Astaga...Warga Positif Covid-19 Berkeliaran saat Iduladha, Tulari Satu Kampung di Donokerto Sleman

Ilustrasi. - Freepik
30 Juli 2021 18:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Klaster komunitas kembali muncul di Donokerto, Kapanewon Turi setelah salah seorang warga yang positif Covid-19 berkeliaran. Akibatnya, puluhan warga pun terpapar Covid-19.

Lurah Donokerto R Waluyo Jati mengatakan lonjakan kasus positif Covid-19 di kalurahannya kembali terjadi setelah perayaan Iduladha. Saat ini tercatat lebih dari 166 warga Donokerto melakukan isolasi mandiri akibat terpapar Covid-19.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 46 warga terpapar Covid-19 setelah perayaan Iduladha. Kasus terbanyak, kata Waluyo, terdapat di padukuhan Gading Wetan. Jumlah warga yang terpapar di padukuhan ini sekitar 35 warga. Penyebabnya, kata Waluyo, ada warga yang positif Covid-19 berkeliaran sehingga menulari warga lainnya.

"Ada warga yang harusnya isolasi mandiri karena termasuk yang ditracing tidak jujur melakukan isolasi mandiri. Bahkan ia berbaur mengikuti salat jemaah saat Iduladha dan ikut membantu penyembelihan hewan kurban," katanya saat dikonfirmasi Harianjogja.com, Jumat (30/7/2021).

BACA JUGA: Indonesia Kembali Terima 1,5 Juta Sinopharm untuk Vaksinasi Gotong Royong

Lonjakan kasus baru tersebut, kata Waluyo terjadi sejak 24-25 Juli kemarin. Kondisi tersebut, katanya berdampak pada penambahan jumlah kasus positif Covid-19 di kalurahannya. Padahal sebelum Iduladha, Satgas dan Kalurahan Donokerto sudah meminta agar warga tidak menggelar solat Iduladha berjemaah sesuai imbauan Bupati Sleman.

"Selama PPKM Darurat diterapkan, sebenarnya kasusnya mulai menurun. Landai. Setelah Iduladha ini mulai naik lagi. Sebelum kasus baru ini ada 120 warga yang isoman, saat ini sudah 166 warga," katanya.

Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Donokerto, Satgas pun mengambil kebijakan untuk menerapkan PPKM Mikro di Kampung Gading Wetan. Alasannya, kata Waluyo, kampung tersebut sudah masuk zona merah dan agar virus Corona tidak menyebar ke warga lainnya. Mereka saat ini menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.

"Sebenarnya orang ini (warga yang positif Covid-19) tidak percaya Corona. Dia ke sana ke mari bilang ke warga, tidak ada Corona. Padahal ia positif Covid-19. Dia sendiri saat ini dalam kondisi kritis," kata Waluyo.

Dia mengatakan, sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia sudah sekitar 500 warga yang terjangkit virus tersebut. Dari jumlah tersebut sebagian besar sudah sembuh hanya sembilan warga yang meninggal dunia. "Kamis kemarin, ada satu warga kami yang meninggal karena Covid-19," katanya.

Ia berharap warga disiplin menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Warga diminta tidak menyepelekan pandemi ini karena Covid-19 itu nyata. "Mari sama-sama menjaga diri dan orang lain agar pandemi Covid-19 ini segera diatasi. Kami sampaikan virus Covid-19 ini nyata, sudah banyak buktinya. Mari patuhi protokol kesehatan," pinta Waluyo.

Terpisah, Juru Bicara Satgas Covid-19 Sleman Shavitri Nurmala Dewi mengatakan per 30 Juli jumlah kasus positif Covid-19 di Sleman bertambah 533 kasus. Adapun jumlah pasien yang sembuh 658 kasus dan yang meninggal 21 kasus.

"Kasus aktif di Sleman turun 246 kasus menjadi 6.852 kasus, yang terkonfirmasi positif total 33.684 kasus, sembuh 25.515 kasus dan yang meninggal 1.317 kasus," katanya.