Dinkes Sleman Rapid Test Nakes dengan RDT Lokal RI-GHA Covid-19 Buatan UGM

Kerjasama FKKMK UGM dan Dinkes Sleman untuk screening Covid-19 kepada tenaga kesehatan di Puskesmas Mlati II Sleman, Kamis (18/6/2020).-Harian Jogja - Lajeng Padmaratri
18 Juni 2020 16:42 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Pemerintah Kabupaten Sleman melakukan kerja sama dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam screening Covid-19 untuk tenaga kesehatan puskesmas dan komunitas di Kabupaten Sleman, menggunakan rapid diagnostic test (RDT) lokal yaitu RI-GHA.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo menuturkan screening ini akan ditujukan untuk sekitar 1.500 tenaga kesehatan di 25 puskesmas di Kabupaten Sleman. Pada kesempatan pertama, screening ini dilakukan di Puskesmas Mlati II pada Kamis (18/6/2020).

"Untuk seluruh karyawan Puskesmas Mlati II ada 81 tenaga kesehatan, semua akan dites menggunakan RI-GHA, terus nanti dilakukan uji swab juga," ujar Joko pada Kamis ketika ditemui di sela-sela program screening di Puskesmas Mlati II.

Selain tenaga kesehatan, screening juga akan ditujukan kepada 30 masyarakat di setiap padukuhan yang nanti akan dipilih dengan metode sampling. Penggunaan RDT RI-GHA ini kepentingannya untuk tracing sejauh mana keberadaan virus Corona di komunitas masyarakat Sleman.

Joko menuturkan penggunaan RDT RI-GHA merupakan kerjasama antara Pemkab Sleman dengan FKKMK UGM. Selama ini, RDT yang digunakan Pemkab Sleman masih berasal dari rekanan yang harganya cenderung mahal. Kali ini, untuk tracing Covid-19 pada tenaga kesehatan dan komunitas di Kabupaten Sleman, ia memilih menggunakan RI-GHA.

Perlu diketahui bahwa RDT RI-GHA merupakan RDT hasil penelitian akademisi UGM bekerja sama dengan Universitas Airlangga dan Laboratorium Hepatika Mataram dan didukung BPPT Kemenristek. Alat ini dinilai lebih unggul dibandingkan RDT biasanya lantaran hasilnya bisa dibaca lebih cepat, spesifik, mudah digunakan, dan biaya produksinya lebih terjangkau.

Saat ini, Pemkab Sleman mendapatkan RDT RI-GHA secara gratis dari UGM dengan sasaran 4.000 tes. Meski begitu, jika ke depannya alat ini sudah diyakini secara ilmiah efektivitas, spesifisitas, maupun sensitivitasnya maka Pemkab akan mengembangkannya lantaran kebutuhan tes terus meningkat.

"Harganya infonya murah sekali sekitar Rp30.000 kalau besok dijual bebas. Ini sambil kita mendapatkan kesempatan dari UGM sambil kita memanfaatkan tracing luas," terangnya.

Pemilihan Puskesmas Mlati II sebagai lokasi awal screening sendiri diakui Joko lantaran beberapa waktu lalu merebak klaster penyebaran virus dari supermarket yang ada di wilayah ini. Untuk itu, diputuskan untuk melakukan tracing kepada tenaga kesehatan dan komunitas di wilayah ini.

Tak hanya itu, keberadaan pelayanan kesehatan yang terhambat lantaran pandemi menyebabkan masalah kesehatan yang berkepanjangan. Hal itu lantaran berkurangnya akses masyarakat ke layanan kesehatan yang dibatasi, muncul stigma terhadap faskes, dan ketakutan berlebihan. Sehingga, screening terhadap tenaga kesehatan ini ia nilai menjadi langkah yang baik untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa berobat ke faskes itu aman.

Peneliti RI-GHA dari FKKMK UGM, Sofia Mubarika menambahkan penelitian ini sudah diawali sejak bulan Maret lalu. Menurutnya, tingkat keakurasiannya setelah dicek dengan 40 sampel dari Litbangkes yang positif Covid lalu dikonfirmasi dengan PCR menunjukkan Igm 98%.

"Sementara spesifisitas diujikan menggunakan 100 koleksi sampel di RSUD Mataram menunjukkan 98% dan Igg 100%. Dari situ kami sepakat langsung bisa dilepas untuk uji validasi," kata Rika.