Pasar Rakyat Bantul Makin Sepi, Omzet Pedagang Turun 30%

Yosef Leon
Yosef Leon Jum'at, 04 September 2026 16:07 WIB
Pasar Rakyat Bantul Makin Sepi, Omzet Pedagang Turun 30%

Pasar Niten./Harian Jogja

Harianjogja.com, BANTUL—Omzet pedagang di sejumlah pasar rakyat Kabupaten Bantul mengalami penurunan hingga sekitar 30%. Kondisi tersebut terjadi seiring semakin sepinya pembeli yang datang ke pasar rakyat dan perubahan pola belanja masyarakat.

Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Bantul mencatat penurunan omzet tersebut. Kepala Bidang Sarana dan Perdagangan DKUKMPP Bantul, Zona Paramitha, mengatakan perubahan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi pasar.

"Ya omset pedagang di pasar rakyat saat ini menurun sekitar 30 persen akibat sepinya pembeli," kata Zona Jumat (4/9/2026).

Belanja Daring Makin Diminati

Menurut Zona, semakin maraknya transaksi jual beli secara daring menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya pembeli di pasar rakyat. Masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan untuk mendapatkan berbagai kebutuhan, termasuk kebutuhan sehari-hari, tanpa perlu mendatangi pasar.

"Belanja secara daring sekarang semakin disenangi masyarakat. Harga barang atau kebutuhan sehari-hari juga tidak beda jauh dari harga yang dijual pedagang di pasar rakyat. Tinggal ditunggu di rumah, barang datang dan bayar, selesai," ujarnya.

Kemudahan tersebut membuat aktivitas belanja dapat dilakukan dari rumah. Kondisi itu turut berpengaruh terhadap jumlah masyarakat yang datang langsung ke pasar rakyat.

Pedagang Sayur Keliling Masuk Permukiman

Selain transaksi daring, Zona menyebut menjamurnya pedagang sayur keliling ikut memengaruhi omzet pedagang pasar rakyat Bantul. Mereka menawarkan kebutuhan rumah tangga secara langsung ke permukiman warga.

Pedagang sayur keliling umumnya membawa barang dagangan yang cukup lengkap. Bahkan, masyarakat dapat memesan barang sesuai kebutuhan tanpa harus pergi ke pasar.

"Ndak perlu repot ke pasar. Pedagang sayur atau kebutuhan lain langsung mendatangi rumah, bahkan bisa memesan barang yang diinginkan," katanya.

Jumlah pedagang sayur keliling saat ini dinilai cukup banyak. Sebagian di antaranya mengambil barang dagangan dari luar Bantul sehingga tidak seluruh perputaran uang dari aktivitas tersebut masuk ke pasar rakyat Bantul.

"Pedagang sayur keliling ini kalau mengambil dagangan dari luar Bantul dan kebanyakan bukan asli orang Bantul," tuturnya.

Toko Jejaring Ikut Memengaruhi

Faktor lain yang disebut turut memengaruhi minat masyarakat berbelanja di pasar rakyat adalah semakin banyaknya toko berjejaring nasional. Keberadaan toko kelontong yang menjamur hingga masuk ke wilayah kampung juga menjadi bagian dari perubahan pilihan tempat berbelanja masyarakat.

"Ya toko jejaring yang semakin marak ini juga menyumbang keengganan masyarakat untuk belanja ke pasar rakyat," ujarnya.

Selain perubahan pilihan tempat belanja, Zona menyoroti keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengolah menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, kebutuhan bahan pangan untuk program tersebut belum banyak dibeli dari pedagang pasar rakyat.

"Jika saja SPPG membeli kebutuhan untuk MBG di pasar rakyat, dipastikan omset pedagang naik," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online