Pasar Rakyat Bantul Makin Sepi, Omzet Pedagang Turun 30%
Omzet pedagang pasar rakyat Bantul turun sekitar 30%. Belanja daring, sayur keliling, toko jejaring hingga SPPG jadi faktor penyebab.
Ilustrasi, siswa SMPN 1 Bantul mengembalikan ompreng seusai menyantap MBG di sekolah tersebut, Rabu (21/1/2026). Harian Jogja/Yosef Leon
Harianjogja.com, BANTUL— Dinas Kesehatan Bantul menduga jalur makanan siap saji dan bahan mentah di SPPG Patalan 2 menjadi salah satu pemicu keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami puluhan siswa di Kapanewon Jetis. Dugaan sementara muncul setelah penyelidikan epidemiologi menemukan jalur makanan matang dan mentah masih menggunakan jalur yang sama sehingga berpotensi menyebabkan kontaminasi bakteri.
Keracunan MBG tersebut terjadi pada Jumat (4/9/2026) setelah para penerima manfaat menyantap makanan yang didistribusikan ke sejumlah sekolah. Empat sekolah yang terdampak yakni SDN 1 Sumberagung, SD Patalan Baru, SD Sawahan, dan SD Kembangsongo.
Jalur makanan matang dan mentah masih sama
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto, menjelaskan SPPG yang memasok MBG ke sekolah-sekolah tersebut sebenarnya telah melengkapi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan memenuhi syarat Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL).
Namun, hasil pengamatan dalam penyelidikan epidemiologi menunjukkan masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki dalam proses penyelenggaraan makanan di SPPG Patalan 2.
"Namun dalam perjalanannya ada yang harus diperbaiki yakni jalur makanan matang dan mentah itu masih sama. Itu kan risiko menimbulkan kontaminasi silang," katanya, Kamis (10/9/2026).
Menurut Samsu, jalur untuk makanan matang dan bahan mentah semestinya dipisahkan dengan jarak tertentu. Pemisahan tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko terjadinya masalah dalam proses pengolahan makanan.
Risiko itu dinilai semakin signifikan ketika makanan diproduksi dalam jumlah cukup banyak dalam satu waktu. Jika seluruh proses berlangsung pada satu jalur, kemungkinan makanan terkontaminasi bakteri menjadi lebih besar.
"Jalur itu memang wajib dipisahkan," ungkapnya.
Sampel makanan menunggu hasil laboratorium
Selain melakukan penyelidikan epidemiologi, Dinkes Bantul telah mengambil sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian keracunan MBG tersebut.
Saat kejadian berlangsung, petugas langsung menginstruksikan agar sampel makanan diamankan dalam suhu dingin. Langkah tersebut dilakukan agar kondisi sampel tetap mendukung pemeriksaan sehingga hasil pengujian laboratorium dapat lebih signifikan.
"Sampelnya sudah kami kirim Senin lalu dan hasilnya kemungkinan dua minggu lagi keluar," jelasnya.
Dengan demikian, dugaan jalur makanan matang dan mentah sebagai sumber risiko kontaminasi masih merupakan hasil pengamatan sementara. Kepastian mengenai penyebab keracunan tetap menunggu hasil pemeriksaan sampel di laboratorium.
Seluruh proses MBG di SPPG Patalan 2 dievaluasi
Kepala KPPG Sleman Harsono Budi Waluyo sebelumnya mengatakan penyebab gangguan kesehatan yang dialami penerima manfaat hingga saat ini masih dalam proses pemeriksaan.
Pengambilan sampel makanan telah dilakukan oleh pihak terkait sebagai bagian dari investigasi untuk mengetahui penyebab kejadian secara objektif.
Evaluasi juga dilakukan terhadap seluruh rangkaian penyelenggaraan MBG di SPPG Patalan 2. Pemeriksaan mencakup penerimaan dan penyimpanan bahan baku, proses persiapan, pengolahan, pemorsian, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
"Evaluasi juga diarahkan pada penerapan higiene sanitasi, pengendalian mutu, keamanan pangan, serta kepatuhan terhadap SOP pada setiap tahapan produksi dan distribusi," katanya.
Hasil evaluasi dan pemeriksaan sampel nantinya menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan yang dialami puluhan penerima manfaat MBG di empat sekolah di Kapanewon Jetis tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Omzet pedagang pasar rakyat Bantul turun sekitar 30%. Belanja daring, sayur keliling, toko jejaring hingga SPPG jadi faktor penyebab.
Menteri LH Jumhur Hidayat menegaskan pasar karbon Indonesia harus berbasis aksi iklim nyata, bukti kredibel, dan tata kelola berintegritas.
DPRD DIY meminta SPPG penyebab keracunan MBG ditutup permanen. Sebanyak 14 SPPG di DIY kini mendapat sanksi suspend.
Wapres Gibran mendorong inovasi mahasiswa ITB terus dikembangkan agar berdampak lebih luas dan terhubung dengan kebutuhan industri.
Pakar Vulkanologi UGM Prof. Agung Harijoko menjelaskan enam gunung api aktif bersamaan merupakan fenomena alami dalam proses geologi.
Malone Lam, pemuda Singapura 22 tahun, mengaku bersalah dalam kasus pencurian kripto US$245 juta dan menjalani gaya hidup mewah.