DIY Jemput Bola Vaksinasi Difabel

Pelaksanaan vaksinasi massal di Grha Pradipta Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Bantul. - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
21 Agustus 2021 21:22 WIB Tim Harian Jogja Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Suntikan vaksin Covid-19 akan diberikan kepada kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dengan cara jemput bola. Mobil vaksin disiapkan untuk keperluan itu.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji mengatakan percepatan vaksinasi terus dilakukan agar 100% warga DIY disuntik vaksin. Salah satunya menyasar kelompok rentan seperti penyandang disabilitas. Pemberian vaksian untuk difabel ini dilakukan dengan cara lebih spesifik yakni sistem jemput bola.

“[Vaksinasi penyandang disabilitas] Jalan terus, ada yang dilaksanakan di SLB, di panti-panti, dengan cara jemput bola juga, karena mungkin ada [difabel] yang tidak punya mobilitas,” katanya, Jumat (20/8).

Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menambahkan vaksinasi untuk difabel melibatkan berbagai pihak dan komunitas. Selain itu, vaksinasi sudah terjadwal di setiap fasilitas layanan kesehatan. “Juga melalui komunitas, pihak-pihak lain yang membantu, filantropi, PKK dan sebagainya,” ujarnya.

Baskara Aji memastikan, saat ini stok vaksin di DIY masih mencukupi. Pemda DIY telah melakukan koordinasi dengan kabupaten dan kota serta TNI-Polri dalam rangka percepatan vaksinasi.

Hingga Kamis (19/8) Pemda DIY memiliki stok vaksin Sinovax (per vial berisi 10 dosis) 17.420 vial, Astrazeneca (per vial berisi 10 dosis) 1.428 vial, Moderna (per vial berisi 14 dosis) 7.373 vial, dan vaksin Sinopharm (per vial satu dosis) ada 11.200 vial.

Baskara Aji mengatakan semua pihak berupaya untuk merealisasikan haraban Gubernur DIY terkait target 20.000 sasaran per hari. “Sebenarnya harapan kami bukan 20.000 tetapi lebih angka itu supaya bisa selesai Oktober,” ucapnya.

Menurutnya, dengan jumlah 1.400 vaksinator seluruh DIY, di atas kertas target bisa dilewati. Perkiraannya satu vaksinator menginjeksi 40 orang sasaran.

“Vaksinator cukup ada 1.400 orang, kalau kerahkan semua bisa lebih dari target. Persoalannya, ada yang harus isoman di isoter, sakit hingga melayani untuk aspek lain di luar vaksinasi. Kalau satu vaksinator 40 orang sebetulnya menyelesaikan satu hari sekitar 50.000, kalau jalan semua. Tetapi kalau kita anggap setengah saja [dari total vaksinator] target 1 vaksinator 20 orang, maka sehari sekitar 29.000 sasaran,” kata dia.

Vaksinasi terus dipacu di tengah tren bagus penambahan angka positif harian. DIY mencatatkan penambahan pasien positif Covid-19 sebanyak 820 kasus dengan positivity rate 18,21% pada Jumat (20/8).

Kabag Humas Biro UHP Setda DIY Ditya Nanaryo Aji menjelaskan dengan adanya penambahan 820 kasus, total positif Covid-19 ada 142.895. Adapun penambahan pasien sembuh sebanyak 2.347, sehingga total pasien sembuh menjadi 118.236.

Penambahan kasus meninggal sebanyak 47 kasus, sehingga total kasus meninggal menjadi  4507 kasus. Adapun Positivity rate harian per 20 Agustus 2021 18,21 persen.

Positivity rate di DIY masih jauh di atas standar WHO yang merekomendasikan tak lebih dari 5% penduduk yang dites terinfeksi virus Corona. Tingkat vaksinasi berperan besar terhadap positivity rate. Sebagai contoh, DKI Jakarta berhasil mencapai target vaksinasi Covid-19 sebanyak 7,5 juta pada Sabtu 31 Juli lalu.

Dua pekan setelah target itu tercapai, infeksi Corona di Ibu Kota melandai. Pada Jumat kemarin konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 969 pasien dengan positivity rate hanya 7,9%.

Selain vaksinasi, protokol kesehatan tak boleh dilupakan. Masyarakat harus senantiasa menjaga jarak, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, hingga selalu memakai masker, apabila diperlukan memakai masker dobel, saat keluar rumah.

Tingkat Kampung

Sementara, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja bahkan mulai menyasar vaksinasi di tingkat kampung dan juga RT serta RW.

“Kami minta pengurus kampung untuk menghubungi puskesmas untuk segera menata vaksinasi di tingkat kampung,” kata Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi.

Pemkot Jogja berencana menggunakan mobil vaksin untuk vaksinasi kelompok yang punya halangan mobilitas. Namun saat ini mobil vaksin masih dalam proses penyiapan.

