Masyarakat Wajib Unduh Aplikasi PeduliLindungi

Para narasumber saat berbincang dalam talk show online 'PeduliLindungi dan Visitingjogja Penyelamat Wisata DIY' yang digelar Harian Jogja, Jumat (3/9/2021). - Tangkapan layar
03 September 2021 19:47 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Masyarakat DIY wajib mengunduh dua aplikasi untuk masuk ke sejumlah fasilitas umum termasuk destinasi wisata, yakni aplikasi PeduliLIndungi dan Visitingjogja. Kedua aplikasi tersebut tidak bisa diintegrasikan karena berbeda tujuan, namun keduanya sama-sama untuk menekan penularan Covid-19.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY, Rony Primanto Hari menjelaskan, aplikasi PeduliLindungi sebuah platform yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan yang akan digunakan sebagai platform dalam rangka membantu mengatasi penyebaran Covid-19.

“Dengan aplikasi tersebut dan berbagai macam informasi penanganan Covid-19 ada terkait vaksinasi dan sebagainya. Platform itu semcam super app seperti aplikasi lainnya Gojek atau Grab. PeduliLindungi ini super app, ada berbagai macam gabungan aplikasi,” papar Rony dalam talk show online ‘PeduliLindungi dan Visitingjogja Penyelamat Wisata DIY’ yang digelar Harian Jogja, Jumat (3/9/2021).

Karena aplikasi PeduliLindungi dikelola oleh Pemerintah Pusat, sambung Rony, maka Pemda DIY tidak bisa memantau sudah berapa warga DIY yang mengunduh aplikasi tersebut. Namun dia memerkirakan sudah ada puluhan juta secara nasional yang mengunduh aplikasi itu sesuai dengan warga yang sudah menjalani vaksinasi dan yang memiliki gadget.

Aplikasi itu juga digunakan secara nasional. Sementara aplikasi Visitingjogja merupakan sebuah platform yang dikelola Dinas Pariwisata DIY untuk membantu menginformasikan objek wisata di Jogja, seperti potensi wisata, kegiatan wisatanya seperti apa. Aplikasi itu juga bisa digunakan untuk memesan tiket dan tempat ketika akan mengunjungi destinasi wsiata, misalnya ke Candi Prambanan atau objek wisata di Kaliurang dan sebagainya.

Baca juga: Jalur Tikus Menuju Pantai Gunungkidul Bakal Dijaga

Menurut dia, memang ada keinginan dari Dinas Pariwisata DIY untuk bisa manfaatkan data dalam aplikasi PeduliLindungi supaya masyarakat tidak perlu mengunduh dua-duanya, “Saya lihat tidak mungkin karena berbeda. PeduliLindungi akunnya bersipat pribadi, satu akun mendata satu orang. Kalau Visitingjogja bisa pesan untuk satu rombongan tidak hanya satu orang. Sebagai salah satu untuk membantu bisa, tapi diintegrasikan secara sistem sesuatu yang sulit karena beda platform beda tujuan tapi bisa saling bantu,” ujar Rony.

Kondisi tersebut sama halnya dengan aplikasi lainnya seperi tiket.com, travelloka. Jadi masyarakat bisa memesan tiket atau memesan tempat di destinasi wisata, hotel, restoran, mal, atau kafe, atau mau naik pesawat terbang dan naik kereta api dan sebagainya. Namun ketika akan naik atau masuk ke faslitas umum tersebut tetap harus memiliki aplikasi PeduliLindungi yang saat ini sedang digencarkan oleh Pemerintah Pusat untuk mengendalikan penyebaan Covid-19.

“Begitu juga ketika akan memesan tiket bisa lewat Visitingjogja, tapi masuknya harus menggunakan PeduliLindungi,” tandas Rony.

Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Suparmono mengatakan aplikasi PeduliLindungi merupakan syarat perjalanan naik kendaraan dan masuk fasilitas umum yang sudah digemborkan oleh Pemerintah Pusat. Pihaknya sudah melakukan ujicoba di mal sejak beberapa waktu lalu semua pengunjung harus men-skan barcode aplikasi PeduliLindungi dan selama ini belum ada yang komplain, atau berjalan lancar.

Menurut dia, sebagai upaya untuk nenekan penyebaran virus Corona aplikasi PeduliLindungi sangat bagus. Saat ini pihaknya masih dalam proses sosialisasi dan diskusi ketika aplikasi tersebut akan digunakan untuk masuk destinasi wisata karena sampai saat ini destinasi wisata masih tutup.

Namun yang perlu dipikirkan juga, kata Suparmono, adalah ketika destinasi wisata tidak ada jaringan internet atau blankspot. Dia mencontohkan kesulitan jaringan seperti di Candiijo Prambanan atau Kaliadem Pakem. Sebab, masing-masing provider berbeda sehingga harus dipikirkan ketika destinasi wisata kesulitan jaringan.

Selain itu juga aplikasi PeduliLindungi sifatnya pribadi. Sementara yang masuk destinasi wisata biasanya rombongan ada yang sampai 2-3 bus dan sebagainya, sehingga ketika wisatawan masuk harus men-ckan barcode akan terjadi kerumunan.

Kartu Vaksin

Lebih lanjut Suparmono mengatakan untuk jangka panjang aplikasi PeduliLindungi sangat bagus, namun untuk jangka pendek manakala destinasi wisata dibuka belum tentu bisa lancar semua. Dia berharap dalam waktu dekat ini kartu vaksin masih dibolehkan sebagai syarat untuk masuk destinasi wsiata.

“Tahap awal menurut saya kartu vaksin boleh untuk mengunjungi objek wisata meski kepentingan tracing dari pusat susah tapi minimal itu bisa menjadi acuan bagi pengelola wisata yakin yang masuk ke destinasi semua yang masuk tervasin,” ujar Suparmono.

Senada diungkapkan oleh Ketua Koperasi Notowono atau wadah pengelola sejumlah objek wisata di Mangunan Bantul, Purwo Harsono. Pria yang akrab disapa Ipung ini meminta perlu ada kebijakan ketika di objek wisata terjadi blankspot.” Saya kira perlu kebijakan tertentu. Bisa tidak kartu vaksin boleh masuk karena tak cukup alat kelengkapan mungkin itu jadi kebijakan,” kata dia.

Ipung mengatakan pengelola wisata di Mangunan sangat setuju dengan kebijakan Pemerintah Pusat termasuk penerapan aplikasi PeduliLindungi untuk menekan angka kasus Covid-19, karena kesehatan baginya merupakan hal yang utama. Namun pemerintah juga perlu memikirkan agar kebijakan tersebut tidak menimbulkan problem baru di destinasi wsiata.