Tak Ada Turis, Galeri Virtual Jadi Pilihan Para Seniman

Budi Siswanto melukis di studio miliknya di Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Yudhi Kusdiyanto
28 Agustus 2021 18:37 WIB Yudhi Kusdiyanto Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pandemi  mendorong semua orang untuk berinovasi. Tak hanya di sektor ekonomi, sejumlah seniman pun harus menciptakan terobosan agar bisa tetap eksis. Kreasi di luar pakem yang dulu dianggap tabu, kini menjadi jurus jitu untuk terus bertahan. Salah satunya dilakukan Budi Siswanto, pelukis asal Gunungkidul yang kini bermukim di Bali. Seperti apa terobosan yang dilakukan, berikut laporan wartawan Harian Jogja, Yudhi Kusdiyanto.

Bau cat bercampur aroma kopi yang baru saja diseduh memenuhi ruangan berukuran 3x4 meter. Dinding ruangan dipenuhi dengan lukisan bergaya kontemporer berbagai ukuran, sementara di pojokan, kaleng cat, kuas, kanvas dan lukisan setengah jadi tertata tak beraturan. Asbak berisi puntung rokok dan abu yang mulai menggunung seolah menjadi sesaji yang tak boleh disentuh.

Di tengah hiruk pikuk Kota Denpasar, Bali, yang panas dan tak pernah sepi, ruangan ini menjadi tempat berkontemplasi untuk menghasilkan karya seni lukis. “Ini studio tempatku berkarya setiap hari,” ucap Budi Siswanto mengawali percakapan secara virtual dengan Harian Jogja, belum lama ini.

Menurut pria kelahiran Playen, Gunungkidul ini, sejak pandemi melanda, tak banyak lukisan yang bisa dia jual. Turis asing yang selama ini menjadi penikmat karya-karyanya, kini nyaris tak lagi ada. Dampak pandemi sangat memukul sektor pariwisata dan seni di Bali.

“Pandemi Covid-19 memberikan efek domino yang sangat parah bagi dunia pariwisata. Pelukis seperti saya jumlahnya sangat banyak di Bali dan rata-rata terdampak pandemi karena tak ada wisatawan yang datang. Meski demikian, kami harus tetap berkreasi, berinovasi dengan memanfaatkan segala kemampuan yang kami miliki,” ujar lulusan Fakultas Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini.

Galeri seni yang sebelum pandemi selalu menjadi jujugan turis, kini mati suri. Budi bahkan memilih mengosongkan galeri miliknya yang berada di Ubud, Bali. Sebagai gantinya, dia memanfaatkan galeri virtual untuk memamerkan dan memasarkan lukisan. Budi tak perlu lagi bergantung galeri maupun menunggu datangnya pelancong yang entah kapan bakal kembali lagi ke Pulau Dewata.

Sejumlah kurator dan penikmat lukisan langganannya yang sebagian besar tinggal di luar negeri, bisa melihat dan langsung memesan karya yang disukai. ”Kalau ada yang berminat, pesan, saya tinggal mengirimkannya,” ujar pria yang tak pernah lepas dari bandana di kepalanya ini.

Menurut Budi, dalam kondisi seperti saat ini dia harus pintar-pintar mencari peluang. Saat pesanan lukisan dengan media kanvas sepi peminat, dia mencoba memanfaatkan media lain untuk berkarya. Kayu, tas kain, dan media lain dia manfaatkan sebagai media. Dengan tambahan cat akrilik, lukisan aliran naif sebagai ciri khasnya, benda yang semula tak bernilai jual berubah menjadi karya seni yang banyak diminati kolektor luar negeri.

“Saya tak boleh berpangku tangan, apalagi merutuki nasib akibat pandemi ini. Semua orang, baik buruh, pedagang, pelaku wisata maupun seniman pasti terdampak pandemi. Oleh karena itu, dibutuhkan keuletan dan kreativitas. Melalui media online inilah saya bisa tetap produktif dan bisa terus berkarya,” katanya.

Budi mengajak semua seniman dan siapa pun untuk bangkit, berinovasi tanpa perlu menunggu uluran tangan orang lain. “Terus berkarya dan jangan berhenti untuk berinovasi.”

Tak jauh berbeda, Aslar, seorang seniman tari dan ketoprak kelahiran Kecamatan Teras, Boyolali, Jawa Tengah, mengaku harus terus berkarya meski pandemi melanda. Tiadanya panggung pementasan off air tak menghalanginya tetap berkarya.

Saat seniman lain menunggu datangnya order pentas yang entah kapan akan datang, Aslar memilih “hijrah” dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang kian pesat. Aslar dan beberapa rekannya terus memanfaatkan peluang acara pementasan kesenian secara virtual yang banyak diagendakan pemerintah. 

Selain itu, dia juga berkreasi secara mandiri. “Dengan modal kamera ponsel jadul yang saya miliki, saya mencoba berkreasi, merekam segala macam pelajaran tentang budaya dan bahasa Jawa kemudian saya unggah ke Youtube,” ujarnya.

Menurut pemilik akun Youtube Mas Gambir ini, meski belum memberikan keuntungan finansial yang besar seperti saat sebelum pandemi, dia tetap merasa puas karena tetap bisa berkreasi. Baginya, pandemi harus disikapi dengan bijak. “Tak perlu merutuk atau saling menyalahkan. Jaman iku tansah owah gingsir, aja mung kridha lumahing asta [zaman itu akan selalu berubah, maka jangan hanya meminta atau menunggu pemberian orang lain]. Meski saat ini masih pandemi, kita harus tetap berusaha dan bangkit,” katanya berpetuah.