Advertisement

Dua Gempa Selatan Jawa Berbeda Sumber, Ini Penjelasan Pakar UGM

Catur Dwi Janati
Kamis, 29 Januari 2026 - 05:57 WIB
Sunartono
Dua Gempa Selatan Jawa Berbeda Sumber, Ini Penjelasan Pakar UGM Pusat gempa Bantul, Selasa (27/1/2026) berada di darat. - ist - BMKG

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Dua gempa bumi yang terjadi di selatan Pulau Jawa pada Selasa (27/1/2026) memiliki karakter sumber dan kekuatan yang berbeda, sehingga menimbulkan efek guncangan yang tidak sama saat dirasakan masyarakat di berbagai wilayah.

Gempa pertama terjadi pada pukul 08.20 WIB dengan magnitudo 5,7. Pusat gempa berada sekitar 24 kilometer arah tenggara Pacitan, Jawa Timur, dengan kedalaman 122 kilometer. Beberapa jam berselang, tepatnya sekitar pukul 13.15 WIB, gempa kembali terjadi dengan magnitudo 4,4 dan berpusat di timur laut Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Advertisement

Pakar Gempa dari Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Gayatri Indah Marliyani, menjelaskan gempa yang terjadi di Pacitan termasuk kategori gempa intraslab. Jenis gempa ini bersumber dari dalam lempeng samudra yang tersubduksi atau dikenal sebagai slab.

Gayatri menerangkan, deformasi lempeng terjadi ketika lempeng samudra terus terdorong ke dalam. Tekanan yang berkelanjutan menyebabkan perubahan bentuk dan pergeseran lempeng, yang kemudian memicu terjadinya gempa bumi.

“Perubahan dan pergeseran lempeng tersebut menyebabkan terjadinya gempa bumi,” jelas Gayatri, Rabu (28/1/2026).

Sementara itu, gempa yang terjadi di Bantul memiliki karakter berbeda. Menurut Gayatri, gempa tersebut bersumber dari zona sesar aktif, yakni Sesar Opak. Kendati memiliki sumber gempa yang tidak sama, ia menyebut ada kemungkinan gempa kedua dipicu oleh pasokan tekanan dari gempa sebelumnya.

“Tekanan tersebut membuat lempeng menjadi tidak stabil dan bergerak, sehingga gempa dapat terjadi,” ujarnya.

Perbedaan kekuatan dan karakter sumber gempa inilah yang kemudian memunculkan perbedaan efek guncangan yang dirasakan masyarakat. Gayatri menggambarkan gempa Pacitan cenderung terasa seperti gerakan mengayun, sedangkan gempa Bantul dirasakan sebagai sentakan.

Ia menambahkan, lokasi pusat gempa juga sangat memengaruhi dampak yang dirasakan. Gempa dengan magnitudo lebih besar dan pergerakan vertikal menghasilkan gelombang yang menjalar ke atas, sehingga dampaknya dapat dirasakan di wilayah yang lebih luas.

“Kekuatan magnitudo yang besar dan pergerakannya yang vertikal membuat gelombangnya naik ke atas, sehingga dampaknya meluas,” paparnya.

Gayatri menegaskan bahwa dua gempa tersebut tidak berpotensi memicu tsunami maupun gempa susulan. Hal ini disebabkan kekuatan magnitudo yang relatif tidak besar, sehingga kemungkinan terjadinya gempa lanjutan dinilai kecil.

Meski demikian, ia tetap mengingatkan masyarakat agar selalu waspada saat gempa terjadi. Menurutnya, dua kejadian gempa ini dapat menjadi pengingat bahwa wilayah selatan Jawa merupakan kawasan tektonik aktif.

“Masyarakat memang harus selalu waspada. Kejadian gempa hari ini menjadi pengingat bahwa kita berada di area tektonik aktif, sehingga harus siap siaga dalam merespons gempa bumi,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, juga menegaskan bahwa aktivitas gempa di Bantul tidak berkaitan langsung dengan gempa Pacitan karena memiliki sumber gempa yang berbeda.

Ardhianto menjelaskan gempa Bantul bersumber dari Sesar Opak, sedangkan gempa Pacitan dipicu oleh aktivitas lempeng subduksi.

“Dari sisi sumber, gempa tersebut berbeda. Kalau di Bantul itu Sesar Opak, sementara di Pacitan adalah aktivitas lempeng subduksi,” jelasnya.

Ia menegaskan, merujuk pada sumber gempa tersebut, gempa Pacitan dan Bantul tidak saling berkaitan.

“Nggih, gempa dengan sumber yang berbeda, jadi tidak berkaitan,” tandas Ardhianto.

Menurut Ardhianto, kejadian gempa merupakan hal yang wajar bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan banyak sumber gempa. Karena itu, warga diminta tidak panik berlebihan.

Ia menekankan bahwa aspek terpenting bukan seberapa sering gempa terjadi, melainkan kesiapan masyarakat dalam beradaptasi dan melakukan mitigasi bencana.

“Masyarakat perlu tahu apa yang harus dilakukan saat gempa, seperti drop, cover, and hold, serta mampu memilah informasi yang benar dan tidak menyesatkan,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

AS Blokir Hasil Penjualan Minyak Venezuela Lewat Rekening Khusus

AS Blokir Hasil Penjualan Minyak Venezuela Lewat Rekening Khusus

News
| Kamis, 29 Januari 2026, 02:17 WIB

Advertisement

Wisata Bunga Sakura Asia Jadi Tren, Ini 5 Destinasi Favorit 2026

Wisata Bunga Sakura Asia Jadi Tren, Ini 5 Destinasi Favorit 2026

Wisata
| Rabu, 28 Januari 2026, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement