Mobilitas Turun, Strategi Pendampingan Isoman Disiapkan

Ilustrasi. - ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
05 Agustus 2021 09:17 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Penurunan mobilitas di Bantul masih belum berdampak pada penurunan kasus yang signifikan. Pendampingan pasien isolasi mandiri atau diharapkan bisa meningkatkan kesembuhan pasien.
Ketua Harian Satgas Covid-19 Bantul, Joko Purnomo pada Selasa (3/8/2021) memaparkan terjadi penurunan mobilitas masyarakat sebesar 22 persen. Hanya saja, Joko masih mengupayakan bagaimana penurunan mobilitas bisa selaras dengan penurunan angka Covid-19. 
"Mobilitas kita menurun hampir 22 persen. Moblitas di jalan itu turun. Sekarang ini tinggal bagaimana penurunan mobilitas ini harus diikuti [penurunan] angka covidnya," tambahnya.
Pada perpanjangan PPKM Level 4 ini, Joko tengah mempersiapkan skema pendampingan pasien isoman bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). "FPRB Akan membantu kita melakukan program pendampingan di selter-selter dan juga beberapa warga yang masih isolasi mandiri," tandasnya.
Program pendampingan pasien isolasi mandiri dinilai penting agar selalu memperoleh data riil terbaru pasien di lapangan beserta kondisinya. "Kita harus pastikan tahu data isoman kita. Data isoman yang komorbid. Data isoman yang kekurangan logistik kemudian, warga yang belum tervaksin. Ini harus kita pahami dan kita ketahui," jelasnya. 
Ketua FPRB Bantul, Waljito menuturkan bila pasien isoman di rumah maupun selter membutuhkan pendampingan psikososial. "Karena banyak yang melakukan isoman itu justru menuju sakit, bukan menuju sehat," ujarnya.
Hasil kajian tim FPRB kepada warga yang sedang isoman menemukan banyak warga yang membutuhkan pendampingan psikologi. Kondisi pasien bisa berubah tiba-tiba bila mendapatkan pemicu tertentu. "Ada yang mendengar suara ambulans kondisi dia [pasien] langsung drop. Mendengar suara pengumuman kematian atau layatan di masjid-masjid pun drop," tukasnya.