Rektor UNY Sutrisna Wibawa Khawatirkan Keselamatan Anak Mencari Sinyal

Rektor UNY Sutrisna Wibawa (kiri) saat talkshow online bertema "Menggagas Pendidikan Gaya Baru di Era Pandemi" pada Rabu (5/8 - 2020)./Harian Jogja
05 Agustus 2020 18:57 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Berbagai orang mulai dari praktisi, akademisi hingga pemangku kebijakan tengah sibuk merumuskan pendidikan daring paling tepat diterapkan di tengah situasi pandemi saat ini. Beberapa gagasan juga disampaikan oleh profesor bidang pendidikan, Prof. Sutrisna Wibawa.

Gagasan-gagasan Sutrisna ia sampaikan dalam Talk Show Online yang diselenggarakan oleh Harian Jogja bekerja sama dengan UNY dan Hotel Pandanaran Jogja, bertema "Menggagas Pendidikan Gaya Baru di Era Pandemi" yang tayang secara langsung pada Rabu (5/8/2020).

Berbagai jenjang pendidikan menjadi sorotan Sutrisna di masa pandemi, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga jenjang perguruan tinggi ia kupas satu persatu.

Pada jenjang perguruan tinggi, Sutrisna optimis dapat melakukan pembelajaran daring atau yang digabung dengan tatap muka. Sehingga separuh pembelajaran tatap muka sementara separuhnya daring. Sutrisna beranggapan mahasiswa lebih mandiri ketimbang jenjang pendidikan lainnya sehingga mampu melakukan pembelajaran daring.

Namun aplikasi pembelajaran yang dipakai selama perkuliahan Daring menurutnya perlu di evaluasi. Sutrisna yang merupakan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta mencetuskan aplikasi e-learning yang lengkap dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan di jenjang perguruan tinggi. "Rencananya semester sudah bisa diterapkan di UNY," jelasnya.

Jenjang pendidikan yang dinilai cukup mandiri lainnya adalah SMA. Penilaian Sutrisna tersebut didasari dari mayoritas siswa SMA saat ini merupakan generasi Z yang dekat dengan teknologi. Sehingga dari segi penguasaan teknologi, siswa SMA dirasa mampu melakukan pendidikan daring secara penuh.

Memang berbeda dengan mahasiswa yang memiliki kemandirian bahkan mengakses sumber-sumber pembelajaran lebih dalam melalui internet, siswa berada dalam fase peralihan. Fase tersebut diantara mandiri dan masih memerlukan bimbingan langsung. Sehingga menurut Sutrisna para guru harus tetap bisa berkomunikasi dengan orang tua.

Diterangkan Sutrisna jenjang SD memiliki perbedaan karena tingkat kemandirian yang berbeda. Dia menambahkan bahwa siswa SD masih "mbok-mbokan" sehingga harus menerapkan strategi yang berbeda. "Saya mengusulkan jangan di lepas penuh, harus ada kunjungan ke rumah-rumah," ujarnya.

Sama halnya dengan SD, siswa TK juga dinilai membutuhkan kunjungan guru agar membantu pembelajaran. Kunjungan yang dimaksud Sutrisna adalah sapa siswa, sehingga kerinduan murid terhadap guru atau kesulitan yang dihadapi murid dapat ditangani oleh guru yang berkunjung. Skema ini bisa dilakukan berkala dua hari sekali misalnya. "Kalau TK dan SD paling hanya siswa di sekitar wilayah, jadi memungkinkan untuk dikunjungi," ujarnya.

Menyangkut tatap muka, Sutrisna meminta pemerintah untuk melakukan uji coba bertahap untuk pembukaan sekolah. Terlebih anak-anak yang dinilai rawan bila pembekalan dilakukan tatap muka. Sementara itu untuk tingkat perguruan tinggi, menurut Sutrisna pembelajaran tatap muka masih dimungkinkan tentunya dengan penyesuaian. Adapun penyesuaian yang dimasukkan olehnya yakni pengurangan kapasitas jumlah mahasiswa per kelas, kuliah memakai masker, masuk harus cek suhu dan sebagainya.

Sutrisna berpendapat pemerintah harus mengalokasikan anggaran Covid-19 untuk pendidikan khususnya pada penyediaan layanan Internet. Menurutnya bila dilakukan daring keterjangkauan Internet harus diperluas, karena tidak semua anak di wilayah tertentu bisa mengakses Internet. "Di daerah terpencil anak sampai naik pohon naik gunung, itu kan bahaya, saya harap ada anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan," ujarnya.

Salah satu usulan Sutrisna yakni mendorong Pemda untuk bekerjasama dengan provider penyedia Internet. Misalnya dengan mendirikan antena atau penangkap sinyal di daerah terpencil agar masyarakat desa tidak kesulitan. "Provider mendirikan fasilitas tersebut juga ada unsur sosial juga, jangan sepenuhnya keuntungan juga, ini untuk pendidikan bangsa lho," tegasnya.

Aksesibilitas yang belum merata menjadi salah satu utama dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Sutrisna mengatakan acap kali siswa dapat membeli data untuk paket internet namun sinyal internetnya tidak ada. Alhasil siswa melakukan mencari spot-spot yang dirasa cukup baik sinyalnya namun kadang berbahaya seperti di atas pohon.

Tidak hanya itu, Sutrisna juga mengajak masyarakat untuk turut membantu menyelesaikan persoalan Internet dengan pengadaan swadaya. Selain menunggu pemerintah, masyarakat juga bisa secara gotong royong memasang saluran wifi yang selama dipakai anak-anak di kampung untuk belajar.

Meski masih menimbulkan beberapa kegagapan dan penyempurnaan, era pandemi nyatanya juga membawa dampak positif. Menurut Sutrisna secara positif akhirnya masyarakat dipaksa hidup di era Society 5.0 dimana human sebagai center dibantu atau sinergi dengan teknologi dalam aktivitas sehari-hari. "Mari kita percepat transformasi teknologi dalam rangka kehidupan manusia," jelasnya.

Lebih lanjut Sutrisna mengatakan pandemi membuat keluarga memegang peran utama dalam pendidikan. "Karena itu para orang tua mari bersama-sama lebih dalam, lebih intens untuk mendampingi anak-anak belajar dengan baik," ujarnya. Sutrisna berharap semoga dalam pandemi tidak menurunkan semangat pendidikan. "Maju terus pendidikan untuk peradaban bangsa," imbuhnya.