Pengguna KRL Jogja-Solo Meningkat Drastis

Ilustrasi.
05 April 2021 13:17 WIB Farida Trisnaningtyas Jogja Share :

Harianjogja.com, SOLO—Kereta rel listrik (KRL) Joga - Solo makin diminati masyarakat sejak beroperasi pada 10 Februari 2021. Hal terbukti dari jumlah rata-rata pengguna KRL yang naik setiap bulannya. Pada Maret 2021 tren penumpang KRL naik 31 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya.

VP Corporate Secretary KCI, Anne Purba, mengatakan KRL Jogja - Solo menjadi salah satu transportasi pilihan utama bagi masyarakat di wilayah Yogyakarta, Kota Solo, Klaten, dan daerah-daerah sekitarnya. Hal ini terlihat dari tren jumlah pengguna yang terus tumbuh.

Menurutnya, pada awal pengoperasian layanan KRL tersebut, KCI mengoperasikan sebanyak 20 perjalanan setiap harinya. Saat ini mulai 1 April 2021, KRL jalan dengan 22 perjalanan pada hari kerja dan 24 perjalanan pada akhir pekan. Penambahanperjalanan KRL tersebut berbanding lurus dengan pertumbuhan volume pengguna.

BACA JUGA : KRL Jogja Solo Tambah 6 Perjalanan Akhir Pekan Ini

“KCI mencatat rata-rata pengguna KRL Jogja-Solo selama Februari 2021 sebanyak 4.809 orang per hari. Sedangkan pada Maret 2021, rata-rata pengguna hariannya sebanyak 6.328 orang atau naik 31,5 persen,” kata dia, kepada wartawan, akhir pekan lalu.

Anne menambahkan tren pengguna KRL Jogja -Solo juga berbeda dengan pengguna KRL di wilayah Jabodetabek. Jika tren pengguna KRL Jabodetabek ramai pada hari dan jam kerja, penumpang KRL Jogja -Solo lebih banyak pada akhir pekan jika dibandingkan hari kerja.

KCI menyebut pada Maret 2021 menunjukkan rata-rata pengguna KRL Jogja - Solo pada akhir pekan dan hari libur mencapai 8.382 orang. Sedangkan pada harikerja rata-rata 5.488 orang per hari. Jumlah tertinggi pengguna KRL Jogja - Solo tercatat pada libur akhir pekan panjang kali ini, yakni Jumat (2/4/2021)dengan sebanyak 9.763 orang.

Menurutnya, tumbuhnya jumlah pengguna berasal dari ketersediaan sarana dan prasarana perkeretaapian yang lebih mendukung. Kapasitas sarana KRL memungkinkan untuk lebih banyak melayani pengguna dibandingkan dengan KA Prameks yang sebelumnya melayani di lintas tersebut.

Dengan jumlah 4 kereta pada setiap rangkaian (stamformasi / SF 4), KRL pada masa normal dapat melayani 1.000 orang dalam satu kali perjalanan. Namun demikian, dalam masa pandemi ini KCI mengatur kapasitas pengguna sebanyak 74 orang untuk setiap kereta.

Pembatasan ini disiasati dengan mengoperasikan rangkaian KRL yang lebih panjang, yakni rangkaian yang terdiri dari 8 kereta (stamformasi / SF 8). Jika pada awal operasional seluruh rangkaian yang beroperasi adalah SF 4, maka saat ini sudah 2 dari 3 rangkaian yang setiap harinya beroperasi menggunakan SF 8.

Dari sisi prasarana, pemberhentian di stasiun untuk pelayanan naik-turun pengguna juga bertambah dibandingkan layanan KA Prameks. KRL Jogja -Solo melayani 11 stasiun pemberhentian atau 4 stasiun lebih banyak dibanding layanan KA Prameks.

Stasiun yang dibuka untuk layanan pengguna sejak KRL beroperasi adalah Stasiun Gawok, Stasiun Delanggu, Stasiun Ceper, dan Stasiun Serowot. Setelah dibuka KRL, saat ini PT KAI sedang meningkatkan fasilitas layanan parkir di empat stasiun tersebut dan di Stasiun Brambanan untuk mengakomodasi kebutuhan para pengguna.

BACA JUGA : Ingin Naik KRL Jogja–Solo? Ini Cara Beli Tiketnya

“Pertumbuhan pengguna KRL di empat stasiun tersebut juga terus bertambah. Rata-rata perhari pengguna KRL yang naik dari empat stasiun itu pada Maret 2021 sebanyak 522 orang. Data tersebut naik sebesar 49 persen dibanding Februari 2021, yakni sebanyak 350 orang per hari,” imbuh dia.

Manager External Relations PT KCI, Adly Hakim, menambahkan KCI juga memberlakukan aturan dalam perjalanan KRL yang berbeda. Kebijakan ini terkait penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker tiga lapis atau masker medis, mencuci tangan sebelum dan sesudah naik KRL, menjaga jarak dengan mematuhi marka yang ada di stasiun.

Selain itu, ada pula pemeriksaan suhu tubuh calon pengguna, larangan berbicara secara langsung maupun menggunakan telepon seluler, dan tidak diperbolehkan makan atau minum di dalam perjalanan KRL.

“KCI berharap, dengan pengoperasian pelayanan perjalanan KRL ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Yogyakarta dan Solo serta di sejumlah daerah lainnya yang menjadi stasiun pemberhentian untuk naik dan turun pengguna KRL,” ungkap dia.

Sementara itu, salah satu pengguna KRL, Putri Ayu, berharap jumlah rangkaian KRL ditambah mengingat kian banyaknya peminat yang memanfaatkan moda transportasi. Apalagi ini masa pandemi sehingga pihaknya berharap KCI lebih memperhatikan penerapan protokol kesehatan. “Ya, kadang kala KRL mogok, mungkin karena persinyalan listriknya ada masalah atau bagaimana. Jadi, dua jadwal KRL dijadikan satu sehingga KRL penuh,” jelas dia.

Sumber : JIBI/Solopos