Kisah Cinta & Sate Beracun di Bantul: Wanita Pengirim Racun Dapat Saran dari Laki-Laki yang Mencintainya

Na, 25, pengirim sate beracun yang menewaskan Naba Faiz Prasetya, 9, saat dihadirkan di hadapan awak media di Mapolres Bantul, Senin (3/5/2021). - Harian Jogja/Jumali
03 Mei 2021 13:07 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Na, 26, perempuan yang diduga mengirim sate beracun yang menewaskan bocah sembilan tahun di Sewon, Bantul, terancam hukuman mati. Na mengirimkan sate beracun karena cintanya tak kesampaian. Namun, dia salah sasaran sehingga yang meninggal dunia kerana racun bukan pria yang dia cintai, tetapi anak driver ojek online (ojol).

Kasatreskrim Polres Bantul AKP Ngadu mengatakan Na ditangkap di sekitar Potorono, Sewon, Bantul.  Perempuan asal Majalengka, Jawa Barat tersebut ditangkap setelah kepolisian melakukan penyelidikan selama empat hari. Na mengakui perbuatannya.

BACA JUGA: Sidang Kasus Kerumunan: Rizieq Bawa 2 Saksi Fakta, Jaksa Enggan Tanya

"Motifnya, sakit hati karena target [Tomi] menikah dengan perempuan yang lain," katanya di Mapolres Bantul, Senin (3/5/2021).

Na awalnya ingin memberi pelajaran kepada Tomi, polisi yang dicintainya. Sebab, Romy menikahi wanita lain. Na kemudian curhat dengan salah satu teman lelakinya yang sebenarnya mencintai Na. Teman tersebut menyarankan Na memberikan racun kepada Tomy agar Tomy mencret. Na kemudian mengikuti saran dari lelaki yang mencintainya.

“Na menaruh KCN di bumbu sate yang dikirimkan, harapannya menjadi pembelajaran untuk Tomy,” katanya.

Namun, racun itu salah sasaran.

Naba Faiz Prasetya, 9, bocah kelas IV SD Muhamadiyah Karangkajen IV meninggal dunia setelah menyantap sebungkus sate kiriman Na. Sate tersebut diperoleh Bandiman, 47, ayahnya, driver ojol, dari wanita tak dikenal yang ternyata belakangan diketahui sebagai Na.

BACA JUGA: Wamenag: Orang yang Tidak Mudik itu Sama dengan Berjihad

Bandiman mengatakan peristiwa itu terjadi pada Minggu lalu sekitar pukul 15.30 WIB. Saat itu dia hendak berangkat bekerja sehabis Salat Asar di salah satu masjid di Jalan Gayam, Umbulharjo. Namun saat hendak berangkat dia dihampiri oleh seorang wanita dan dimintai tolong untuk mengantarkan paket berbuka puasa ke alamat seorang.

"Saya bilang pakai aplikasi saja tapi dia tidak mau karena dibilang enggak punya. Dia langsung kasih alamat dan nomor HP terus suruh kirim ke alamat Pak Tomy di Kasihan dan bilang dari Pak Hamid. Saya minta ongkosnya Rp25.000 tapi dia kasih Rp30.000, tapi dia tidak kasih nomor telepon dari pengirim," kata Bandiman.

Dia lantas mengirim paket tersebut ke alamat tujuan. Sesampainya di lokasi dia menelepon si penerima, namun si penerima masih di luar kota dan meminta agar paket tersebut diberikan kepada istrinya yang berada di rumah. "Tapi istrinya tidak mau terima karena bilang tidak kenal sama Pak Hamid dan menyuruh agar paketnya dibawa saja untuk saya buat buka puasa, lalu saya bawa pulang," ujarnya.

BACA JUGA: Merapi Luncurkan Awan Panas dan Lava Pijar ke Barat Daya

Sesampainya di rumah, Bandiman langsung membuka paket makanan itu dan menyantapnya bersama anggota keluarganya. Dia masih sempat memakan sate sebanyak dua tusuk dan tidak merasakan apa-apa, begitu pula dengan anak pertamanya. "Sebenarnya Naba juga dapat takjil dari TPA yakni gudeg, tapi karena dia memang suka sate jadi ditukar. Saya masih sempat makan dua tusuk dan tidak apa-apa. Tapi karena Naba dan istri saya makannya dicampur dengan bumbunya, mereka keracunan," jelas dia.

Setelah memakan sate yang dicampur bumbu itu, Naba langsung merasakan pahit di tenggorokan. Dia juga sempat meminum air beberapa teguk untuk membantu sate yang terasa pahit masuk ke dalam perut. Sehabis itu dia muntah di dapur dan langsung tergeletak denganmulut mengeluarkan busa. "Napasnya sudah satu-satu pas di situ dan langsung saya bawa ke rumah sakit untuk diperiksa," ujarnya.

BACA JUGA: Kerumunan Pasar Tanah Abang Ngeri, DPR: Bisa Belajar dari India!

Istri Bandiman yang memakan sate dicampur bumbu juga merasakan demikian. Namun, dia berusaha memasukkan jarinya ke dalam tenggorokan untuk mengeluarkan sate beserta bumbunya dan lantas muntah. "Istri saya tidak apa-apa, cuma muntah saja," ujar dia.

Sesampainya di rumah sakit sekitar pukul 18.50 WIB, Naba dinyatakan dokter meninggal dunia akibat racun. Menurut Bandiman, dokter menyebut racun yang terdapat pada bumbu sate itu lebih keras dibanding dengan racun hama pertanian. "Baunya menyengat sekali memang dan waktu di dalam mobil itu seperti bau gosong terbakar," katanya.

Sumber : Okezone.com