GeNose Sudah Dilarang? Ini Klarifikasi Tim

GeNose C19 adalah alat pendeteksi virus corona yang dikembangkan para peneliti di Universitas Gajah Mada dan sudah mendapatkan Izin Edar dari Kementerian Kesehatan. / KEMENTERIAN BUMN
07 Juli 2021 19:17 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Sempat marak dikabarkan GeNose C19 dilarang digunakan sebagai syarat perjalanan bahkan ditarik izin edarnya. Menanggapi hal ini, tim peneliti alat skrining Covid-19 melalui hembusan nafas ini menegaskan sampai saat ini GeNose masih digunakan di berbagai sektor publik dan izin edarnya masih berlaku.

Juru Bicara Tim GeNose, M. Saifudin Hakim, menjelaskan Informasi dilarangnya GeNose merupakan kesimpulan sepihak atas kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang tidak memasukkan GeNose sebagai syarat melakukan perjalanan selama PPKM Darurat.

“Banyak berita negatif dan bahkan cenderung tidak benar soal GeNose yang harus diluruskan kepada publik. Izin edar GeNose C19 juga masih berlaku sehingga tidak ada alasan untuk melakukan pelarangan penggunaan GeNose C19 di masyarakat,” ujarnya, Rabu (7/7/2021).

BACA JUGA: Covid-19 DIY Bertambah 1.370 & 32 Orang Meninggal dalam Sehari

Kesempatan libur penggunaan GeNose C19 di sektor transportasi digunakan oleh Tim Peneliti dan Pengembang GeNose untuk menambah data varian baru virus Covid-19 ke kecerdasannya. Uji Validasi Eksternal masih dijalani oleh GeNose C19.

Hal itu akan membantu hidung elektronik mengendus terduga Covid-19 dengan lebih akurat pada situasi penggunaan riil di lapangan. “Akurasi GeNose sampai saat ini masih di angka 93-94% dan akan terus kita tingkatkan,” katanya.

Menurutnya, penambahan data varian baru Covid-19 akan semakin memperkuat Artificial Intelligence (AI) dan akurasi GeNose C19. GeNose C19 justru harus semakin terus digunakan pada situasi riil agar semakin cerdas. “GeNose C19 ini ibarat hidung sekaligus otak elektronik. Jika keduanya dilatih terus secara serempak, kita akan memiliki teknologi inovatif yang praktis, simpel, dan tepat,” ungkapnya.

Ia juga menepis keraguan masyarakat terhadap kemampuan GeNose C19 mendeteksi kemungkinan Covid-19 pada pengguna. Data tim peneliti menunjukkan bahwa GeNose C19 mampu mendeteksi terduga pengguna positif Covid-19 pada koridor perjalanan.

Data itu mencerminkan tingkat persentase positif atau positivity rate sebesar 9% pada populasi calon pejalan yang tanpa gejala atau merasa sehat. Angka tersebut mendekati rata-rata tingkat positif nasional setinggi 14%.

Saat ini GeNose C19 juga masih tetap dipergunakan sebagai alat skrining di berbagai sektor dan kegiatan, antara lain perkantoran, kampus, pondok pesantren, dan korporasi. Ia menegaskan operator GeNose C19 tidak akan rugi memiliki GeNose C19.

“Ke depannya, GeNose C19 bisa kita kembangkan untuk mendeteksi penyakit-penyakit terkait pernapasan lainnya, tidak hanya Covid-19. Hanya dengan mengganti ‘otak’-nya itu tadi,” katanya.