Ikut Sambut Wisatawan saat Libur Akhir Tahun, Disbud Jogja Gelar Wayangan

Suasana pentas wayang kulit bertajuk Jogja Asyik Liburan Akhir Tahun yang digelar di Monumen Serangan Oemoem (SO) 1 Maret, Jogja, Kamis (26/12/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
29 Desember 2019 18:47 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dalam rangka memeriahkan momen libur akhir tahun sekaligus menguatkan karakter Kota Jogja sebagai Kota Budaya, Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja menggelar pergelaran wayang kulit dengan tajuk Jogja Asyik Liburan Akhir Tahun di Monumen Serangan Oemoem (SO) 1 Maret, Jogja, Kamis (26/12/2019).

Dimulai Pukul 21.00 WIB, pergelaran wayang kulit itu membawakan dua lakon. Pertama adalah lakon Sinta Suci yang didalangi oleh Ki Utoro Widayanto, serta kedua, adalah lakon Sekar Dewa Retna yang didalangi oleh dalang cilik Pandhanalas Damar Wicaksono.

Utoro menjelaskan lakon Sinta Suci bercerita tentang Sinta yang membuktikan kesuciannya pada sang suami, Rama, dengan membakar diri. “Dalam perang terakhir, Dasamuka yang punya kekuatan dapat menghidupkan apa saja yang terkena darahnya, menghidupkan monster-monster temannya dan diajak perang lagi,” ujarnya sebelum tampil.

Dasamuka, kata dia, tidak bisa mati jika Sinta masih hidup. Akhirnya Sinta pun membakar diri. “Rahwana pun ngamuk dan akhirnya bisa dibunuh oleh Rama. Rahwana digendong dan dibawa terbang ke angkasa oleh Anoman. Jangan sampai jatuh ke bumi karena bisa hidup lagi,” kata dia.

Dalam pergelaran wayang purwa yang berlangsung selama sekitar tiga jam ini, dia menggunakan gagrak Nusantara yang merupakan perpaduan dari berbagai daerah, seperti Solo, Jogja, Sunda, Jawa Timur dan Bali.

Pelaksana Tugas Kepala Disbud Kota Jogja, Kadri Renggono, menjelaskan pergelaran ini tak lain sebagai bentuk apresiasi dan upaya pelestarian seni pewayangan yang telah diakui oleh UNESCO sejak 2003 lalu sebagai warisan mahakarya dari Indonesia. “Wayang memiliki filosofi yang mengakar kuat. Bukan hanya cerminan dari budaya Jawa, tapi juga mencerminkan filosofi yang mendasar pada kehidupan. Maka perlu dijaga eksistensinya. Pagelaran mala mini menjadi salah satu wujud apresiasinya,” ujarnya.

Dia menuturkan pergelaran wayang akhir tahun merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Melalui kegiatan ini, kata dia, Pemkot mengapresiasi para dalang di Kota Jogja, baik dalang senior maupun dalang muda.

Dia berharap wisatawan dan masyarakat Jogja bisa menikmati pagelaran ini sekaligus lebih mengenali budayanya sendiri.