SUMPAH PEMUDA: Generasi Milenial di Sleman Diajak Peduli Sungai

Kepala DLH Sleman Dwi Anta Sudibya bersama sejumlah peserta menebar benih ikan asli (endemik) sungai di Sungai Kuning, Sempu, Wedomartani, Rabu (28/10 - 2020)/Ist
29 Oktober 2020 07:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pegiat sungai yang tergabung dalam Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS), Karang Taruna "Parikesit" Kelurahan Wedomartani, Ngemplak, Pramuka Saka Kalpataru Sleman, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman dan warga sekitar bantaran sungai menggelar Upacara Bendara Peringatan Sumpah Pemuda ke-92 di Jembatan Dam Sungai Kuning, Sempu, Wedomartani, Rabu (28/10/2020).

Kepala DLH Sleman Dwi Anta Sudibya mengatakan pentingnya generasi muda untuk kian peduli kelestarian lingkungan khususnya sungai. "Sungai-sungai kita ini kian tercemar. Bukan hanya disebabkan perilaku warga yang membuang sampah ke sungai, tapi juga aturan yang mengijinjan sejumlah usaha membuang limbahnya ke sungai," terang dia.

BACA JUGA: Bulan Depan, Bio Farma Datangkan 15 Juta Dosis Bulk Vaksin Sinovac

Dia menambahkan, selain para pemuda keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan perlu terus dilakukan. "Jika melihat ada industri atau unit usaha yang membuang limbah atau sampahnya ke sungai, segera laporkan ke kami," tandasnya.

Menurutnya, sejumlah titik sungai yang masih bersih, seperti di Dam Kali Kuning Sempu ini, perlu dijaga. Air yang jernih menjadikan ikan-ikan sungai hidup bebas tanpa terganggu limbah dan sampah. "Momentum Sumpah Pemuda memberi pengingat pada kita semua, khususnya generasi muda, generasi milenial ini bersatu merawat dan melindungi sungai dari beragam polutan pengganggu," kata dia.

Upacara bendera tersebut dihadiri puluhan peserta. Kegiatan juga diisi dengan pembacaan naskah Sumpah Pemuda oleh Karang Taruna. Disusul pembacaaan Tri Satya oleh Saka Kalpataru dan pembacaan Ikrar Sungai Sleman oleh komunitas sungai.

Setelah upacara dilanjutkan bersih Sungai Kuning, Sempu sepanjang 800 meter dan penebaran sekitar 200 bibit ikan wader dan melem, yang merupakan ikan asli sungai. Sebagai bentuk apresiasi dilakukan potong tumpeng oleh Kepala DLH Sleman yang diserahkan kepada perwakilan pemuda karang taruna setempat.

Dalam acara sarasehan yang juga dihelat di pinggir sungai dan beralas rerumputan khas pinggir sungai, Ivan salah satu pegiat Sungai Adem, Girikerto, Turi, mengatakan, acara bincang lingkungan ini bagus. Apalagi digelar dipinggir sungai. "Tempat seperti ini membuat kita kian akran dan cinta dengan lingkungan. Dsn kita jadi pengin terus lihat sungai yang bersih," ujarnya.

Sedang Restu Wahyuni dari Karang Taruna "Parikesit" menyampaikan keinginannya untuk menjadikan bantaran sungai yang masih asri ini sebagai "kampung karang taruna" guna berkegiatan anak-anak muda melestarikan alam.

Hal senada disampaikan pengelola Wisata Ledok Blotan, Abdullah Lubis. Pihaknya terus mengelola lingkungan pinggir di daerahnya. "Ternyata wisata pinggir sungai peminatnya banyak. Jika bisa dikelola warga khususnya anak-anak muda setempat, tentu lebih pas. Jadi tidak perlu bingung cari kerjaan ke luar kota," ungkapnya.

Sarasehan dan bincang-bincang sungai yang dikemas santai dengan formasi duduk di alam bebas, menjadikan sejumlah persoalan lingkungan mampu terungkap lugas. Sesekali ada canda, tawa juga ajakan yang menuntut konsistensi. Demikianlah merawat dan melindungi sungai, butuh generasi yang peduli guna menjaga agar lingkungan lestari. (*)