Jangan menghancurkan daerahnya sendiri. Ayo bangun negara bersama semua suku di Indonesia," kata Penanggung jawab Aliansi Relawan Jokowi (ARJ) itu.

Dia menambahkan tidak ada alternatif lain bagi Papua untuk melepaskan diri dari Indonesia. Papua, menurut Alwi, merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika Papua bisa diadudomba, maka tidak hanya masyarakat Papua yang mengalami kerugian tetapi seluruh bangsa Indonesia mengalami kerugian.

"Bangsa Indonesia harus bersatu menghadang radikalisme internasional yang terus merongrong Indonesia. Jangan sampai kasus di Papua melebar dan menenggelamkan isu-isu radikalisme yang marak, semakin terlihat. Rakyat Indonesia jangan mau diadudomba sesama anak bangsa," kata Alwi.

Koordinator Aliansi Jogja Sehati Apriyanto mengatakan sejak selesai Pemilu 2019 kekerasan yang melukai bangsa terjadi di hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kejadian terbaru adalah konflik yang terjadi di Papua, baik di Sorong, Merauke, Jayapura dan Timika akibat peristiwa di Surabaya.

"Ini terjadi secara sistematik dan masif. Ada kecenderungan disintegrasi bangsa, ada yang ingin memecahkan persatuan dan kesatuan NKRI," kata dia.

Peristiwa yang terjadi di Papua, menurut Apriyanto, disinyalir ada agenda tersembunyi dan desain sistematis yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk memecah belah bangsa.

"Dari Jogja, muncul pesan dan mengirimkan pesan perdamaian. Jogja adalah benteng terakhir NKRI. Aksi ini awal yang akan kami lakukan terus menerus," jelasnya.

Menurut dia, masyarakat jangan sampai terlena dan terpecah belah. Sebab kejadian tersebut hanya dilakukan kelompok tertentu. Aksi kerusuhan yang terjadi hanya dilakukan oleh kelompok yang tidak ingin Indonesia bersatu. "Kami mencintai perdamaian. Masyarakat harus cerdas dengan beragam berita. Konflik sosial itu bukan bagian dari semangat bangsa," kata dia.