Tak Punya Pekerjaan, Warga Bantul Pilih Mudik

Suasana pos penyekatan kendaraan Pramabanan, Jum'at (22/5/2020). Petugas tengah memeriksa kelengkapan dan syarat pengemudi. - Harian Jogja/Hery Setiawan
27 Mei 2020 06:07 WIB Hery Setiawan/ST18 Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Meskipun ada penyekatan kendaraan di area perbatasan, nyatanya masih ada saja pemudik yang lolos dari pemeriksaan.

H, warga Kecamatan Sewon adalah salah satunya. Ia merupakan seorang pekerja kontruksi baja di Cikarang, Jawa Barat. Ia terpaksa pulang jelang Idulfitri lantaran sudah tidak ada pekerjaan lagi.

H mengaku berat apabila harus tinggal di sana dengan kondisi tidak punya pekerjaan. Pilihan terbaik untuk bertahan yakni dengan pulang ke kampung halaman. Di kampung halaman, telah menunggu istri dan ketiga orang anaknya . "Mau bertahan di sana berat juga dengan biaya hidup tinggi. Masih ngontrak lagi," keluhnya kepada Harian Jogja, Senin (26/5/2020).

Ia tak sendiri. Kondisi tersebut, katanya juga menimpa pekerja lain. Ada yang putus kontrak, ada yang dirumahkan tanpa kejelasan batas waktu, dan ada pula yang mendapat pemutusan hubungan kerja [PHK]. Pilihan mereka pun serupa yakni pulang ke kampung halaman.

H berangkat dari Cikarang menuju Bantul hari Rabu (21/5/2020) dengan menumpang mobil travel. Kata H, tak sulit menemukan layanan travel yang menawarkan jasa mudik. Layanan itu bisa ditemukan di situs daring atau jejaring sosial. "Banyak travel-travel yang menawarkan secara online," ujarnya.

Ketika ditanya soal penyekatan kendaraan, H mengaku tidak menemuinya selama perjalanan. Pemeriksaan memang terbilang ketat, terutama di wilayah Cikarang yang merupakan perbatasan antara DKI Jakarta dan Jawa Barat. Namun, supir yang mengantar H memutuskan berangkat saat malam hari dengan pertimbangan saat itu para petugas penyekatan sedang beristirahat. Jalur alternatif atau jamak disebut jalan tikus kerap pula ditempuh untuk menghindari pos pemeriksaan. H pun tiba di Bantul esok harinya, Kamis siang (22/5/2020) dengan kondisi sehat dan selamat.

Satu hari berselang, Jum'at (23/5/2020) H menjalani tes cepat atau rapid diagnostic test di Puskesmas Sewon 1. Beruntung, hasilnya non reaktif. Kini ia sedang menjalani isolasi mandiri. Untuk sementara ia harus tinggal terpisah dengan istri dan ketiga orang anaknya. "Kami semua memang tinggal di Bantul. Sekarang saya masih karantina selama 14 hari. Untuk sementara saya harus jauh dari anak dan istri," katanya.

Ditemui terpisah, Perwira Lapangan dari Dishub DIY, Irfan Wijaya mengatakan banyak pengemudi yang tidak mematuhi syarat-syarat perjalanan. Tindakan tegas berupa putar balik pun diterapkan. Hanya saja, ia tak menampik saat ini pemudik maupun pengendara lebih "pintar" dari petugas.

Mereka berangkat dengan memilih waktu saat petugas pos penyekatan sedang istirahat. Hanya saja, petugas tetap akan menindak dengan tegas apabila ada pengemudi yang tidak memenuhi syarat perjalanan. Kebijakan larangan mudik itu perlu didukung juga oleh kesadaran masyarakat. "Saya minta kepada masyarakat agar tetap mematuhi kebijakan pemerintah," katanya ketika ditemui di Pos Penyekatan Prambanan, Jum'at (22//20205).