Dispar DIY Genjot Pendampingan Desa Wisata

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo, memberikan arahan dalam pendampingan dan pelatihan desa wisata di Desa Wisata Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Senin (14/10/2019). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
14 Oktober 2019 20:12 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang pariwisata, Dinas Pariwisata (Dispar) DIY terus menggenjot pendampingan desa-desa wisata yang ada di Gunungkidul. Salah satu kegiatan pendampingan digelar di Desa Wisata Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Senin (14/10/2019). Kegiatan tersebut merupakan inisiasi Dispar DIY dengan menggandeng sejumlah instansi terkait, asosiasi pariwisata hingga akademisi.

Sejumlah pelaku pariwisata yang tersebar di Kecamatan Patuk digembleng tentang materi yang menunjang perkembangan bidang pariwisata selama enam hari. Materi yang diajarkan mulai dari penerapan sadar wisata, attitude pelayanan, standarisasi produk, pengelolaan pokdarwis hingga pelatihan bahasa asing.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo, menuturkan pendampingan tersebut dilakukan guna membenahi dan memperbaiki SDM di bidang pariwisata. Dengan adanya pendampingan tersebut Dispar DIY bisa mengetahui permasalahan yang dihadapi para pelaku pariwisata itu.

"Kami perlu mendampingi dan memperbaiki beberapa kendala yang mereka temui. Dalam pendampingan ini kami menghadirkan narasumber dari perguruan tinggi hingga asosiasi pelaku pariwisata," kata Singgih seusai membuka kegiatan Pendampingan Desa Wisata Gunungkidul di Desa Wisata Ngelanggeran, Senin.

Ia menjelaskan narasumber turun langsung melebur dengan para pelaku usaha untuk mengetahui permasalahan yang mereka hadapi. Setelah itu, solusi diberikan kepada para pelaku usaha di Gunungkidul, khususnya di Kecamatan Patuk.

Kepala Desa Ngelanggeran, Senen, mengapresiasi langkah Dispar DIY yang membantu pengembangan SDM pelaku pariwisata dengan pendampingan berkelanjutan. Menurut Senen, tanpa adanya pendampingan dan pelatihan maka pengetahuan para pelaku wisata di Patuk sangat terbatas. "Harapan kami setelah kegiatan ini para pelaku wisata bisa mengembangkan desa wisatanya masing-masing," ujarnya.