Asyik, Kini Ada Solusi untuk Sistem Irigasi saat Kemarau

Gubernur BI Perry Warjiyo (depan, dua dari kiri) saat Panen Perdana demplot cabai dengan Penerapan Metode irigasi drip dan Pupuk Hayati, di Dusun Pondok Wonolelo, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Minggu (21/9/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
22 September 2019 18:07 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Penerapan metode irigasi drip atau tetes dalam penanaman cabai dinilai mampu menghemat air hingga 50%. Ini dianggap menguntungkan bagi petani, khususnya sebagai solusi mengatasi permasalahan kekurangan pasokan air di musim kemarau.

Salah satu tempat yang menjadi lahan percontohan atau demonstrasi plot (demplot) penerapan metode tersebut adalah di Dusun Pondok Wonolelo, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman. Penerapan metode tersebut difasilitasi Bank Indonesia (BI) DIY, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, serta bekerja sama dengan Fakultas Pertanian UGM.

Ketua Kelompok Tani Sido Makmur, Dusun Pondok Wonolelo, Sunaryo mengatakan ada sekitar satu hektare lahan yang menjadi percontohan penerapan metode drip. Dari hasil tersebut, kata dia, metode tersebut memberi dampak yang signifikan kepada petani.

Dampak yang paling signifikan, kata dia, adalah penghematan pemakaian air dikarenakan pemberian air langsung pada tanaman dengan jumlah yang bisa ditentukan sesuai kebutuhan.

“Irit airnya bisa hingga 50 persen, apalagi di sini kalau musim kemarau, air sangat sulit didapatkan,” kata dia di sela-sela kunjungan kerja Gubernur BI ke Sleman dalam acara Panen Perdana Demplot Cabai dengan Penerapan Metode irigasi Drip dan Pupuk Hayati, serta Seremonial Serah Terima Program Sosial BI Klaster Cabai, Minggu (21/9/2019).

Di wilayah tersebut, kata dia, jika musim kemarau petani hanya mengandalkan tangki air yang dibeli. “Kalau harga cabai rendah, beli airnya kan rugi,” ucap dia.

Selain itu, keuntungan lainnya adalah meningkatnya pertumbuhan tanaman dan hasil, hal tersebut dikarenakan perubahan kelembaban tanah yang signifikan. “Karena tanahnya basah terus, jadi hasil panen berkualitas, dengan teknologi ini juga bisa panen 25-30 kali,” ucap dia.

Kepala Perwakilan BI DIY Hilma Tisnawan mengatakan dalam rangka melaksanakan salah satu kebijakan BI, yaitu stabilitas moneter melalui peningkatan kapasitas ekonomi pelaku UMKM dan mengurangi inflasi pada komoditas volalite food (dari sisi pasokan), Kantor Perwakilan BI DIY melaksanakan program pengembangan klaster cabai di Kecamatan Ngemplak.

“Program pendampingan dilaksanakan secara multiyears dan menyeluruh meliputi pendampingan peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan, akses pemasaran dan hilirisasi,” kata dia. “Hari ini juga penyerahan Program Sosial Bank Indonesia [PBSI] berupa peletakan batu pertama pembangunan embung, serah terima Balai Lelang, serta launching web manajemen pasar lelang.”