Simulasi Evakuasi BRSPA Dinsos DIY Terapkan Protokol Kesehatan

Kegiatan simulasi evakuasi anak asuh menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi di BRSPA Dinsos DIY. - Ist/dok
04 Desember 2020 23:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Balai Rehabilitasi Sosial dan Pengasuhan Anak (BRSPA) Dinas Sosial (Dinsos) DIY menggelar dua kali simulasi evakuasi anak asuh menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi. Proses evakuasi anak asuh tetap menerapkan protokol kesehatan.

Kepala Subbag TU BRSPA Dinsos DIY Triwibowo mengatakan simulasi digelar agar sewaktu-waktu aktivitas Merapi meningkat kemudian terjadi erupsi maka para anak asuh dapat dievakuasi sesuai dengan protokol kesehatan (Prokes). Mereka akan dievakuasi ke BRSPA Gunungkidul. "Untuk evakuasi anak-anak yang diasuh ke lokasi yang aman, kami tetap menunggu instruksi dari pimpinan," kata Tri saat ditemui di kantornya, Jumat (4/12/2020).

Dijelaskan Tri, meskipun BRSPA DIY dengan puncak Merapi berjarak 18 kilometer namun keselamatan anak asuh tetap diperhatikan. Mengingat, saat erupsi Merapi pada 2010 material Merapi juga sampai ke gedung tersebut. "Kami harus antisipasi jangan sampai lengah. Ini bagian dari mitigasi dan kesiapsiagan menghadapi bencana Merapi," ujar Tri.

Baca juga: Dana BOS Tambahan Rp889 Miliar di Kemenag Bakal Selesai Dicairkan 20 Desember

Tri mengatakan simulasi evakuasi di BRSPA digelar sebanyak dua kali. Simulasi evakuasi pertama digelar 14 November dan kedua pada 24 November lalu. Simulasi yang dilakukan benar-benar diresapi oleh seluruh warga. Mereka berlarian menuju titik kumpul evakuasi saat sirine berbunyi sebelum diangkut kendaraan. "Jadi benar-benar diikuti seperti sesungguhnya. Mereka diharapkan tidak bingung saat erupsi terjadi mereka melakukan apa. Jadi resikonya kami perkecil dengan simulasi," katanya.

Simulasi evakuasi seluruh warga balai yang digelar, kata Tri, mendapat dukungan dari Posko Aju Tagana DIY. Selain melibatkan anak-anak asuh, juga para petugas, karyawan, pekerja sosial. "Anak-anak sudah dibekali mitigasi bencana. Saat terjadi erupsi, anak-anak sudah menyiapkan bekal secukupnya. Semua bekal sudah disiapkan, tinggal proses evakuasinya," kata Tri.

Baca juga: Morfologi Gunung Merapi di Sisi Barat Berubah

Untuk membawa anak-anak keluar dari balai utama ke BRSPA Gunungkidul, terdapat lima kendaraan yang disiapkan. Meliputi mobil ambulance, dua bus, dan dua truk Tagana DIY. BRSPA Gunungkidul dipilih sebagai lokasi pengungsian karena mereka membutuhkan perlakuan, pendampingam dan perhatian khusus. "Tempat evakuasi sudah disiapkan menampung anak-anak yang akan mengungsi di BRSPA Gunungkidul. Kami siapkan sesuai dengan kelompoknya. Kapasitas di BRSPA di Gunungkidul 100 anak, jadi masih memadai," katanya.

Tri menjelaskan, total anak asuh di BRSPA baik di Sleman maupun Gunungkidul sebanyak 101 anak asuh. Sebanyak 36 anak di BRSPA Gunungkidul dan 65 anak di BRSPA Induk di Sleman. Di gedung ini, terdapat enam kelompok anak asuh di balai tersebut. Di antaranya kelompok balita sebanyak 12 anak termasuk dua bayi, kelompok anak yang membutuhkan perlindungan khusus (12 anak), kelompok anak berkebutuhan khusus, kelompok anak terlantar lainnya.

Selama di balai, anak-anak asuh tersebut mendapatkan fasilitas baik dari sandang, pangan, kesehatan hingga masalah pendidikannya. Anak-anak yang diasuh di balai juga mendapatkan berbagai bimbingan mulai bimbingan rohani, psikolog hingga teknik kebersihan. Di masa pandemi Covid-19, pengelola juga menerapkan prokes untuk melindungi anak-anak dari paparan Covid-19.

"Kami membatasi waktu kunjung orang tua. Kalaupun datang tetap menerapkan prokes dengan pendampingan peksos (pekerja sosial). Tamu yang datang dari luar daerah juga tidak boleh bertemu langsung dengan anak-anak," katanya.