Dinsos DIY Menggelar Pelatihan Penyuluh Sosial

Penyuluh Sosial Dinsos DIY, Sapto Parjono saat menyampaikan materi dalam pelatihan penguatan kapasitas tim penyuluh sosial dan penyuluh sosial masyarakat (Pensosmas) DIY 2021 di Aula Barat Kantor Dinsos DIY, Selasa (21/9). (Harian Jogja - Ujang Hasanudin)
21 September 2021 22:37 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Sosial (Dinsos) DIY menggelar pelatihan penguatan kapasitas tim penyuluh sosial dan penyuluh sosial masyarakat (Pensosmas) DIY 2021. Pelatihan yang digelar di Aula Barat Dinas Sosial DIY pada Selasa (21/9) tersebut menghadirkan pembicara dari penyuluh sosial Dinas Sosial DIY dan praktisi media.

“Maksud dan tujuan kegiatan penguatan kapasitas tim penyuluh sosial untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan keterampilan tim penyuluh sosial dan penyuluh sosial masyarakat, dalam menciptakan ide-ide atau inovasi baru dalam kegiatan penyuluhan khususnya di bidang IT dan penulisan berita,” kata Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin, Dinsos DIY,  Agus Setyanto, seusai membuka pelatihan, Selasa.

Pelatihan ini diikuti 70 orang penyuluh masyarakat, yang dibagi dalam dua sesi untuk menjaga protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19.

Tiap sesi diikuti sebanyak 35 orang. Agus berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri dari penyuluh dalam memberikan informasi seputar program atau kegiatan pemerintah baik Pemerintah Pusat, Pemda DIY, pemerintah kabupaten dan kota, serta pemerintah kalurahan. Tujuannya agar informasi tersampikan dengan baik dan benar.

“Sesuai dengan fungsi penyuluh, [para] penyuluh nanti akan memberikan informasi, edukasi atau pun sosialisasi terkait dengan program kegiatan baik dari Kementerian Sosial, dari Dinsos DIY sampai pada kegiatan-kegitan di tingkat desa yang perlu diinformasikan dan disosialisasikan kepada masyarakat,” ujar Agus.

Penyuluh Sosial Dinsos DIY, Sapto Parjono mengatakan penyuluh sosial masyarakat harus mengetahui metode dan teknis penyuluhan supaya dalam menyampaikan informasi lebih efektif dan efesien di wilayah masing-masing.

Dalam melakukan penyuluhan, para penyuluh bisa memanfaatkan berbagai sektor baik melalui tokoh masyarakat secara langsung, lembaga seperti karang taruna, desa wisma, PKK, atau lewat pengajian atau berbagai aktivitas kegiatan masyarakat. Harapannya setelah masyarakat mendapat penyuluhan masyarakat dapat berpartisipasi mencegah dan menanggulangi masalah sosial yang muncul.

“Misalnya ketika ada warga lansia yang terlantar atau tidak ada keluarganya bagiamana masyarakat seharusnya masyarakat bersikap, bisa mengarahkan melalui panti yang disediakan Dinas Sosial. Atau misalnya program keluarga harapan [PKH] dan bantuan pangan non-tunai [BPNT] itu siapa saja yang dapat mengakses, bagaimana cara mengakses, dan apa syarat-syaratnya supaya tidak terjadi gejolak. Itu tugas penyuluh yang harus menginformasikan,” kata Sapto.

“Atau misalnya lagi ada penyandang cacat supaya mereka di lingkungan keluarga jangan dikucilkan tapi dimotivasi, diberdayakan, disekolahkan, dicarikan keterampilan atau dicarikan panti. Balai rehabilitasi terpadu penyandang disabilitas ada pelatihan keterampilan misal menjahit, elektronik, desain grafis. Semua fasilitas kita untuk penyandang masalah sosial kita siapkan bagi gelandangan, pengemis, misal anak terlantar, yatim piatu,” ujar Sapto.

Informasi-informasi itu penting disampaikan oleh penyuluh. Metode penyampaian bisa berbagai macam bisa langsung disampaikan secara verbal, atau melalui berbagai media. Karena itu penyuluh juga dilatih bagaimana cara menulis berita sebagai sarana penyampai informassi.

Selain Sapto Parjono, narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Pemimpin Redaksi Harian Jogja, Anton Wahyu Prihartono. Dalam kesempatan tersebut Anton menyampaikan terkait teknis penulisan berita yang baik dan benar yang dapat menggugah masyarakat untuk membacanya. (ADV)