28 UMKM Kuliner Jogja Ikuti Kurasi, Bidik Pasar Ritel dan Hotel
Sebanyak 28 UMKM kuliner binaan Pemkot Jogja mengikuti kurasi produk untuk meningkatkan kualitas dan membuka akses pasar lebih luas.
Ribuan warga bersiap mengikuti upacara adat tradisi Mubeng Beteng Kraton Jogja di malam 1 Sura, Kamis (26/6/2025) malam. /Harian Jogja-Stefani Yulindriani Ria.
Harianjogja.com, JOGJA—Ribuan orang mengikuti prosesi mubeng beteng yang digelar Karaton Jogja sebagai bagian dari peringatan malam 1 Muharram 1447 Hijriah atau 1 Sura Dal 1959 pada Kamis (26/6/2025) malam hingga Jumat (2/7/2025) dinihari.
Ketua Paguyuban Abdi Dalem DIY, KRT Kusumanegara menyampaikan mubeng beteng tersebut digelar untuk merefleksikan peristiwa yang terjadi di masa lalu dan harapannya akan masa yang akan datang.
"Ini adalah upaya kita dari masyarakat Jawa berdoa kepada Allah agar di tahun yang akan datang lebih baik," katanya di Keraton Jogja, Kamis (26/6/2025).
BACA JUGA: Kuota Terbatas! Ini Lokasi SIM Keliling Akhir Pekan Sabtu 28 Juni 2025 di Bantul
Selain itu, menurutnya mubeng beteng juga dimaknai sebagai upaya membentengi keimanan dari perilaku yang tidak berkenan bagi Allah dan sesama manusia. Tahun ini, penanggalan Jawa memasuki tahun Dal, sehingga malam 1 Sura jatuh pada malam Jumat Kliwon.
Kusumanegara menambahkan Tahun Dal merupakan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tahun tersebut, malam 1 Sura jatuh pada malam Jumat Kliwon. Tahun Dal sendiri jatuh setiap delapan tahun sekali.
Selama Tahun Dal, ritual upacara adat yang digelar Kraton Jogja pun lebih besar dibandingkan dengan tahun lainnya. Seperti labuhan yang digelar untuk memperingati kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X yang biasanya digelar pada tiga lokasi, bertambah pada tahun ini.
Dalam ritual Mubeng Beteng ini seluruh peserta diminta meminimalkan komunikasi. "Aturan yang disepakati keliling Beteng meminimalkan komunikasi yang tidak perlu. Dalam bahasa Jawa disebut tapa bisu, karena diharapkan di sini untuk berdoa. Menjaga kekhidmatan, banyak berdoa, agar tahun yang akan datang lebih sukses," ujarnya.
Dalam ritual Mubeng Beteng, ada sejumlah abdi dalem dan ribuan masyarakat yang mengikuti prosesi itu. Kusumanegara menuturkan prosesi mubeng beteng tersebut digelar oleh abdi dalem Keraton Jogja. Abdi dalem pun tidak diwajibkan mengikuti gelaran tersebut.
"Secara prinsip mereka harus kuat karena ini perjalanan yang cukup melelahkan karena dilakukan di malam hari, memerlukan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam," ucapnya.
Dia menerangkan jarak yang ditempuh dalam prosesi tersebut mencapai sekitar lebih dari empat kilometer. Oleh karena itu, abdi dalem yang mengikuti prosesi mubeng beteng harus memiliki fisik yang bugar.
Salah satu warga Mergangsan, Kota Jogja, Anik mengaku telah mengikuti prosesi tersebut secara rutin. Malam ini ia mengikuti Mubeng Beteng tersebut bersama dengan putrinya. Anik mengikuti prosesi tersebut karena ingin melakukan tirakat sembari berdoa agar mendapat nasib yang lebih baik di masa mendatang.
"Sambil tirakat, berdoa biar di tahun baru lebih baik hidupnya," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 28 UMKM kuliner binaan Pemkot Jogja mengikuti kurasi produk untuk meningkatkan kualitas dan membuka akses pasar lebih luas.
Arsenal resmi mendatangkan Ezri Konsa dari Aston Villa dengan transfer permanen. Bek Inggris itu akan mengenakan nomor punggung 15.
Presale konser Andrea Bocelli Romanza dibuka BNI mulai 21 Agustus 2026. Ada diskon hingga 20% dan cicilan hingga 12 bulan.
Paus Leo memperingatkan AI tidak boleh mengurangi nilai kemanusiaan dan meminta pemimpin politik memastikan teknologi melayani kepentingan bersama.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai kini waktu tepat mengakhiri perang dengan AS saat Iran berada dalam posisi kuat dan bermartabat.
PBB menyebut wabah Ebola di RD Kongo menyebar cepat. Kasus mencapai 5.208 dengan 2.476 kematian, sementara kebutuhan dana terus meningkat.