Wisata Jogja Ditutup, Pengusaha Batik Beralih Produksi Masker Kain

Warga berekspresi dan berfoto saat Uji Coba Semi Pedestrian Jalan Malioboro di Jalan Malioboro, Jogja, Selasa (18/6). - Harian Jogja/ Gigih M. Hanafi
04 April 2020 10:07 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Akibat pandemi corona, banyak usaha  yang terpaksa tutup, termasuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Jogja. Karenanya, demi bertahan di tengah melemahnya kegiatan perekonomian akibat COVID-19, sejumlah UMKM di Jogja mengalihkan jenis usaha.

"Dalam kondisi seperti ini, yang dibutuhkan adalah inovasi. Bagi pelaku UMKM, inovasi dilakukan dengan mengalihkan jenis usaha dan produk yang dihasilkan," kata Kepala Bidang Usaha Kecil Mikro (UKM) Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Jogja Rihari Wulandari, Jumat (3/4/2020).

Rihari mengungkapkan, pandemi COVID-19 memberikan dampak di hampir semua sektor UMKM di Kota Yogyakarta. Namun sektor yang paling terdampak adalah usaha di bidang fesyen dan kerajinan karena tidak ada lagi wisatawan yang datang ke Jogja untuk mencari oleh-oleh atau suvenir.

Kendati demikian, lanjut dia, pelaku UMKM di Jogja kemudian mengalihkan jenis usahanya agar tetap ada pendapatan yang masuk, misalnya pelaku usaha batik beralih usaha memproduksi masker kain, yang saat ini juga cukup banyak dibutuhkan. Begitu pula dengan pelaku usaha kerajinan, yang mengalihkan usahanya ke bidang kuliner, yang masih banyak dibutuhkan oleh masyarakat, apalagi saat ini masuk bulan Ruwah dengan tradisi membuat apem.

"Ada juga yang kemudian membuat berbagai minuman dari bahan rempah-rempah, atau membuat makanan ringan," lanjut Rihari, dikutip dari ANTARA.

Menurut keterangannya, jika pelaku UMKM tidak memproduksi barang, maka tidak ada pendapatan yang masuk karena mereka sangat bergantung dari pendapatan harian.

"Yang bisa kami lakukan adalah terus memotivasi mereka. Biasanya mereka tergabung dalam berbagai grup di aplikasi percakapan. Kami upayakan untuk terus menyemangati mereka agar bisa berinovasi menyesuaikan kondisi," katanya.

Meski begitu, Rihari tidak memungkiri bahwa dari sekitar 24.000 pelaku UMKM di Jogja, yang sekitar 6.000 di antaranya sudah mengantongi izin usaha mikro, ada pelaku usaha yang juga menghentikan produksi secara total dan tidak melakukan upaya pengalihan jenis usaha.

"Bahkan ada yang menjual mesin produksi yang mereka miliki," terangnya.

Sedangkan untuk pemasaran, Rihari menyebut, para pelaku UMKM yang masih berusaha bertahan menggerakkan perekonomian melakukan penjualan secara daring melalui grup aplikasi percakapan seperti WhatsApp.

"Karena kondisinya seperti ini, maka metode penjualan online menjadi pilihan yang mau tidak mau harus dilakukan oleh pelaku UMKM," kata dia.

Hal senada disampaikan Ketua Koperasi Sumekar Sumiyati, yang memiliki anggota pelaku UMKM pembuat bakpia di Jogja.

"Dari sekitar 40 anggota koperasi, hampir semuanya berhenti produksi sejak pertengahan Maret. Ada yang beralih profesi, misalnya berjualan makanan atau barang lain, tetapi ada pula yang benar-benar berhenti dan hanya menunggu," jelasnya.

Sumekar mengatakan, wabah penyakit COVID-19 ini, yang disebabkan virus corona SARS-CoV-2, memberikan pukulan yang sangat berat kepada pelaku UMKM bakpia. Kesulitan dampak corona ini bahkan melebihi kondisi saat gempa bumi di Jogja beberapa tahun lalu.

"Selama 30 tahun menjadi produsen bakpia, baru kali ini kami menghadapi masa-masa yang paling sulit. Bahkan, saat terjadi gempa bumi besar di Yogyakarta, kondisinya tidak seberat ini," keluhnya.

Sumber : Suara.com