Advertisement
Pameran Pangastho Aji Keraton Jogja Ditutup Meriah dengan Tari Klasik
Penutupan Pangastho Aji: Laku Sultan Kedelapan di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Sabtu malam (24/1/2026). - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA — Rangkaian pameran temporer bertajuk Pangastho Aji: Laku Sultan Kedelapan di Keraton Yogyakarta resmi berakhir setelah berlangsung selama hampir empat bulan. Penutupan pameran digelar meriah di Pagelaran Keraton Yogyakarta pada Sabtu malam (24/1/2026) dengan suguhan tarian klasik Beksan Pethilan Gatotkaca Setija dan Bedhaya Bontit yang memukau para tamu undangan dan pengunjung.
Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, hadir langsung dalam acara tersebut didampingi GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Notonegoro, KPH Yudanegara, serta RA Nisaka Irdina dan RM Radityo Mandhala Yudo. Kehadiran keluarga besar Keraton menambah kekhidmatan prosesi penutupan pameran yang mengangkat perjalanan sejarah Sultan kedelapan tersebut.
Advertisement
Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, GKR Bendara, mengungkapkan bahwa pameran Pangastho Aji lahir dari kegelisahan generasi muda dalam menelusuri asal-usul serta peristiwa sejarah yang berkaitan erat dengan identitas mereka.
Ia menilai, perhatian masyarakat terhadap sejarah kini kembali menguat, sehingga Keraton Yogyakarta berupaya menjawab kebutuhan tersebut melalui penyelenggaraan pameran berbasis narasi masa lampau.
BACA JUGA
“Kegelisahan generasi muda dalam menelusuri asal usul, cikal bakal atau peristiwa yang dianggap berhubungan dengan mereka kembali memiliki perhatian. Berkaca pada kegelisahan di masyarakat, Kraton Yogyakarta terus berupaya untuk menghadirkan pameran melalui sejarah dengan tujuan memenuhi dahaga pengetahuan secara berkelanjutan,” ujar GKR Bendara dalam sambutannya.
Pameran Pangastho Aji berlangsung sejak 27 September 2025 hingga 24 Januari 2026 di Kompleks Kedhaton Keraton Yogyakarta. Melalui pameran ini, publik diajak menelusuri perjalanan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII sejak masih bergelar GPH Puruboyo hingga dinobatkan sebagai raja pada 8 Februari 1921. Berbagai peran penting sang sultan sebagai pemimpin visioner dalam pembangunan fisik keraton, seni pertunjukan, serta tata kelola budaya turut disajikan secara komprehensif.
GKR Bendara menuturkan bahwa penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII berlangsung dalam atmosfer politik yang cukup kuat. Kondisi tersebut dipicu kegagalan tiga saudara laki-lakinya untuk naik takhta, namun justru mengantarkan masa pemerintahan yang sarat pembaruan di bidang sosial, ekonomi, dan seni.
Ia menyebut, pada periode itu terjadi perwujudan budaya visual secara masif, yang terlihat jelas dari perubahan ornamen bangunan keraton pascapemugaran yang semakin megah dan artistik.
“Pada masa pemerintahan yang bersamaan, praktik perwujudan budaya visual masif terjadi. Perubahan kentara terlihat pada ornamen-ornamen bangunan kraton yang begitu megah setelah dipugar,” katanya.
Tak hanya pembangunan fisik, perhatian besar juga diarahkan pada seni pertunjukan, khususnya Wayang Wong yang berkembang pesat dan mendapat dukungan luas dari masyarakat. Catatan jurnalis Belanda Dr. Van Blankenstein bahkan membandingkan suasana Keraton Yogyakarta kala itu dengan Kekaisaran Jerman di bawah Wilhelm I yang dikenal serius memajukan kebudayaan.
Menurut GKR Bendara, pewarisan budaya di tengah modernitas tidak cukup hanya menjaga kemurnian tradisi, melainkan juga mengembangkan warisan tersebut agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan generasi masa kini.
Selama hampir empat bulan penyelenggaraan, pameran Pangastho Aji berhasil menarik lebih dari 260.000 pengunjung serta didukung lebih dari 10 program publik yang melibatkan berbagai kalangan, mulai dari diskusi sejarah hingga pertunjukan seni tradisi yang memperkaya pemahaman masyarakat terhadap perjalanan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII sekaligus dinamika budaya Keraton Yogyakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
BPKH Pastikan Pembiayaan Haji 2026 Aman Meski Rupiah Melemah
Advertisement
Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan
Advertisement
Berita Populer
- Angin Kencang Landa Jogja dan Sekitarnya, BMKG: Dampak Siklon Luana
- 3 Acara di DIY Masuk Katalog Kharisma Event Nusantara, Ini Daftarnya
- Angin Kencang Terjang DIY, BPBD Catat 2 Warga Sleman Meninggal Dunia
- Taman Budaya Bantul Dirancang Jadi Pusat Budaya dan Wisata
- Pemkab Bantul Perluas TK Negeri untuk Pendidikan Anak Usia Dini
Advertisement
Advertisement



