DISEMINASI NILAI BUDAYA: Pandemi Tidak Menghalangi Rasa Solidaritas

Kepala Kundha Kabudayan Jogja, Yetti Martanti (kedua dari kanan) bersama narasumber dalam acara Diseminasi Nilai Budaya: Menumbuhkan Semangat Solidaritas bagi Masyarakat yang digelar Kundha Kabudayan Jogja di Hotel THE 101 Jogja, Kamis (18/3). (Harian Jogja - Ujang Hasanudin)
19 Maret 2021 07:07 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) yang terjadi di Indonesia dan Jogja pada khususnya tidak menghalangi rasa solidaritas di masyarakat. Hal itu ditunjukkan dengan aksi-aksi kebersamaan dalam berbagai bentuk seperti Jogja Berbagi, Sedekah Cantelan, Berbagi Beras, serta perhatian tetangga untuk warga yang sedang menjalani karantina.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Prodi Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, Tri Subagyo, dalam acara Diseminasi Nilai Budaya: Tumbuhkan Semangat Solidaritas bagi Masyarakat di Hotel THE 101 Jogja, Kamis (18/3). 

Acara yang digelar oleh Kundha Kabudayan atau Dinas Kebudayaan Kota Jogja ini menghadirkan peserta perwakilan generasi muda warga Jogja dalam jumlah terbatas dengan memenuhi protokol kesehatan ketat. 

Subagyo mengatakan saat pandemi Covid-19 melanda dan meledak sekitar setahun lalu di Indonesia terutama di Jawa sempat khawatir apakah nilai kebersamaan akan bertahan atau luluh lantak. Misalnya orang takut ketika kedatangan warga dari luar daerah, tidak bisa lagi kumpul-kumpul dan bersalaman, proses pemakaman yang biasanya dihadiri oleh keluarga dan tetangga sampai ke permakaman diganti oleh petugas kesehatan.

“Tapi ternyata kekhawatiran itu tidak terjadi, muncul aksi-aksi warga dalam membangun kebersamaan seperti sedekah cantelan dan sebagainya untuk saudara yang kehilangan pekerjaan, bahkan sampai sekarang masih ada keranjang makanan yang siapa pun boleh menaruh dan siapa pun bisa mengambilnya. Orang yang diisolasi menjadi tanggungan bersama masyarakat, entah melalui PKK, RT, dukuh, dan kelompok masyarakat lainnya,” kata Subagyo.

“Masyarakat masih menjaga ikatan bahwa kebersamaan itu menjadi bagian penting dalam kehidupan.”

Toleransi Warga

Antropolog sekaligus Pegiat Budaya, Paksi Rara Alit mengatakan masyarakat Jogja sudah menjadi masyarakat global sejak lama, dan itu bisa dibuktikan dengan adanya berbagai komunitas yang tinggal di Jogja, seperti komunitas arab di Kauman, dan komunitas Tinghoa di kawasan Malioboro.

Menurut dia, masyarakat Jawa atau Jogja khususnya sudah lama menganut rasa tepa selira atau toleransi. Bahkan saat ini Jogja seperti miniaturnya Indonesia karena banyak etnis dan agama yang tinggal di Jogja dan masyarakat juga menerimanya. “Jadi Jawaku ya sikap toleransi itu,” kata dia.

Kepala Kundha Kabudayan Jogja, Yetti Martanti mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pengembangan implementasi nilai-nilai luhur budaya dalam masyarakat Jogja.

Sasaran kegiatan generasi muda dengan harapan bahwa nilai-nilai luruhur budaya Jawa khususnya Jogja akan semakin melekat. “Begitu pula selaras dengan zaman yang terus mengalami perubahan. Maka penting adanya peningkatan semangat solidaritas dan kecintaan terhadap budaya. Untuk itu kegiatan yang kami gelar ini mengusung tema Menumbuhkan Semangat Solidaritas Bagi Masyarakat,” kata Yetti. Diseminasi Nilai Budaya digelar dalam tiga tahap. Untuk tahap pertama sudah digelar pada 4 Maret lalu. Acara serupa juga akan digelar pada 23 Maret mendatang.