“Sudah ada [mobil vaksinnya], namun operasionalnya belum. Ada dua mobil, milik Pemkot Jogja dan Kepolisian Resor Kota Jogja. Untuk mobil vaksin dari kodim belum ada,” kata Heroe.

Mobil vaksin rencananya menyasar orang tua, difabel, dan lainnya. Saat ini vaksinasi difabel juga sudah berlangsung di fasilitas kesehatan (faskes) terdekat. Vaksinasi difabel menggunakan jenis vaksin Sinopharm.

Di Bantul, percepatan vaksinasi terhadap penyandang disabilitas terus dilakukan.

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit, Dinas Kesehatan Bantul, Abednego Dani Nugroho mengatakan vaksinasi terhadap penyandang disabilitas telah dilakukan mulai Kamis (19/8) di halaman kantor Dinkes Bantul dengan sasaran 445 orang.

"Hari ini kami juga menggelar vaksinasi untuk warga disabilitas untuk 500 orang di SLB Manding. Setelah itu masih ada vaksinasi untuk warga disabilitas yang digelar di BPRTD Pundong," kata Abed, Jumat.

Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Raharja mengatakan, vaksinasi untuk warga disabilitas menggunakan vaksin Sinopharm. Dari sekitar 6.000 warga disabilitas, separuh akan divaksin menggunakan vaksin buatan China ini.

Sementara sisanya untuk umur di bawah 18 tahun akan menggunakan vaksin Sinovac. Pemkab Bantul menargetkan warga disabilitas di Bantul selesai divaksin menggunakan Sinopharm dosis pertama pada September 2021.

"Kami sendiri kemarin mendapatkan suplai Sinopharm sebanyak 1.430 dosis. Untuk dosis pertama dan akan kami habiskan. Nanti sebelum habis, kami akan minta tambahan dari provinsi, " kata Agus.

Salah satu penyandang disabilitas, Basuki, warga Imogiri mengaku jka mendapatkan undangan vaksinasi dari kelompok. Sebelumnya, kelompoknya telah didata oleh Dinas Sosial Perlindungan, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Dinsos P3A) Bantul. "Jadi tidak mendaftar sendiri. Dari kelompok ada undangan vaksinasi," kata Basuki.

Stok Terbatas

Persoalan berbeda dihadapi Sleman. Sejak 6 Agustus lalu, Pemkab Sleman menargetkan jumlah sasaran vaksin sebanyak 15.000 orang per hari. Namun hingga 20 Agustus, target harian vaksinasi yang dicanangkan belum tercapai.

Sekda Sleman Harda Kiswaya mengatakan mencapai target 15.000 orang sasaran, Pemkab sudah menambah jumlah vaksinator. Dari sebelumnya di awal Agustus hanya 1.153 vaksinator, saat ini jumlahnya 1.600 vaksinator.

"Jumlah vaksinator juga sudah kami tambah. Tidak hanya vaksinator, petugas administrasi juga ditambah," katanya, Jumat.

Kemudian, titik-titik lokasi vaksinasi juga ditambah dengan berbagai kegiatan vaksinasi massal, baik di puskesmas, rumah sakit, melibatkan ormas, partai, BIN, TNI maupun Kepolisian. Rentan usia dan sasaran vaksinasi juga terus diperluas. Mulai anak remaja, ibu hamil, hingga kalangan disabilitas.

Salah satu kendala yang dihadapi untuk mencapai target 15.000 orang per hari adalah ketersediaan stok vaksin. Stok vaksinasi untuk mengejar target tersebut dinilai masih belum memadai. "Capai target 15.000 orang itu bisa asalkan vaksinnya ada. Itu kuncinya," kata Harda.

Meskipun belum mencapai target harian, katanya, jumlah sasaran yang divaksin terus mengalami peningkatan. Jika sebelum Agustus jumlah sasaran antara 2.000 hingga 5.000 orang per hari, saat ini sudah naik dua kali lipatnya.

Optimisme tersebut muncul karena antusiasme warga Sleman untuk divaksin Covid-19, kata Harda sangat tinggi. "Animo masyarakat Sleman untuk divaksin ini tinggi. Saya berterimakasih banyak masyarakat yang dengan kesadaran dirinya mau dan mau untuk divaksin. Semangat ini yang harus tetap dijaga untuk mengakhiri pandemi ini," katanya.

Belum tercapainya target harian sebanyak 15.000 dosis diakui juga oleh Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo. Saat ini, kata Kustini, jumlah sasaran harian vaksinasi baru mencapai 10.000 dosis per hari. Ia optimistis target 15.000 dosis vaksin per hari dapat dipenuhi.

Hingga kini, katanya, secara keseluruhan capaian vaksinasi di Sleman untuk dosis pertama mencapai 45% dan untuk dosis kedua 21%. Dia berharap, seluruh elemen masyarakat bisa bergerak agar target harian vaksinasi dapat tercapai.