Tarif RDT Mandiri Dianggap Mahal, Warga di Sleman Pilih Tunggu RDT Massal

Foto ilustrasi: Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan cepat (rapid test) COVID-19 di kawasan Masjid Menara Kudus, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (8/5/2020). - ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho
29 Juni 2020 04:47 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman, Wisnu Murti Yani mengatakan minat masyarakat Sleman untuk rapid test sebenarnya tinggi.

Namun, jika harus dilakukan secara mandiri, kebanyakan masyarakat enggan dan memilih menunggu jadwal RDT massal oleh pemerintah.

Untuk diketahui, Pemerintah Kabupaten Sleman telah menetapkan tarif rapid diagnostic test (RDT) mandiri lewat Perbup No. 26.2/2020 tentang Perubahan atas Perbup No. 29.1/2019 tentang Tarif Pelayanan Kesehatan pada Puskesmas yakni sebesar Rp210.000.

Baca juga: Jujur Banget, Kaesang Promosikan Sang Pisang: Berkat Kalian yang Sudah Beli, Aku Kaya

"Biasanya mereka menunggu RDT program yang dilakukan massal. Kalau ada RDT massal, daftar semua, minatnya besar, jadi pada nunggu pemerintah. Padahal pemerintah kalau harus mencukupi semuanya belum mampu," ujar Wisnu, Minggu (28/6/2020).

Tarif RDT mandiri yang dinilai mahal ini disebutnya lantaran produk impor. Padahal, kebutuhan rapid test semakin besar, terlebih saat ini mendekati tahun ajaran baru dan tes masuk perguruan tinggi.

Baca juga: Pengacara Ungkap Kondisi Dwi Sasono Jalan Rehabilitasi Narkoba

Meski Pemkab Sleman sudah mengatur untuk mahasiswa dan calon mahasiswa yang akan masuk ke Sleman harus membawa hasil rapid test non reaktif, namun Wisnu menyebut Pemkab Sleman tetap mempersiapkan RDT kit untuk pelaku perjalanan yang masuk ke Sleman.

"Harusnya dari tempat asal tesnya, tapi karena suatu alasan belum membawa karena tidak tahu atau dari asalnya belum ada layanan RDT, maka Sleman menyediakan [layanan RDT mandiri]," terangnya.

Untuk itu, ia antusias jika ada RDT kit hasil produksi dalam negeri karena tarifnya pasti lebih terjangkau. Saat ini, Pemkab Sleman tengah menguji coba RDT lokal bernama RI-GHA buatan UGM di Puskesmas Mlati 2 beberapa waktu lalu.