Padamu Negeri Guru Berbakti, Bagimu Negeri Guru Berbagi

Kepala SMAN 1 Bantul, Ngadiya mendampingi anak-anak di lingkungannya agar tetap mendapatkan pendidikan karakter di tengah pembelajaran yang hanya bisa dijalani secara daring di sekolah anak-anak itu. Ngadiya dibantu anaknya dalam memberikan pembelajaran kepada anak-anak./Harian Jogja - Catur Dwi Janati
21 Agustus 2021 01:27 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Khawatir dengan nasib pembentukan karakter anak selama periode belajar dari rumah, seorang guru di Bantul bersama anaknya membantu anak-anak di sekitar rumahnya untuk belajar. Siswa SMA hingga SMP berduyun-duyun mendatangi rumahnya hampir di tiap malam. 

“Saya berpikir, sudah satu setengah tahun ini pembelajaran jarak jauh berlangsung. Artinya anak-anak sekolah ada yang sama sekali tidak dikaruhke [dibiarkan]. Pokoknya belajar sendiri, tahu-tahu diberi tugas dan sebagainya,” kata Ngadiya membuka obrolan pada Selasa (17/8).

Sehari-hari, Ngadiya menjadi Kepala SMAN 1 Bantul. Ia luwes mengajar meski di hadapannya adalah anak-anak tetangga dari bermacam-macam sekolah. Bukan sekolah tempat ia mengajar.

Ngadiya tak tiba-tiba mengundang anak-anak ke rumahnya. Ia terlebih dahulu berembuk dengan para warga yang memiliki anak sekolah. Hasilnya, mereka menyambut baik kelompok belajar ini.

"Pertama saya undang orang tua dan anaknya. Kemudian saya beri informasi. Selanjutnya anaknya yang saya beri jadwal. Kebetulan ada orang tua yang menyambut baik dan datang bersama anaknya," ujarnya.

Program kelompok belajar Ngadiya ini diberi nama Guru Berbakti, Guru Berbagi. Dari berbagai jenjang yang ditawarkan Ngadiya, baru siswa SMA dan SMP yang ikut program ini. Ngadiya yang notebenenya guru biologi akan membantu anak pada mata pelajaran biologi dan pendidikan karakter. Sementara putranya yang jebolan jurusan pendidikan matematika membantu anak-anak di mata pelajaran matematika.

"Mata pelajaran SMP dan SMA hanya matematika dan biologi. Kalau [pelajaran] yang lain saya enggak mampu terus terang. Tapi yang utama saya kepengin karakter itu, karakter supaya anak-anak itu tetap semangat belajar walaupun harus melalui pembelajaran jarak jauh,” kata dia.

Penjadwalannya pun dibagi berselang agar tak bertumbukan antara siswa SMP dan SMA. Bakda isya, anak-anak datang ke rumah Ngadiya. Ia mewajibkan anak-anak datang memakai masker dan tidak melepaskannya selama kelompok belajar berjalan. Pukul 21.00 WIB kelompok belajar pun diakhiri.

Meja, papan tulis, hingga hand sanitizer disiapkan Ngadiya. Para murid tak dipungut biaya sepeser pun.

“Melihat anak-anak yang bersemangat belajar pun sudah menjadi bayaran yang cukup bagi. Kami sediakan papan tulis, penghapus, spidol. Pokoknya untuk masyarakat tinggal datang saja kami layani. Kami semua sediakan,” ujarnya.

Dalam kelompok belajar itu, anak-anak diajari teori hingga latihan soal. Ngadiya dan anaknya juga membantu mendampingi siswa dalam mengerjaan PR.

Kelompok belajar rintisan Ngadiya sejatinya mulai dibentuk sejak 2020. Kala itu Ngadiya masih mengabdi di Bambanglipuro. Sebanyak delapan siswa SMA dari Kretek, Sanden, hingga Bambanglipuro berkumpul di rumahnya. Berlangsung sekitar setengah tahun, akhirnya kelompok belajar berhenti karena telah melewati ujian sekolah. “Istilahnya itu tergantung anaknya. Kalau anaknya mau, terus diadakan. Berhenti itu karena anaknya wis jeleh dewe [sudah  bosan’, karena sudah ujian,” tambahnya.

Akhirnya Guru Berbakti, Guru Berbagi milik Ngadiya dimulai lagi di kampungnya pada Agustus ini. Sebagai kepala sekolah, Ngadiya juga mengajak guru-guru di sekolahnya untuk melakukan program yang sama. Sudah dua guru yang mengikuti jejak Ngadiya membuka kelompok belajar di kampungnya.

"Ini saya sampaikan ke bapak ibu guru kami, supaya mereka bisa menjalankan di kampungnya masing-masing. Harapannya anak-anak yang sekolah itu, di mana pun sekolahnya, ada dalam pencerahan guru [yang tinggal] di kampung itu," ungkapnya.

Ngadiya tak lepas dari ancaman penularan Covid-19 meski dia dan keluarganya sudah disuntik vaksin. Dengan mengetahui kondisi warga kampungnya, ia tahu kondisi anak yang datang. Mereka yang sakit atau menjalani isoman bahkan terpapar vorus Corona diperkenankan untuk tidak hadir dulu dalam kelompok belajar. Mereka bisa kembali bila kondisi sehat.

“Anak-anaknya bilang senang dibantu. Kalau belajar sendiri orang tuanya juga enggak bisa, enggak mampu mungkin karena tamatan SMA atau SMP, SD. Makanya waktu ada yang bantu, mereka terima kasih, senang,” ujarnya.

Soal pendidikan karakter, Ngadiya punya pendapat.

“Pembelajaran jarak jauh ini membuat pembentukan karakter agak sulit kita kontrol dan ketahui, betul-betul mengandalkan dari lingkungan anak-anak. Untuk itu saya punya pikiran bagaimana anak-anak di kampung saya kumpulkan. Harapan saya, nanti dari kampung sini anak-anak tidak terpengaruh untuk wer-weran apalagi nglithih," ujarnya.