Puskesmas di Jogja Minta Warga yang Isoman Intens Komunikasi dengan Petugas

Petugas menyiapkan fasilitas untuk isolasi pasien COVID-19 saat persiapan Shelter Isolasi COVID-19 di University Club (UC) Hotel Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, D.I Yogyakarta, Rabu (14/7/2021). / ANTARA FOTO - Andreas Fitri Atmoko
28 Juli 2021 20:07 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Agar penanganan warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman) bisa tepat, maka perlu adanya komunikasi yang inten dan terbuka kepada petugas puskesmas. Menurut Kepala Puskesmas Danurejan 1, Dewi Widowati, informasi yang terbuka dari warga isoman sangat membantu tenaga kesehatan dalam memberikan jenis penanganan yang tepat. Terlebih saat beberapa waktu lalu kasus sempat meningkat, keterbatasan petugas harus merangkap dalam menangani beberapa pasien.

Sebelumnya, pasien isoman di Danurejan sempat berjumlah 150 orang. Saat ini sudah menurun sekitar 66 orang. Satu nakes dari puskesmas tidak bisa hanya memantau dan mendampingi satu orang, namun sekaligus satu rumah yang bisa berisi dua atau lebih orang. Ada pendampingan dan pemantauan terkait keluhan, gejala, serta edukasi protokol kesehatan. Pasien isoman juga bisa bertanya hal-hal terkait Covid-19.

“Tidak semua pantauan dan pendampingan dengan kunjungan, karena banyaknya kasus dan banyaknya ketugasan serta pertimbangkan resiko untuk petugas, kami lebih selektif, sebagian besar melalui telfon, WhatsApp, atau vidoe call,” kata Dewi saat dihubungi secara daring, Rabu (28/7/2021).

BACA JUGA: Malioboro dan Jalan Protokol Lain Tetap Akan Digelapkan

Tidak semua orang yang isoman juga dipindah ke shelter. Namun banyak pertimbangan dari sisi sarana prasarna rumah, kondisi pasien, dan sebagainya. Misal rumahnya memungkin untuk isoman, maka tidak perlu ke shelter. Orang lansia yang tidak memiliki pendamping apabila di shelter juga lebih baik di rumah. Efek psikologis juga menjadi pertimbangan, kebanyakan lebih nyaman berada di rumah.

“Banyak hal yang perlu didiskusikan, masuk shelter atau tidak bukan dari satu pihak, tapi dirembug bersama. Kadang warga yang bukan kontak erat ingin kirim makanan jadi lebih mudah. Shelter kota juga terbatas,” kata Dewi.

Puskesmas Danurejan 1 juga memiliki tenaga psikolog. Untuk warga isoman yang membutuhkan juga bisa menggunakan fasilitas ini. Bagi masyarakat isoman bisa mendapatkan obat sesuai gejala, multivitamin, serta madu apabila persediaan aman.

Sejauh ini belum terdeteksi warga yang masuk kewenangan Puskesmas Danurejan 1 yang meninggal selama isoman. Adapun pasien Covid-19 yang meninggal saat sudah berada di rumah sakit. Dewi mengatakan apabila pemahaman warga terkait isoman semakin baik dari sebelumnya, sudah proaktif.

Kasus yang tinggi juga terjadi di wilayah kewenangan Puskesmas Gondokusuman 1. Menurut Kepala Puskesmas Gondokusuman 1, Francisca Bambang, sempat kasus mencapai angka 500. Pemantauan dan pendampingan yang sebelumnya aktif dari petugas puskesmas, kini dilakukan sebaliknya. Saat kasus sampai ratusan, puskesmas meminta warga yang lebih proaktif melaporkan kondisinya pada petugas. Tidak bisa lagi petugas menghubungi warga isoman satu-persatu seperti sebelumnya.

Pemindahan warga isoman ke shelter juga sesuai kondisi rumah, gejala, dan lainnya. “Kami lebih utamakan [ke shelter] kalau kondisi rumah tidak memungkinkan, kalau rumahnya memungkinkan kami sarankan untuk dirumah saja engga apa-apa. Kalau di shelter sendirian, di tempat baru, bisa stres,” kata Francisca.

Sejak Juni sampai saat ini, sudah ada sebelas warga di wilayah kewenangan Puskesmas Gondoskuman 1 yang meninggal positif Covid-19 saat di rumah. Ada yang meninggal saat isoman. Beberapa orang yang meninggal saat isoman memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Adapula yang meninggal tidak melapor apabila isoman, namun saat jenazah dites, ternyata positif Covid-19.

“Paling banyak lansia yang sudah tidak bisa kemana-mana. Kondisi sakit di rumah, setelah meninggal di-swab hasilnya positif,” kata Francisca.

Francisca mengimbau warga yang isoman bisa menjaga komunikasi yang inten dengan petugas puskesmas. “Akan kami bantu untuk penanganannya. Kemudian melaporkan misal ada gejala, positif harus jujur, memberikan semua informasi kepada petugas. Tujuan kami hanya mencegah atau membatasi gerak dari virus ini,” katanya.