Kasus ISPA di Bantul Masih Tinggi, Dinkes Minta Warga Waspada

Yosef Leon
Yosef Leon Rabu, 29 Juli 2026 04:07 WIB
Kasus ISPA di Bantul Masih Tinggi, Dinkes Minta Warga Waspada

Ilustrasi ISPA - FReepik

Harianjogja.com, BANTUL—Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Bantul masih tergolong tinggi sepanjang semester pertama 2026. Meski jumlah penderita mulai menunjukkan tren menurun hingga Juni, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mengingatkan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan karena musim kemarau berpotensi meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan.

Data Dinkes Bantul menunjukkan kasus ISPA pada Januari 2026 mencapai 2.345 kasus. Angka tersebut meningkat menjadi 2.659 kasus pada Februari, kemudian turun menjadi 2.208 kasus pada Maret.

Pada April, jumlah kasus kembali naik menjadi 2.397 kasus. Selanjutnya tren penurunan kembali terjadi dengan 2.145 kasus pada Mei dan 1.847 kasus pada Juni.

Musim Kemarau Berpotensi Memicu ISPA

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto, mengatakan meskipun jumlah kasus terus menurun sejak April, ISPA masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan.

"Trennya memang fluktuatif dari awal tahun, tapi menunjukkan penurunan sampai Juni ini. Kami minta masyarakat waspada dengan potensi ISPA karena sekarang memasuki musim kemarau panjang," jelasnya, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, kondisi musim kemarau yang identik dengan meningkatnya debu di udara dapat memicu gangguan saluran pernapasan sehingga masyarakat perlu menjaga kesehatan sejak dini.

Polusi dan Perubahan Cuaca Tingkatkan Risiko

Kepala Dinkes Bantul, Agus Tri Widyantara, menjelaskan ISPA umumnya disebabkan infeksi virus maupun bakteri. Namun, sejumlah faktor lingkungan juga berkontribusi meningkatkan risiko penyakit tersebut.

Polusi udara, paparan debu, hingga perubahan cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini menjadi faktor yang dapat memicu meningkatnya kasus ISPA di masyarakat.

Agus menilai upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan, tetapi juga memerlukan perubahan perilaku masyarakat melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

"Perilaku Hidup Bersih dan Sehat merupakan langkah awal dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat," katanya.

Ribuan Kader PHBS Perkuat Edukasi

Untuk menekan kasus ISPA, Dinkes Bantul terus memperluas edukasi kesehatan melalui kader PHBS yang tersebar di berbagai wilayah.

Hingga saat ini, jumlah kader bersertifikat terus bertambah, terdiri atas 1.867 kader kategori purwa, 487 kader kategori madya, dan 551 kader kategori utama.

Dinkes berharap keberadaan ribuan kader tersebut mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan pola hidup sehat, serta membiasakan aktivitas fisik guna mengurangi risiko ISPA.

Selain itu, masyarakat juga diimbau menerapkan langkah pencegahan sederhana saat beraktivitas di luar rumah.

"Yang utama pastikan menggunakan masker sa keluar rumah dan rajin mencuci tangan," pungkas dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online