Pandemi Bikin Skenario Magang Mahasiswa Berantakan

Mahasiswa saat magang di salah satu perusahaan rintisan di Jogja, Kedata, belum lama ini. - Istimewa/Kedata
01 Agustus 2020 18:07 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Merosotnya perekonomian akibat pandemi Covid-19 membuat banyak perusahaan harus mengetatkan ikat pinggangnya. Akibatnya, perusahaan pun banyak melakukan efektivitas kerja yang berdampak salah satunya pada ketersediaan kesempatan bagi pekerja magang yang banyak didominasi oleh mahasiswa.

Sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Triyas Chusnul, 21, sudah lama membayangkan dirinya akan melaksanakan kegiatan magang di sebuah perusahaan media maupun broadcasting.

Saat masa studinya mencapai semester akhir, Triyas pun menyebarkan surat lamaran magang ke perusahaan-perusahaan impiannya sejak Februari.

Sayangnya, sebulan berikutnya, pandemi Covid-19 melanda. Tak hanya di DIY, pandemi terus meluas hingga ke santero Indonesia, bahkan dunia. Tak ayal, seluruh surat lamaran magang yang dikirimkan Triyas pun kembali dengan balasan yang sama, yakni ditolak.

Alasannya pun tak jauh berbeda. Saat pandemi, hampir semua perusahaan memberlakukan work from home (WFH). Dengan begitu artinya tenaga karyawwan magang tidak terlalu dibutuhkan.

Tak pelak, Triyas pun cemas tatkala dia memikirkan masa studinya yang pasti akan mundur. Pasalnya, magang merupakan syarat wajib kelulusannya. Apalagi magang memiliki bobot enam satuan kredit semester (SKS) yang jelas itu cukup besar.

“Motivasiku untuk tetap magang yang paling besar adalah syarat kelulusan. Rencanaku, April sudah dapat tempat magang. Jadi ini menurut perhitunganku mundur, bahkan bisa dibilang ini berantakan,” kata Triyas kepada Harianjogja.com, Sabtu (25/7).

Di sisi lain, universitas belum juga mengetok palu terkait dengan kebijakan pemotongan uang kuliah tunggal (UKT) selama pandemi. Masa studinya yang mundur jelas akan menambah biaya kuliah yang ditanggung orang tuanya.

Ketimbang berkutat dengan rasa cemas dan hanya berdiam diri, Triyas terus mencoba menyebar surat lamaran magang di beberapa perusahaan dan instansi yang masih terkait dengan bidang media dan broadcasting. Nahas, hingga Juli, tak ada satu pun respons dari perusahaan-perusahaan itu.

Kalaupun ada perusahaan yang merespons surat lamarannya, kata Triyas, sistem kerjanya tak sesuai dengan harapan. Perusahaan tersebut memberlakukan sistem remote working atau work from home.

Menurut Triyas, hal itu justru merugikan sebagai mahasiswi magang. “Kalau soal bayaran, jujur aku enggak berharap buat dibayar. Tapi kalau dibayar ya enggak munafik mau juga. Itu lebih ke esensi magang kan buat belajar bekerja dan cari link. Kalau remote working, menurutku kurang maksimal. Harapanku kan sebelum lulus sudah ada pengalaman. Bagiku pengalaman adalah guru paling afdal,” kata Triyas.

Sejauh ini, keluh Triyas, pihak kampus belum secara khusus membantu permasalahan magang mahasiswa. Oleh karena itu, Triyas masih berusaha sendiri mencari tempat magang.

Beruntung, dia berkisah, baru beberapa hari lalu, satu surat lamarannya direspons oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY. Namun Triyas baru bisa bekerja pada Agustus mendatang sebagai pemantau isi siaran. “Buat fee kayaknya mustahil, tapi ini realistis saja yang penting dapat pengalaman dan tempat magang,” kata Triyas.

Kesulitan mencari tempat magang juga dialami oleh Atras Nito Putra, 20. Mahasiswa Teknik Geologi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY) ini sebenarnya sudah lolos untuk magang di PT Freeport Indonesia, tetapi bulan lalu dia kembali dirumahkan karena alasan keamanan kesehatan dan finansial perusahaan.

“Apalagi sebelum pandemi datang kan perusahaan bidang tambang memang sudah efisiensi karyawan besar-besaran. Jadi yang magang dipulangin. Motivasiku, magang sebenarnya sekalian ambil data lapangan untuk tugas akhir [TA], tetapi karena pandemi begini ya mau bagaimana lagi,” keluh Atras.

Itulah sebabnya, masa studi mundur menurut dia sudah jadi konsekuensi pasti. Akan tetapi, bukan berarti dia lantas berpangku tangan.

Bergabung di sebuah organisasi profesi yang bergerak di bidang pertambangan, membuat Atras memahami kondisi lapangan pekerjaan lebih luas lagi. Atras memaklumi saat ini dia hanya bisa menunggu kembali dipanggil magang. “Atau kalau tidak ya mencari alternatif magang di perusahaan lain di bidang yang sama,” ucap dia.