Kepala BPSDMI Tinjau Siswa SMK-SMTI Rakit GeNose

Kepala BPSDMI Kementerian Perindustrian Arus Gunawan (dua dari kanan atau baju biru) meninjau perakitan GeNose di SMK-SMTI Jogja pada Jumat (26/2). Harian Jogja - Sirojul Khafid.
27 Februari 2021 06:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, UMBULHARJO – Link and match antara industri dan sekolah kejuruan menjadi kunci terciptanya kolaborasi yang saling menguntungkan, termasuk dalam merespon kondisi pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Arus Gunawan dalam kunjungannya di Sekolah Menengah Kejuruan - Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMK-SMTI) Jogja.

Secara khusus, Arus meninjau perakitan GeNose atau alat deteksi Covid-19. SMK-SMTI merupakan satu-satunya tempat perakitan GeNose di Indonesia. Setelah seluruh bahan tersedia dari PT. Swayasa sebagai pemilik hak cipta, para siswa-siswi SMK-SMTI akan merakit GeNose untuk kemudian berlanjut pada tahap berikutnya di perusahaan.

“Dasarnya SMK-SMTI dengan jurusannya sudah pas [untuk merakit GeNose], maka tidak terlalu lama untuk segera bisa menyesuaikan atau memahami apa yang diperlukan [dalam proses perakitan],” kata Arus di sela-sela kunjungannya di SMK-SMTI Jogja pada Jumat (26/2/2021).

Apabila jurusan yang berbeda konsen dengan kebutuhan perakitan GeNose, maka prosesnya bisa lama. Sementara di masa pandemi ini, GeNose menjadi salah satu andalan dalam cek maupun tracing kasus positif Covid-19. Saat ini, GeNose telah digunakan di beberapa stasiun. Ke depan, GeNose akan menjangkau tempat publik lain seperti terminal, bandara, perkantoran, dan lainnya.

Selain sumber daya manusia (SDM) SMK-SMTI yang sudah kompeten, peralatan yang tersedia juga semakin mendukung perakitan GeNose secara efektif. “Semoga bisa lebih cepat dan proyeksinya dapat untuk mencegah penularan Covid-19 secara maksimal,” kata Arus.

Untuk memastikan kualitas produk, ada pengecekan di tiap jenjang pembuatan GeNose. Menurut Direktur PT. Swayasa Bondan Ardiningtyas, proses penyesuaian siswa-siswi SMK-SMTI dengan sistem industri tidak memakan waktu lama. Untuk memenuhi permintaan GeNose yang tinggi, penyesuaian SDM dengan dunia kerja menjadi salah satu hal penting.

“Siswa-siswi sangat kooperatif, disiplin dan tangung jawab. Kolaborasi dengan SMK-SMTI cukup strategis, terlebih dengan adanya teaching factory yang dimiliki SMK-SMTI, semoga tetap bisa berkolaborasi,” kata Bondan.

Saat ini, jumlah perakitan GeNose perhari mencapai 250 unit. Ke depan memungkinkan target ini ditambah, terlebih di masa pandemi yang jumlah kasus positifnya masih tinggi ini. “Kondisi pandemi merupakan tanggung jawab kita semua untuk mempercepat pengatasannya, butuh sumber daya manusia yang cepat,” kata Bondan.

Kepala SMK-SMTI Roro Ening Kaekasiwi menyambut baik kepercayaan pihak perusahaan kepada sekolahnya untuk merakit GeNose. Hal ini sebagai bukti kompetensi siswa diakui oleh pihak industri, mulai dari kurikulum, guru, dan sarana-prasarana.

Roro Ening berharap kerja sama ini bisa berjalan secara berkelanjutan. “Untuk ikut berkontribusi dalam hal-hal yang sesuai dengan kompetensi mereka [siwa-siswi],” kata Roro Ening.

Siswa-siswi yang merakit GeNose berasal dari jurusan Kimia Industri dan Teknik Mekatronika kelas 12 dan 13. Mereka masuk dalam lima hari kerja dengan sistem dua sift. Dalam prosesnya, para siswa-siswi mendapat pendampingan dari pihak sekolah dan perusahaan.

“Sebelumnya sudah ada beberapa tahapan pelatihan pretest maupun post test. Siswa-siswi sudah terlatih,” kata Roro Ening.