Antisipasi Bencana Ekstrem, BPBD Sleman Siagakan EWS di 2 Titik Ini

Early Warning System - Ist/OPI
13 Oktober 2021 10:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mulai mengantisipasi potensi bencana ekstrem. Salah satunya menyiagakan Early Warning System (EWS) di lereng Merapi dan Prambanan.

Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono mengatakan potensi bencana ekstrim pada musim hujan ini merujuk pada peringatan dini yang selalu diupdate oleh BMKG. Dari sejumlah sungai yang berhulu Merapi diperkirakan Kali Gendol dan Kali Boyong berpotensi mengalami banjir lahar.

"Itu terjadi jika intensitas hujan di atas Merapi terjadi tinggi dengan durasi lama. Kami siapkan 20 EWS untuk memantau potensi bencana banjir lahar di sungai-sungai yang berhulu Merapi," kata Joko kepada Harian Jogja, Selasa (12/10/2021).

Selain 20 EWS yang dalam kondisi baik, katanya, BPBD juga menyematkan satu sensor di Turgo yang bertujuan untuk memonitor potensi banjir di sungai-sungai. Sensor akan mengabarkan potensi banjir melalui jaringan transmisi radio ORARI. "Jadi kalau di puncak Merapi hujan dengan intensitas tinggi dan berpotensi banjir lahar hujan," katanya.

Adapun di perbukitan Prambanan yang memiliki potensi bencana longsor, lanjut Joko, BPBD sudah memasang tiga EWS. Ketiga EWS ini juga didukung dengan 11 EWS lainnya yang tertanam di tiga kalurahan. Mulai dari Sambirejo, Wukirsari dan Gayamharjo. "Kami juga melibatkan relawan dan masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi bencana," katanya.

Baca juga: Darurat Piknik! Warganet Ungkap Lokasi di Sleman Ini Jadi Alternatif Wisata yang Ramai Didatangi Warga

Masyarakat diminta mewaspadai potensi bencana menghadapi potensi cuaca ekstrem ini. "Kalau ada potensi bencana atau peringatan dini dari BMKG, kami langsung sampaikan ke masing-masing kapanewon," katanya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan BPBD sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk memangkas pepohonan yang berpotensi tumbang saat terkena angin kencang. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk membersihkan saluran air hujan dan kali dari sampah yang mengganggu aliran air.

Khusus di Prambanan, Makwan menilai potensi bencana longsor baik tanah maupun bebatuan di wilayah perbukitan Prambanan masih bisa terjadi. Hal ini terjadi salah satunya karena struktur tanah di kawasan tersebut. "Sebelumnya kan kemarau, ini berpotensi memunculkan rekahan pada tanah. Ini harus diwaspadai oleh masyarakat," katanya.

Dia menjelaskan, rekahan tanah yang muncul jika tidak segera dibenahi akan berpotensi menimbulkan longsor saat kemasukan air hujan. Apalagi hujan turun dengan intensitas tinggi. Untuk mencegah terjadinya bencana, BPBD Sleman mengimbau agar relawan kebencanaan dan masyarakat melakukan pengecekan rekahan tanah di sekitarnya perbukitan.

"Ya hampir semua kalurahan di Prambanan memiliki potensi bencana rawan longsor. Kami sudah meminta warga yang berada di lereng bukti untuk meningkatkan kewaspadaan dan hati-hati. Terutama saat hujan deras," kata Makwan.