Alasan NU Menghadirkan Gus Muwafiq di Basis Muhammadiyah: Ingin Mendekatkan Sesama Saudara

Gus Muwafiq - Antara/Indrianto Eko Suwarso
01 Maret 2020 20:47 WIB Ujang Hasanudin & Abdul Hamid Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Jogja berencana mengadakan pengajian akbar menghadirkan ulama Gus Muwafiq di Kauman untuk semakin mendekatkan NU dan Muhammadiyah sebagai dua organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Pengajian untuk merayakan peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-94 NU itu dijadwalkan dihelat di Masjid Gedhe Kauman. PCNU mengaku sudah mengantongi izin Kraton Jogja sebagai pemilik masjid. Namun, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah mengimbau NU tidak mengadakan pengajian yang mendatangkan Gus Muwafiq di Kauman karena warga setempat menolaknya. Kauman adalah lokasi kelahiran Muhammadiyah san sampai sekarang menjadi salah satu basis Muhammadiyah di Jogja.

Sekretaris PCNU Kota Jogja Abdul Suud mengatakan PCNU baru kali pertama ini mengadakan acara di Masjid Kauman, tujuannya untuk mendekatkan NU dengan Muhammadiyah. "Sebagai sesama saudara [satu keyakinan]," ujar dia, Minggu (1/3/2020).

PCNU Kota Jogja juga ingin menunjukan bahwa dua organisasi keagamaan tidak pernah ada masalah.

“Bahkan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir berkunjung ke kantor PBNU beberapa waktu lalu,” kata Suud.

Ia menegaskan pengajian Gus Muwafiq adalah pengajian tanpa ada embel-embel acara yang melibatkan warga sekitar masjid. 

“Kami tak libatkan warga Kuman. Kami hanya pengajian, sudah dapat izin. Kami tak libatkan kegiatan apa-apa seperti bazar. Enggak pasang umbul-umbul yang neko-neko,” kata Suud.

Suud mengaku sudah mendapat izin penyelenggaraan pengajian dari kepolisian maupun Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat selaku pemilik Masjid Kauman atau Masjid Gedhe Kauman. PCNU juga sudah berkomunikasi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jogja.

Ia kaget dengan penolakan warga sekitar masjid dan berencana segera menemui takmir masjid setempa. “NU tak punya pretensi apapun ketika menggelar acara. [Kalau] Dikatakan basis Muhammadiyah, masjid itu masjid umum milik Kraton, kami sudah dapat izin Kraton ditembuskan ke takmir,” kata Suud.

Sementara itu, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Jogja mengeluarkan surat berisi imbauan agar peringatan ke-94 Harlah NU tidak diadakan di Kauman.

Melalui surat yang dikirimkan kepada Kapolda DIY, Kapolresta Jogja, Kapolsek Gondomanan, Wali Kota Jogja, Ketua DPRD Jogja, Pimpinan Cabang NU Jogja, Takmir Masjid Gedhe Kauman, dan media massa; Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Jogja Sholahuddin Zuhri mengatakan imbauan itu didasarkan atas beberapa pertimbangan, yakni kontroversi yang pernah ditimbulkan Gus Muwafiq beberapa waktu lalu dan penolakan warga Kauman yang mayoritas Muhammadiyah atas rencana peringatan Harlah NU di wilayah tersebut.

“Agar perayaan harlah berjalan kondusif, selayaknya [perayaan harlah] diselenggarakan di tempat yang tidak menimbulkan kontroversi,” kata Sholahuddin dalam surat tersebut.

Sejumlah spanduk berisi penolakan peringatan harlah NU juga dipasang di beberapa tempat di Kauman.