Jogja Panas Terik di Siang Hari, Suhu Udara Mencapai 33 Derajat Celcius

Ilustrasi. - Harian Jogja/Nina Atmasari
12 Oktober 2019 08:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Berdasarkan hasil pantauan dari Badan Meteorologi dan Geofisika BMKG Staklim Mlati Yogyakarta suhu udara beberapa hari ini di wilayah DIY untuk suhu minimum di malam hingga pagi hari berkisar 22-24 derajat celsius dan maksimum di siang hari mencapai 31-33 derajat celsius.

Kepala kelompok data dan informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta Etik Setyaningrum mengatakan penyebab suhu cukup panas atau gerah dikarenakan posisi gerak semu matahari saat ini berada di kisaran wilayah DIY.

"Oleh sebab itu, terasa cukup panas untuk wilayah Jogja kulminasi matahari tepat berada di atas wilayah Jogja sekitar tanggal 13 Oktober 2019," ujar Etik kepada Harianjogja.com, Jumat (11/10/2019).

Kemudian, hal lain yang menjadi penyebab udara terasa gerah di malam hari karna adanya kandungan uap air (RH) yang cukup besar di udara.

Kondisi ini menyebabkan adanya pembentukan awan. Dengan adanya tutupan awan ini maka radiasi balik bumi ke atmosfer tertahan oleh awan, sehingga tidak bisa keluar bebas ke angkasa tetapi dipantulkan kembali ke bumi.

"Sehingga suhu udara di bumi terasa lebih gerah. Hal ini bisa menjadi juga pertanda bahwa wilayah DIY akan memasuki pancaroba," jelasnya.

Berdasarkan hasil monitoring hari tanpa hujan update 30 September 2019 menunjukkan sebagian besar wilayah DIY mengalami hari tanpa hujan (hth) lebih dari 60 hari (kekeringan ekstrem) yang berdampak pada potensi kekeringan meteorologis (berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya, dalam jangka waktu yang panjang bisa mencapai bulanan, dua bulanan, dan seterusnya.

Adapun, dua ranking teratas hari tanpa hujan meliputi kecamatan Dlingo kabupaten Bantul selama 179 hari, kedua kecamatan Wonosari Gunungkidul dan kecamatan panjatan kabupaten Kulonprogo selam 166 hari dan umumnya wil lainnya juga mengalami hth di atas 100 hari.

Pantauan BMKG, anomali suhu muka laut di wilayah selatan DIY berkisar -1 hingga -0,5 °C. Samudera Hindia dan pola angin sampai dengan awal Oktober masih angin timuran untuk wilayah DIY. "Dari kondisi unsur dinamis tersebut potensi pembentukan awan-awan hujan masih kecil," ungkap Etik.

BMKG mengimbau masyarakat agar waspada dan berhati-hati terhadap kekeringan yang bisa berdampak pada sektor pertanian dengan sistem tadah hujan. Pengurangan ketersediaan air tanah (kelangkaan air bersih), dan peningkatan potensi kemudahan terjadinya kebakaran.

Sebelumnya diberitakan, Wakil Bupati Sri Muslimatun menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman melalui BPBD Sleman telah menyiapkan sebanyak 300 tanki air untuk disalurkan kepada warga yang terdampak kekeringan.

“300 tanki itu cukup bahkan sisa jika digunakan dengan bijaksana. Saya harap air ini dipakai seperlunya saja," ujar Sri Muslimatun.

Ia mengatakan, bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman akan memberikan bantuan berupa pompa dan peralatan pendukung lainnya untuk wilayah tersebut.

Diharapkan dengan bantuan baru tersebut bencana kekeringan tidak lagi terjadi di musim kemarau tahun depan. Selanjutnya ia mengimbau warga untuk membuat tendon air guna untuk menampung air hujan saat musim hujan nanti.

“Air hujan itu bisa ditampung. Maka nanti saat musim kemarau tiba kita masih punya simpanan air hujan," tutupnya.