Ciptakan Rasa, Bukan Sisa, DamoGO Dorong Industri F&B Indonesia Berkelanjutan

DamoGO mengadakan rangkaian acara virtual "Jamuan Rasa"/Ist
17 Oktober 2021 13:57 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com. JOGJA--DamoGO, start-up asal Indonesia-Korea Selatan, menggabungkan teknologi dan kreativitas menciptakan aplikasi smartphone bagi pebisnis F&B untuk terhubung dengan pemasok.

Melalui aplikasi dan layanannya, DamoGO ingin mengoptimasi penyerapan bahan pangan sambil mengurangi limbah pangan di sektor industri F&B.

Indonesia sendiri tercatat sebagai penghasil limbah pangan kedua terbesar di dunia. Upaya kolektif para pebisnis F&B dan perubahan yang holistik dirasa perlu untuk turut menyelesaikan permasalahan ini dan mendukung ketahanan pangan Indonesia, ini ditekankan oleh DamoGO pada webinar yang bertajuk ‘Create Taste, Not Waste’ pada 15 Oktober 2021.

Muhammad Farras, Co-founder dan COO DamoGO menyatakan, “terdapat sejumlah inefisiensi di lapangan yang membuat hasil pertanian tidak terserap baik dan berisiko terbuang menjadi limbah dan polusi.

DamoGO berusaha memecahkan masalah ini dengan menyediakan layanan penghubung antara pemasok dan pebisnis F&B di Yogyakarta melalui aplikasi smartphone, yang bertujuan untuk mempermudah proses pembelian bahan makanan secara digital, mengoptimasi serapan dan konsumsi hasil pertanian agar tidak terbuang.
 
Sistem manajemen dan purchasing untuk mengoptimasi serapan

Aplikasi DamoGO berperan membantu pemilik bisnis F&B untuk merapikan sistem manajemen dan purchasing. Melalui aplikasi ini manajemen dapur pebisnis F&B ter-digitalisasi, dan menjadi ruang interaksi jual-beli bahan pangan antara pebisnis dengan pemasok.

Aplikasi ini menjadi upaya DamoGO mendorong pebisnis F&B untuk menerapkan operasional bisnis berkelanjutan dan efisien, dengan mempersingkat proses rantai pasok, mengurangi emisi dan biaya, serta mendukung keberlangsungan bisnis petani dan pemasok skala kecil dan menengah.

Pemanfaatan Imperfect Produce

WAROONG by DamoGO, salah satu layanan dari DamoGO, menyediakan produk pangan dengan grade yang luas, dari grade a, grade b sampai grade c, yang dipanen segar oleh petani dan pemasok DamoGO. Salah satu bentuk produk pangan grade c adalah imperfect produce, yaitu hasil pertanian yang tidak sempurna dari segi bentuk atau ukuran. Produk jenis ini menjadi penyumbang limbah pangan yang signifikan karena tidak sesuai dengan standar ritel dan pada akhirnya terbuang sebelum dimanfaatkan.

Hartono Moe, seorang F&B Business Collaborator, menekankan bahwa penggunaan imperfect produce menjadi salah satu cara bagi industri F&B agar ramah lingkungan atau berkelanjutan. “Bahan pangan yang tidak sempurna secara fisik atau imperfect produce tidak akan mempengaruhi kualitas sajian sehingga tetap baik untuk digunakan. Dengan harga yang terjangkau, pemilihan bahan pangan yang tidak sempurna mendukung bisnis F&B untuk menghemat biaya operasional. Aplikasi yang disediakan oleh DamoGO berhasil mengefisienkan proses pembelian produk tidak sempurna dan mengurangi biaya operasional, menjadi dukungan yang baik untuk mempermudah transisi bisnis F&B jadi berkelanjutan.

Pengurangan limbah pangan dukung ketahanan pangan Indonesia

Indonesia merupakan negara penghasil limbah pangan kedua terbesar di dunia setelah Arab Saudi. Kementerian Pertanian menyatakan total limbah pangan per tahun mencapai 1,3 juta ton, atau sekitar 300 kg per orang. Kontradiktif dengan jumlah pangan yang terbuang, Indonesia saat ini masih mengalami problem ketahanan pangan, seperti pemenuhan gizi yang tidak sempurna yang menyebabkan malnutrisi. DamoGO berharap keberadaan teknologi yang diciptakan tidak hanya mendukung geliat bisnis F&B dan para pemasok.

Dengan mengoptimasi serapan dan konsumsi hasil produk pangan, termasuk imperfect produce, dapat berperan dalam menyelesaikan
permasalahan pangan dan dukung ketahanan pangan Indonesia. “Mulai dari Kota Yogyakarta, DamoGO berharap bisa mendorong industri F&B yang berkelanjutan di Indonesia,” tutup Farras.

DamoGO mengadakan rangkaian acara “Jamuan Rasa” untuk berbagi pesan tentang pentingnya mendorong industri F&B yang berkelanjutan dan mengurangi limbah pangan di Indonesia. Terdapat 4 rangkaian acara “Jamuan Rasa”, yaitu acara Instagram Live pada 24 September 2021; Acara donasi, bekerja sama dengan Gerakan Relawan Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan, memberikan makan siang untuk 400 buruh gendong perempuan, pengemudi becak, tukang parkir, dan komunitas marginal di Yogyakarta pada 29 September 2021; Webinar bertajuk “Create Taste, Not Waste: Incorporating Sustainability to Improve Your F&B Business” pada 15 Oktober 2021; dan ditutup dengan acara “Jamuan Rasa: Menjamu Rasa, Meramu Sisa” yang mempertemukan aktor-aktor penggerak industri pangan (agri-kuliner) setempat, baik pemilik bisnis, chef, hingga komunitas kreatif.

Pada acara Jamuan Rasa tahun ini, para tamu diajak untuk langsung mencoba dan menggunakan aplikasi dan layanan DamoGO: DamoGO dan WAROONG by DamoGO. (*)